Selasa, 23 Mei 2017

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 8)

 Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran

Demikian juga ketika Kalasrenggi menendangnya, dia dalam meneiungkup pura-pura pingsan masih sempat melihat gerakan kaki orang itu dan bersiap menjaga diri sehingga waktu ditendang tubuhnya hanya terasa pegal-pegal sedikit! Dan apa yang telah dibicarakan kedua orang itu dapat didengarnya dengan jelas. Orang ini duduk bergelung lutut dan berpikir-pikir. Siapakah gerangan kedua orang tadi? Siapa yang dipanggil dengan sebutan “raden” dan siapa yang satu lagi?

Mengapa mereka bicara di tempat terpencil dan di malam hari berudara buruk seperti ini? Dan tugas yang diberikan oleh orang yang dipangglkan “raden” itu? Siapakah Rara Murni? Apakah keduanya bukan gerombolan-gerombolan rampok pengacau? Yang hendak menculik Rara Mumi kemudian melakukan pemerasan terhadap orang tua gadis itu? Orang itu usut-usut dagunya. Banyak yang tak dimengertinya atas apa yang telah dialaminya tadi. Tapi esok bila hari sudah siang dia bisa mencari keterangan di Kotaraja.

Sejak pagi sampai saat itu sudah beberapa jam dia mengelilingi Kotaraja. Berbagai tempat dan pelosok didatanginya. Namun tampang-tampang manusia yang dua orang yang ditemuinya malam tadi tak berhasil dicarinya. Akhimya masuklah dia ke dalam sebuah kedai. Memang saat itu tenggorokannya sudah seperti terbakar oleh rasa haus dan perutnya perih keroncongan. Sambil makan dia terus juga berpikir-pikir. Rasanya tak mungkin kedua orang yang semalam itu gerombolan-gerombolan rampok.

Seorang rampok tak akan dipanggil “raden”. Pasti yang dipanggil “raden” itu seorang bangsawan kaya. Lalu kenapa bangsawan kaya mau menculik gadis orang? Mungkin pernah melamar tapi tak diterima? Dia menyudahi makanannya. Ketika dia memandang berkeliling ternyata kedai itu sudah penuh dengan tamu-tamu yang makan siang. Dengan perut kenyang dia kemudian melangkah mendekati pemilik kedai. Ditanyakannya berapa jumlah yang harus dibayarkannya lalu diberikannya sejumiah uang.

“lni kembalinya, Nak,” kata orang kedai. Dia sudah tua. Rambutnya sudah putih semua.

“Ah, tak usah. Ambil saja…” kata pemuda. Si orang tua jadi keheranan. Demikian juga beberapa orang yang duduk di dekat sana. Pemuda yang berambut gondrong, berpakaian lusuh serta bertampang keren tapi macam anakanak itu berlagak seperti seorang kaya raya yang punya banyak uang, sok tak mau terima uang kembalian! Tapi perhatian orang hanya sebentar tertuju kepada si pemuda. Masing-masing kemudian sibuk mengurusi mulut dan perutnya sendiri.

Si pemuda mendekati pemilik kedai dan berkata pelahan: “Uang yang kulebihkan itu untuk membayar beberapa keterangan darimu, Bapak,” katanya.

“Keterangan?” Si orang tua kerenyitkan kening.

“Keterangan apa…?”

“Bapak sudah lama tinggal di Kotaraja ini?”

“Dari masih orok sampai punya buyut!” jawab pemilik kedai pula. Hatinya masih bertanya-tanya dan heran.

“Kenapa anak tanya begitu?”

“Oh tak apa-apa… Mungkin bapak kenal dengan seorang perempuan bernama Rara Murni?” Pertanyaan ini membuat si orang tua lebih heran.

“Semua orang di Pakuan ini tahu siapa Rara Murni,” katanya.

“Oh pantas... pantas… Rara Murni yang kau tanyakan itu adalah adik Sang Prabu Kamandaka!”

Tentu saja si pemuda mendengar ini jadi kaget sekali. Siapa sangka kalau Rara Murni adik dari raja Pajajaran?! Namun dengan pandainya dia menyembunyikan kekagetannya itu. Kemudian terdengar suara orang kedai bertanya.

“Anak muda, ada maksud apakah kau bertanyakan adik Sang Prabu itu…?”

“Oh tidak apa-apa. Tidak apa-apa…”

“Kalau kau bermaksud buruk ketahuilah bahwa di Kotaraja ini banyak sekali hulubalanghulubalang Sang Prabu yang bertelinga tajam!” Si pemuda sunggingkan senyum.

“Kau terlalu bercuriga terhadapku, orang tua. Aku hanya seorang pemuda desa yang mendengar kabar disampaikan dari mulut ke mulut bahwa Rara Murni adalah seorang yang cantik jelita. Biasa bukan laki-laki tanya perempuan…?” Pemuda ini kemudian tertawa geli. Namun tawa gelinya itu diputuskan oleh suara bentakan dari arah pintu.

“Manusia yang berani bicara seenaknya tentang adik Sang Prabu coba putar tubuh! Aku mau lihat tampangnya!” Suara itu keras dan garang. Si pemuda melihat bagaimana orang tua di hadapannya menjadi gemetar ketakutan.

“Aku sudah bilang apa… aku sudah bilang apa…” katanya berulang kali. Pemuda itu dengan perlahan memutar tubuh. Di pintu dilihatnya berdiri seorang prajurit berhadapan tegap bersenjata tombak.

“Bagus! Tampangmu memang mirip kunyuk. Jadi cukup pantas untuk pengisi kerangkeng istana!” Prajurit ini melambaikan tangannya. Dua orang prajurit lagi muncul di ambang pintu.

“Tangkap pemuda rambut gondrong itu! Dia telah menghina adik Sang Prabu!” Dengan tombak terhunus kedua prajurit itu melangkah ke hadapan pemuda rambut gondrong.

“Sebentar saudara… sebentar!” kata si pemuda sambil pentangkan kedua telapak tangannya ke muka. Selarik sinar halus berhembus ke arah jalan darah kedua prajurit itu.

Dan semua mata dalam kedai yang tak tahu menahu ha1 itu hanya menyaksikan bahwa kedua prajurit itu hentikan langkah karena memenuhi permintaan si pemuda. Padahal dua prajurit itu sudah kena ditotok dari jarak jauh dan berdiri kaku tak bisa bergerak tak bisa bicara!

“Sebentar, aku mau bicara dulu!” kata pemuda rambut gondrong kini pada prajurit yang di pintu.

“Bicara apa?! Lekas? Katakan!” Seekor lalat terbang dan hinggap di lengan kiri si rambut gondrong.

“Ah lalat ini! Mengganggu aku yang hendak bicara!” kata si rambut gondrong. Dengan jari-jari tangan kanannya disentilnya lalat itu. Namun tujuan sebenarnya bukan binatang itu. Sang lalat memang terpental mati dengan tubuh hancur tapi angin sentilan terus menotok jalan darah prajurit yang berdiri di pintu kedai.

Orang-orang tetap melihat dia berdiri sebagaimana biasa tapi sesungguhnya tubuhnya sudah kaku tegang! Si rambut gondrong datang ke hadapannya, pura-pura membisikkan sesuatu lalu menepuk bahu prajurit itu dan berlalu. Orang-orang mulai menjadi heran. Dan beberapa ketika saja sesudah pemuda aneh tadi lenyap tiba-tiba:

“Bluk… bluk… bluk…!”

Ketiga prajurit itu rebah ke tanah susul menyusul! Begitu mencium lantai begitu mereka kembali sadarkan diri! Kedai itu menjadi hiruk pikuk. Tiga prajurit dengan rasa malu, geram dan amarah meluap memburu ke luar kedai tapi si rambut gondrong sudah lama lenyap! Tiga prajurit ini tiada lain adalah anak buah Kalasrenggi.

Sewaktu pemuda rambut gondrong mengeliling Kotaraja mencari dua manusia yang ditemuinya malam tadi di teratak tua di luar tembok kerajaan maka tanpa setahunya sepasang mata telah menguntitnya. Yang menguntit tiada lain dari Kalasrenggi yang saat itu tengah bersiap-siap untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Werku Alit. Ketika si rambut gondrong masuk kedai maka dikirimnya tiga orang prajurit ke sana. Diperintahkannya untuk menangkap pemuda itu dengan alasan yang dibuat-buat. Bila sudah ditangkap, maka pengusutan lebih lanjut siapa adanya pemuda ini akan dilakukan Kalasrenggi sesudahnya dia selesai melakukan tugas dari Werku Alit.

Ketika mereka masuk dengan diam-diam mereka telah mencuri dengar apa yang dipercakapkan si rambut gondrong dengan orang kedai. lni mereka jadikan alasan untuk menalngkap pemuda itu. Namun karena tiga prajurit ini hanyalah mengandalkan tenagatenaga lahir yang kasar, tak mempunyai ilmu dalam maka dengan mudah si rambut gondrong “mempermainkannya!”

~ 10 ~

“Kalau Rara Murni adalah adiknya Raja Pajajaran…” kata pemuda itu sambil terus juga menyusuri jalan di bawah panas teriknya matahari musim kemarau,
“Pasti peristiwa penculikannya mempunyai latar belakang yang besar dan buntut panjang!” Dia menengadah ke langit.

“Ah, cepat benar bergesernya matahari….” katanya lagi. Dan ketika dia berpapasan dengan seorang penjual sayur mayur maka bertanyalah dia, “Bapak, manakah jalan yang menuju ke lembah Limanaluk?” Penjual sayur mayur itu menyeka peluh di keningnya terlebih dahulu. Diputarnya badannya sedikit dan dia menunjuk ke ujung jalan.

“Ikuti saja terus jalan ini, jangan mengkol. Limanaluk sekira setengah hari perjalanan dari sini.” Pemuda yang bertanya mengucapkan terima kasih lalu metanjutkan perjalanannya kembali…. Kereta itu bagus dan mungil potongannya. Dua ekor kuda coklat yang menariknya berlari kencang. Empat prajurit terpercaya mengawal kereta ini. Dua orang di depan, dua lainnya di belakang. Debu menggebubu sepanjang jalan yang mereka lalui.

Setelah dua jam perjalanan meninggalkan Kotapraja jalan yang ditempuh mulai banyak lobang-lobang dan batu-batunya. Kusir memperlambat jalan kereta terutama ketika melewati satu pengkolan tajam. Selewatnya sebuah penurunan jalan yang mereka lalui baik kembali dan menyusuri tepi sebuah kali kecil berair jernih. Prajurit di depan sebelah kanan melambaikan tangan memberi tanda berhenti. Ketika kereta itu berhenti maka tersibaklah tirai jendela dan sebuah kepala berparas jelita remaja munculkan diri ke luar.

“Ada apa berhenti?” Suara gadis ini bertanya begitu merdu.

Kepala pengawal menjura sedikit dan menjawab: “Kuda-kuda kita perlu diberi minum, Tuan Puteri…”

Rara Murni menutupkan tirai jendela kembali. Kusir turun dari kereta dan membawa kedua ekor kuda coklat ke tepi kali. Enam ekor binatang itu kemudian seperti berebutan memasukkan mulutnya ke datam air kali yang bening sejuk. Beberapa ketika berlalu maka rombongan bersiap-siap untuk melanjutkan kembati. Namun belum lagi kusir naik ke atas kereta empat orang penunggang kuda muncul di tempat itu. Badan tegap-tegap dan muka mereka tak dapat dikenali karena kepala masing-masing tertutup dengan kerudung kain hitam yang dilubangi di bagian matanya.

“Perjalanan kalian hanya sampai di sini!” kata penunggang kuda paling depan. Suaranya berat dan parau, disertai dengan tenaga dalam sehingga tak mungkin untuk mengenali suaranya yang asli. Empat pengawal kereta yang tahu bahwa manusia-manusia berkerudung kain hitam itu datang bukan dengan membawa maksud baik segera cabut pedang! Melihat ini orang yang tadi bicara tertawa mengekeh.

“Kalian kunyuk-kunyuk Pajajaran kalau masih ingin selamatkan batang leher segeralah tinggalkan tempat ini!”

“Bangsat rendah! Berani menghina prajurit kerajaan! Terima pedangku!” bentak kepala pengawal. Dia melompat ke muka dan pedangnya berkelebat, berkilauan ditimpa sinar matahari! Manusia berkerudung sentakkan tali kekang kuda dan miringkan badan. Berbarengan dengan itu kaki kanannya meluncur dengan sangat cepat. Kepala pengawal kereta terpekik. Pedangnya lepas dan mental sedang sambungan sikunya yang dimakan tendangan tanggal dari persendian! Dia mengeluh kesakitan, terbungkuk-bungkuk sambil memegangi sambungan sikunya yang copot!

Tiga pengawal yang lain tanpa banyak bicara segera menyerbu dan disambuti oleh tiga laki-laki lainnya yang memakai kerudung. Setelah terlibat dalam dua jurus pertempuran maka terdesaklah ketiga pengawal kereta. Sementara itu di dalam kereta, mendengar suara ribut-ribut dan disusul dengan suara beradunya senjata dengan hati cemas Rara Mumi singkapkan tirai jendela. Dia terkejut sekali melihat ada sesosok tubuh berkerudung melangkah mendekati kereta. dan mengulurkan tangan untuk membuka pintu kereta!

“Rara Murni… kau tak usah cemas! Apa yang terjadi di,sini hanya pertunjukan biasa saja. Silahkan turun…!”

“Kalian siapa…?!”

“Siapa kami itu tidak penting. Turunlah…”

“Rampok-rampok biadab! Kalau kalian tahu siapa aku segeralah tinggalkan tempat ini sebelum pasukan kerajaan datang menumpas kalian!” Laki-laki berkerudung tertawa bergelak. Dibukanya pintu kereta dan diulurkannya tangan kanan untuk menarik Rara Murni keluar dari kereta. Kusir kereta yang sejak tadi seperti terpukau melihat pertempuran yang berkecamuk di depan matanya, ketika mengetahui bahwa Rara Murni hendak diperlakukan secara kasar segera mengambil cambuk kereta dan menderu punggung laki-laki berkerudung.

“Rampok laknat! Berani mengganggu adik Sang Prabu!” Dan cambuk itu mendera lagi beberapa kali. Laki-laki berkerudung memutar tubuh. Sekali dia gerakkan tangan maka berhasillah dia merampas cambuk itu. Dan kini cambuk itu dipakainya untuk melecuti muka kusir kereta. Kusir ini menjerit-jerit. Kemudian dengan kalap mencabut golok pendeknya dan menyerang si muka berkerudung. Namun hanya dengan mengelak dan sekali tendang saja maka kusir kereta itu terpelanting ke tebing kali, masuk ke dalam kali.

Tubuhnya segera hanyut terbawa air, tenggelam timbul karena sebelum jatuh ke dalam kali tendangan laki-laki berkerudung telah membuatnya pingsan terlebih dulu! Pertempuran antara tiga prajurit pengawal dan tiga laki-laki berkerudung lainnya tak berjalan lama. Ketiga pengawal itu menggeletak di tanah bermandikan darah.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 9)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.