Selasa, 23 Mei 2017

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 7)

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran

Yang terakhir seorang laki-laki berbadan gemuk pendek, berkepala sulah. Sinar lampu dalam kemah membuat kepalanya itu berkilat seperti bersinar-sinar. Manusia ini bernama Lanabelong, Adipati Kendil. Di atas meja, di hadapan keempatnya terletak masing-masing segelas tuak murni dan harum. Ketiga Adipati itu telah kena dihasut oleh Mahesa Birawa dan Werku Alit untuk memberontak terhadap Pajajaran dan kepada mereka dijanjikan kedudukan sebagai Menteri kerajaan bila pemberontakan mereka berhasil kelak.

“Silahkan diteguk tuaknya, saudara-saudara Adipati,” kata Mahesa Birawa pula sesudah keheningan mengungkungi kemah itu beberapa lamanya. Masing-masing kemudian meneguk tuak yang enak itu. Di malam yang dingin minum tuak memang enak menghangatkan tubuh.

Jakaluwing raba cambang bawuknya. Lalu bertanya: “Kapan kira-kira saatnya kita akan menggempur Pajajaran, adimas Mahesa Birawa?”

“Soal penggempuran itu kangmas Jakaluwing, sebenarnya saat ini pun kita sudah sanggup melakukannya. Jumlah prajurit cukup, tenaga pimpinan rata-rata sudah berpengalaman dan dapat diandalkan. Cuma kita tak enak kalau meninggalkan saudara-saudara Warok Gluduk dan Tapak Ireng. Kedua Adipati itu telah berjanji akan bergabung dengan kita bersama beberapa ratus prajurit-prajurit mereka. Ada baiknya jika kita tunggu kedatangan mereka. Sesudah itu baru kita hubungi Raden Werku Alit untuk menentukan kapan saat yang baik untuk penyerangan…” Adipati Jakaluwing manggut-manggut.

“Begitu memang bagus,” kata Lanabelong. Adipati berkepala sulah. Lalu diteguknya tuaknya.

“Di samping itu, mengingat bahwa di Pajajaran tentunya terdapat tokoh-tokoh pelindung yang berilmu tinggi maka kita musti tidak pula menyia-nyiakan bantuan yang hendak diberikan oleh Begawan Sitaraga yang diam di puncak Gunung Halimun!”

“Ah, hebat sekali kalau Begawan yang tersohor ini ikut di pihak kita!” kata Surablabak sambil pukul meja.

“Sebenarnya,” kata Mahesa Birawarpula.

“Begawan Sitaraga ini mempunyai dendam kesumat yang masih belum terbalaskan terhadap toa Pajajaran yaitu kakek dari Kamandaka…”

“Kalau Begawan ini setingkat umurnya dengan kakek Kamandaka, tentu kini kira-kira sudah seratusan usianya…” kata Lanabelong.

“Kira-kira begitutah,” sahut Mahesa Birawa. Kemudian laki-laki ini berseru memanggil pelayan untuk menyuruh tambah tuak di keempat gelas itu. Sesudah pelayan pergi Mahesa Birawa buka mulut kembali.

“Besok aku akan kirimkan dua orang kurir ke Pajajaran untuk menemui Raden Werku Alit. Kuminta kepadanya untuk menyebar mata-mata lebih banyak, terutama di dalam istana guna mengetahui perkembangan terakhir, terutama mencari kabar selentingan apakah gerakan kita ini bocor atau tidak…”

“Dan jangan lupa pula untuk meneliti pertahanan Pajajaran di mana yang lemah,” kata Lanabelong. Mahesa Birawa mengangguk.

“Saudara-saudara Adipati, agaknya pertemuan kita malam ini cukup. Sampai besok pagi.” Keempat orang itu saling menjura kemudian satu demi satu meninggalkan kemah besar khusus untuk tempat perundingan, menuju ke kemah masing-masing.

~ 8 ~  

Laki-laki itu berjalan di liku-liku lorong bagian belakang istana dengan menundukkan kepala. Sekali-sekali dilewatinya para pengawal. Pengawal-pengawal istana tidak menegur atau menahan laki-laki ini karena semuanya tahu bahwa laki-laki itu adalah Udayana, pembantu Prabu Kamandaka. Segala urusan rumah tangga sang Prabu dialah yang mengurusnya.

Di pintu besar gedung istana sebelah belakang laki-laki ini berhenti sebentar lalu menyeberangi halaman kecil dan masuk ke pintu sebuah bangunan kecil yang bagus bentuknya. Justru di sini dua orang pengawal memalangkan tombak menghentikannya.

“Aku mau ketemu Raden Werku Alit,” kata Udayana.

“Ada keperluan apa?” tanya salah seorang pengawal.

“Beliau sudah tahu.”

“Tunggu di sini,” Pengawal itu masuk yang seorang tetap di tempatnya. Tak lama kemudian pengawal yang masuk muncul kembali.

“Kau dipersilahkan menghadap.” katanya memberi tahu. Udayana mengangguk dan memasuki pintu gedung. Di dalam sebuah kamar yang luas, Werku Alit menyambut kedatangannya. Ditepuk-tepuknya bahu Udayana.

“Bagaimana? Ada perkembangan baru…?” Werku Alit berbadan tinggi langsing dan memelihara kumis panjang menjulai seperti tali, seperti raja-raja Tiongkok!

“Perkembangan baru belum ada Raden… Cuma ada satu berita. Mungkin sedikit banyak nya ada perlunya juga saya sampaikan kepada Raden…”

“Bagus, katakanlah Udayana…”

“Rara Murni adik Kamandaka siang besok akan berangkat ke Kalijaga untuk menyambangi adik neneknya. Dia akan pergi dengan kereta dan dikawal secukupnya…”

“Hem…” Werku Alit menggumam dan mengusut-usut kumis talinya.

“Aku belum melihat adanya hubungan keteranganmu ini dengan rencanaku. Tapi tunggu sebentar, coba kupikir….” Tangan yang tadi mengusut kumis ini memijit-mijit kening. Dan tangan itu tibatiba menepuk bahu Udayana sampai laki-laki ini terkejut.

“Aku telah melihat kegunaan keteranganmu ini Udayana. Suruh seorang mata-mata kita menghubungi Kalasrenggi. Katakan bahwa aku akan bicara dengan dia malam ini di pondok tua di luar tembok kerajaan.” Udaya menjura.

“Perintah Raden akan saya jalankan,” katanya lalu cepat-cepat meninggalkan kamar itu.

***

Seluruh balatentara kerajaan Pajajaran dibagi atas lima kelompok pasukan dan tiap-tiap pasukan dibagi dua masing-masing bagian dikepalai oleh seorang yang disebut kepala prajurit, Kalasrenggi adalah salah seorang dari kepala pasukan balatentara Pajajaran. Sebagai kepala pasukan tentu saja dia memiliki ilmu dan pengalaman yang dapat diandalkan. Dan memang banyak orang yang mengatakan bahwa diantara lima kepala pasukan Pajajaran maka Kalasrenggi adalah yang paling tinggi ilmunya.

Tapi sayang kepala pasukan ini, telah pula terseret ke dalam rencana busuk Werku Alit dan Mahesa Birawa. Telah kena bujuk dan dihasut untuk memberontak dan menggulingkan pemerintahan Prabu Kamandaka! Siang tadi seorang suruhan Raden Werku Alit telah menemui Kalasrenggi dan menyampaikan pesan bahwa Werku Alit akan bicara dengan dia malam ini di pondok tua di luar tembok kerajaan.

Maka malamnya dengan seorang diri berangkatlah Kalasrenggi ke ternpat yang ditentukan itu. Dia sampai ke pondok tua itu. Sebenarnya tak pantas disebut pondok karena sama sekali bangunan tua itu tiada mempunyai dinding dan atapnya pun sudah sebagian melompong dimakan umur. Pondok atau lebih tepat teratak itu sunyi saja. Tak seorang pun kelihatan di sana. Kalasrenggi berpikir tentu Raden Werku Alit belum sampai ke sana, maka dia pun menunggulah.

Dinyalakannya sebatang rokok. Dia memandang ke angkasa. Langit kelihatan mendung. Bintang-bintang mulai tertutup awan. Bulan menghilang dan angin bertambah besar serta dingin. Dia tak sabaran menunggu. Rokok yang dihisapnya sudah hampir habis. Berbarengan ketika rokok itu dibuangnya ke tanah maka dipengkolan muncul tiga sosok bayangan. Dua dari sosok bayangan itu berhenti sedang yang satu terus melangkah ke arah teratak itu.

“Sudah lama kau…?” bertanya orang yang datang ini yang tak lain dari Werku Alit adanya.

“Sudah juga,” sahut Kalasrenggi.

“Raden mau bicara apa dengan saya?” Sementara itu hujan rintik-rintik mulai turun. Angin tambah kencang.

“Ada tugas buatmu besok Kalasrenggi,” kata Werku Alit.

“Tugas apakah, Raden?” Hujan rintik-rintik berubah menjadi lebat. Guruh menggelegar. Kilat menyambar. Sesosok bayangan putih dibawah penerangan kilat yang hanya sedetik saja terangnya, kelihatan berlari sangat cepat menuju teratak tua itu. Werku Alit dan Kalasrenggi terkejut sekali dan tangan-tangan mereka segera meraba hulu senjata di pinggang masing-masing!

“Hujan sialan!” Terdengar orang yang baru datang ini merutuk. Kemudian dia berpaling pada Werku Alit dan Kalasrenggi dan berkata: “Saudara-saudara, aku numpang mondok samasama kalian.”

Werku Alit dan Kalasrenggi memandang tajam pada laki-laki yang baru datang ini. Dia masih muda, berbadan kekar dan berambut gondrong. Kedatangannya mau tidak mau mencurigakan kedua orang itu meski ada alasan bahwa dia datang ke sana untuk berteduh karena hari hujan lebat.

“Kau siapa?!” tanya Kalasrenggi membentak garang. Pandangannya buas sekali. Tangan kirinya menyelinap ke pinggang. Laki-laki muda yang dibentak memandang dengan keheran-heranan.

“Memangnya apa aku tidak boleh mondok di sini, Saudara?!”

“Aku tanya kau siapa dan jangan banyak tanya!” hardik Kalasrenggi. Pemuda itu bersiul dan menyeringai.

“Tak usahlah bicara pakai membentak segala. Urusan kecil kalau dipersoalkan dengan kasar bisa menimbulkan gara-gara yang tidak diingini!” Kalasrenggi dengan tidak sabar melangkah ke hadapan pemuda itu dan hendak menempelaknya. Tapi langkahnya dihentfkan ketika dalam kegelapan dan masih sempat rnelihat isyarat yang diberikan oleh Werku Alit. Werku Alit tak ingin terjadi keributan yang buntutbuntutnya bisa membocorkan rencana besamya. Karena itu dengan terancam dia melangkah mendekati pemuda itu.

“Saudara,” kata Werku Alit sambil memegang bahu si pemuda.

“Harap maafkan. Kawanku memang lagi kasar berangasan habis kalah judi! Sudahlah, tak ada yang harus kita ributkan di malam buta begini, mana hujan, mana dingin. Bukankah begitu…?”

“Ah… tepat sekali saudara…” jawab si pemuda. Werku Alit tersenyum. Tiba-tiba laksana kilat cepatnya, dua jari tangan kirinya menusuk ke muka menghantam urat besar di bagian kiri tubuh si pemuda. Tak ampun lagi pemuda itu rebah ke tanah. Sebagian kakinya terjulur lewat atap dan segera diguyur oleh air hujan! Werku Alit tertawa mengekeh.

“Pemuda konyol mau banyak tingkah!”

“Tapi siapa tahu dia bukan pemuda biasa. Raden. Mungkin mata-mata…”

“Ah, tampangnya saja geblek, dogol, bagaimana bisa jadi mata-mata? Buktinya sekali totok saja sudah rubuh!” Kalasrenggi memandang sosok tubuh yang menggeletak menelungkup itu. Dia bermaksud untuk menggeledah pemuda itu namun didengarnya Werku Alit berkata:

“Sudah, tak perlu perdulikan kunyuk itu! Mad kita muiai pembicaraan. Menurut keterangan pembantu rahasiaku, besok siang Rara Murni akan berangkat dengan kereta ke Kalijaga. Tugasmu culik gadis itu, sekap di kuil tua di lembah Limanaluk. Bila sudah beri laporan sama aku biar aku tentukan langkah selanjutnya!”

“Itu tugas mudah, Raden,” kata Kalasrenggi.

“Tapi saya ingin tahu siapa-siapa saja yang ikut dengan Rara Murni…?”

“Aku tak mendapat keterangan tentang hal itu. Yang penting kau harus tangkap Rara Murni hidup-hidup. Yang lainnya kalau melawan bereskan saja, habis perkara!”

“Baiklah Raden. Sebelum malam tiba besok, saya akan mengirimkan seseorang untuk memberitahukan bahwa tugas sudah selesai….” Werku Alit menepuk bahu kepala pasukan itu.

“Nah, aku pergi sekarang!” Kalasrenggi memperhatikan sampai ketiga orang itu lenyap di kejauhan dalam kegelapan malam. Kemudian laki-laki ini memutar tubuh dan kembali matanya memandangi manusia yang menelungkup di bawah teratak itu. Dia membungkuk hendak menggeledah, meneruskan niatnya yang tadi batal, tapi kemudian terpikir olehnya, perlu apa susah-susah dengan diri orang lain. Dengan seenaknya Kalasrenggi menendang tubuh laki-laki yang menggeletak itu sehingga tubuh itu terlontar sampai beberapa tombak! Kalasrenggi kemudian berlalu pula dari teratak tua itu.

~ 9 ~ 

Hanya beberapa ketika saja Kalasrenggi meninggalkan teratak tua itu maka orang yang tadi ditotok dan ditendang anehnya tiba-tiba berdiri dengan cepat. Dia melangkah kembali ke bawah teratak. Disekanya mukanya yang basah oleh air hujan dan berselomotan lumpur. Diperhatikannya pakaiannya, kotor semua. Ditepuk-tepuknya pinggul kirinya yang tadi bekas kena ditendang Kalasrenggi.

“Sialan betul! Sakit juga tendangan kunyuk itu!” makinya seorang diri.

“Di lain hari aku akan balas keramah tamahannya tadi!” Sesungguhnya sewaktu Werku Alit menotoknya tadi, orang ini sudah dapat menduga gerakan dan maksud Werku Alit. Sebelum totokan datang cepat-cepat bagian tubuh di samping kiri dialirkan dengan tenaga dalam. Kemudian ketika totokan Werku Alit mendarat di tubuhnya, taki-laki ini pura-pura jatuh tak sadarkan diri.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 8)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.