Selasa, 23 Mei 2017

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 6)

 Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran

Wiro Sableng melangkah ke belakang Anggini. Kasihan-kasihan lucu dia merasa saat itu. Akhirnya pemuda ini berkata juga: “Ini selendangmu. Kalau kau banyak berlatih pasti kau menjadi seorang gadis yang hebat…”

Wiro lantas menyampirkan selendang ungu itu di pundak si gadis. Ketika dia memandang ke langit dilihatnya bintang-bintang sudah bermunculan dan bulan sabit kelihatan samarsamar di balik awan.

“Sudah malam…” desis pemuda ini. Kemudian dia memandang pada gadis yang berdiri di depannya dengan membelakang itu.

“Pergilah cepat, saudari. Nanti kau kemalaman di jalan…”

Anggini gelengkan kepala.

“Guruku akan marah… akan marah kalau aku kembali…”

“Kalau begitu ya tak usah kembali saja…” ujar Wiro Sableng.

“Aku memang tak bakal kembali…” kata Anggini pula.

“Hem… dan kau mau pergi ke mana?”

“Apa urusanmu tanya-tanya?”

“Ah…” Wiro tertawa. Dia melangkah ke hadapan si gadis. Kemudian dipegangnya pundak Anggini. Si gadis dengan serta merta hendak menyibakkan tangan itu. Tapi tubuhnya sudah keburu dijalari perasaan aneh yang menggelora-gelora sampai ke lubuk hatinya. Tak kuasa dia menyibakkan pegangan tangan pada bahu itu.

“Saudari, dengarlah…” kata Wiro pula. Tangannya masih memegang bahu si gadis malahan meremas-remasnya dengan lembut.

“Dalam hubungan guru dan murid walau bagaimana pun kau musti kembali ke pertapaan. Kau tak boleh tempuh jalan sehdiri. Kalau kau tak kembali malah gurumu akan marah sekali. Kau pasti akan dihukumnya!”

“Tapi bagaimana aku mungkin bisa kembali? Tidak bisa saudara... kau tidak tahu…”

“Apa yang aku tidak tahu?” tanya Wiro.

Tak mungkin bagi Anggini untuk mengatakannya dengan terus terang. Namun terluncur juga ucapan dari mulutnya: “Kalau aku musti kembali kata guruku… aku harus bersamamu…”

Wiro tertawa. Suara tertawanya menggema di daerah sepi dingin di permulaan malam itu. “Saudari… namamu siapa?” bertanya Wiro Sableng.

Dan karena tadi gadis itu diam saja diremas bahunya maka tangan Wiro kini meluncur ke pipi, membelai pipi yang masih belum kering dengan air mata itu. Rasa yang menyentak-nyentak mendebarkan dada si gadis kini tambah keras dari tadi. Lagi-lagi tak kuasa dia menyibakkan tangan yang membelaibelai itu. Ditundukkannya kepalanya.

“Siapa namamu, saudari…?” tanya Wiro lagi.

“Anggini,” jawab si gadis perlahan.

“Nama bagus… nama bagus,” puji Pendekar 212 dan tangannya semakin berani membelai muka Anggini.

“Dengar Anggini, orang tua macam gurumu itu memang suka bicara ngelantur. Sekarang kau kembali saja ke pertapaannya dan katakan bahwa kau tak berhasil mengejar atau menemui aku. Habis perkara. Atau kalau tidak katakan saja kau telah menemuiku dalam keadaan tak bernyawa mati di jurang Sranggreng!”

“Aku tak bisa berdusta… kalau aku berdusta dia selalu mengetahuinya!” kata Anggini pula.

“Wah berabe kalau begini!” ujar Pendekar 212 dengan garuk-garuk kepala. Dia berpikir-pikir apa yang akan diperbuatnya. Kalau ditinggalkannya gadis itu sendirian di situ, tak tega pula hatinya. Pemuda ini hela nafas panjang. Akhirnya diajaknya gadis itu duduk di sebuah batu datar.

Daerah belantara di mana mereka berada saat itu serba asing baginya. Mungkin sampai ratusan tombak bahkan ribuan tombak perjalanan belum menemui rumah penduduk. Apakah dia dan gadis itu terpaksa tinggal terus di tempat itu malam ini? Angin bertiup dari celah-celah batu-batu yang meruncing memenuhi tempat itu.

“Dingin…?” bisik Pendekar 212. Anggini mengangguk. Dan tangan kiri Pendekar 212 bergerak di balik punggung si gadis untuk kemudian merangkul bahu Anggini. Suasana berubah hangat. Dan untuk beberapa lamanya mereka tiada bicara. Wiro memecah kesunyian.

“Kalau kau tak mau kembali ke pertapaan dan aku tak bisa pula meninggalkan kau sendirian maka kita terpaksa bermalam di sini. Tunggulah sebentar aku akan cari tempat yang baik…”

“Nanti sajalah…” kata Anggini. Diletakkannya tangan kanannya di paha Pendekar 212 dan dia memandang ke angkasa.

“Langit cerah,” kata Wiro.

“Kalau nanti turun hujan, memang. kita yang sialan…. !” Anggini tertawa. Manis sekali tertawa itu. Hati Pendekar 212 sejuk sekali jadinya. Dan diperketatnya rangkulannya. Kemudian dengan beraninya pendekar ini menggelitiki tengkuk si gadis dengan hidungnya.

“Jangan begitu ah…” kata Anggini menggeliat kegelian. Tapi tubuh dan tengkuknya tidak dijauhkannya. Malam itu Wiro Sableng sengaja tidak membuat, perapian. Dia khawatir kalau-kalau nyala api hanya akan mengundang datangnya hal-hal yang tidak diingini. Apalagi kalau yang datang itu adalah Dewa Tuak adanya. Meskipun dingin, meskipun mereka hanya terbaring di balik batu besar hitam itu dan beratapkan langit luas namun tubuh mereka yang berada berdekatan itu saling memberi kehangatan.

Pendekar 212 ingat pada suatu malam ketika dia berada berdua-duaan di sebuah dangau di tengah sawah dengan Nilamsuri. Malam ini tak ada bedanya dengan malam yang dulu itu. Sama-sama ada seorang gadis di sampingnya. Tapi terhadap Anggini, Pendekar 212 masih punya pikiran panjang dan sehat.

Meski saat itu Anggini sudah berbaring pasrahkan seluruh tubuhnya untuknya dan memang sudah hampir setiap bagian dari tubuh Anggini disentuh oteh Pendekar 212, namun untuk berbuat lebih jauh dari itu pemuda ini tidak mau. Tubuh perawan itu laksana bara hangatnya, tangannya menggapai punggung Wiro dan pahanya melejang-lejang halus. Tapi Pendekar 212 hanya merangkuli tubuh itu, hanya mengecupi bibirnya yang basah, hanya menciumi matanya yang sayu kuyu tapi menyembunyikan hasrat yang meluap itu.

***

Sinar matahari yang menyapu mukanya membuat gadis ini terbangun dari kenyenyakan tidurnya. Dibukanya kedua matanya dengan pelahan, digosoknya beberapa kali kemudian dipalingkannya kepalanya ke samping. Dia terkejut mendapatkan pemuda itu tak ada di sampingnya, la segera bangun duduk, lalu berdiri dan memandang ke belakang. Tapi pemuda itu tidak kelihatan.

“Wiro,” panggilnya. Tak ada yang menyahut.

“Wiro…!” panggilnya sekali lagi lebih keras. Hanya gaung suaranya yang menjawab. Tiba-tiba ketika matanya memandang ke batu besar di samping pembaringan di mana dia dan Wiro tidur semalam terbentur olehnya tulisan.

Maafkan kalau aku pergi tanpa pamit. Aku terpaksa meninggalkan kau. Kalau ada umur kita pasti bertemu lagi. Kembalilah ke tempat gurumu. Terima kasih untuk segala-galanya malam tadi.

Anggini merasakan dadanya menyesak. Digigit-gigitnya bibirnya. Nyatanya pemuda itu sudah pergi. Tubuhnya masih terasa hangat oleh pelukan Wiro malam tadi. Seperti masih terasa jari-jari tangan pemuda itu mengelusi kulit tubuhnya. Juga kecupan-kecupan yang disertai gigitan-gigitan kecil. Terima kasih untuk segala-galanya malam tadi Anggini membaca lagi tulisan itu. Termangu dia. Diputarnya tubuhnya, parasnya ke kemerahan, ditambah lagi sentuhan sinar matahari pagi.

Tak mungkin baginya untuk mengejar pemuda itu kembali. Dia tak tahu apakah Wiro pergi larut malam tadi atau dinihari, atau pagi tadi sebelum dia bangun. Gadis ini tarik nafas panjang dan dalam. Ketika dia membetulkan ikatan selendang ungunya yang di pinggang, maka pada ujung selendang itu dilihatnya sederetan angka: 212. Sekali lagi gadis ini tarik nafas dalam dan panjang. Lalu dengan langkah gontai ditinggalkannya tempat itu.

~ 7 ~ 

Kerajaan Pajajaran… Pada masa itu Kerajaan Pajajaran masih belum luas pengaruhnya di Jawa Barat. Bahkan dengan kesultanan Banten di pantai Utara masih terdapat hubungan baik, belum ada silang sengketa. Di bawah pemerintahan Prabu Kamandaka maka Kerajaan Pajajaran aman tenteram. Penduduk hidup berkecukupan.

Tapi di dunia ini selalu saja ada manusia yang berbusuk hati, yang iri dan dengki. Yang tidak senang dengan kebahagiaan orang lain, yang tidak suka dengan keberuntungan orang lain, yang tidak suka akan kekuasaan orang lain dan ingin meruntuhkan kekuasaan orang lain itu lalu ganti menguasainya! Saat itu satu-satunya manusia di seiuruh Pajajaran yang paling membenci Prabu Kamandaka ialah Werku Alit.

Dalam tambo keturunan raja-raja Pajajaran maka Prabu Purnawijaya adalah satu-satunya raja pajajaran yang tidak mempunyai keturunan kandung dari permaisurinya. Mungkin ini sudah menjadi takdir Dewa-dewa di Kahyangan, dan ini jugalah yang menjadi pangkal sebab buntut daripada terjadinya banjir darah di Pajajaran.

Ketika Prabu Purnawijaya mangkat maka tokoh-tokoh istana, ahli-ahli agama dan orang-orang tua kerajaan menyepakati untuk menobatkan Kamandaka, adik kandung Prabu Purnawijaya, menjadi raja Pajajaran. Kamandaka memang seorang yang bijaksana, pandai serta berilmu tinggi, disegani dan dihormati. Memang dia telah menunjukkan bakat untuk menjadi seorang pemimpin agung. Lagi pula memang tak ada manusia lain di Pajajaran saat itu yang punya hak dan pantas untuk dinobatkan sebagai pengganti mendiang Prabu Purnawijaya.

Dari seorang selirnya, Prabu Purnawijaya mempunyai seorang anak yang bernama Werku Alit. Werku Alit ini tua beberapa bulan dari Kamandaka. Ketika masih orok keduanya sama-sama disusukan pada seorang perempuan penyusu istana sehingga boleh dikatakan antara Werku Alit dan Kamandaka terjalin sudah satu pautan tali persaudaraan!

Namun ketika Kamandaka dinobatkan sebagai Prabu Pajajaran timbullah dengki di hati Werku Alit. Bukankah Kamandaka hanya adik Prabu Purnawijaya; bukan anak kandungnya? Dan bukankah dia sebagai anak dari Prabu Purnawijaya, lebih mempunyai hak untuk memegang tahta kerajaan? Werku Alit dalam dengkinya, apalagi sesudah kena hasutan oleh golongangdongan tertentu yang memang tidak suka pada Kamandaka, lupa bahwa dirinya hanyalah seorang anak yang dilahirkan dari selir Prabu Pumawijaya, yang sama sekali tidak punya hak untuk menjadi raja Pajajaran.

Demikianlah, secara diam-diam Werku Alit meninggalkan istana Pajajaran, mengembara menuntut ilmu dan menghubungi beberapa orang tertentu. Ketika dia kembali ke istana maka saat itu dia sudah menyusun suatu rencana besar. Yaitu untuk merebut takhta kerajaan dengan jalan kekerasan! Dengan pertempuran, dengan peperangan!

Dalam pengembaraan itulah Werku Alit bertemu dengan Suranyali atau Mahesa Birawa. Tahu bahwa Mahesa Birawa seorang manusia sakti luar biasa maka Werku Alit mengambilnya sebagai tangan kanan dengan perjanjian bila kerajaan berhasil digulingkan maka Mahesa Birawa akan dijadikan Perdana Menteri! Dalam menjadi tangan kanan membantu rencana busuk Werku Alit.

Mahesa Birawa mempunyai rencana sendiri, rencana dalam selimut. Jika kerajaan jatuh dan Werku Alit menang, maka Mahesa dan kawan-kawannya akan menyingkirkan Werku Alit untuk kemudian dia sendiri yang akan menampilkan diri menduduki tahta kerajaan Pajajaran.

***

Di hutan belantara di sekitar kaki Gunung Halimun kelihatan bertebaran ratusan buah kemah. Inilah pusat balatentara pemberontak yang hendak merebut tahta kerajaan Pajajaran di bawah pimpinan Werku Alit. Sementara Werku Alit kembali ke Pajajaran maka pimpinan dipegang langsung oleh tangan kanannya yaitu Mahesa Birawa. Di sini berhimpun sekitar seribu prajurit.

Kebanyakan dari pasukan-pasukan ini didapat Werku Alit dan Mahesa Birawa dari Adipati-adipati kecil yang bernaung di bawah Pajajaran tapi yang kena dipengaruhi dan dihasut oleh kedua orang itu. Bahkan saat itu Mahesa Birawa masih menunggu beberapa orang Adipati lagi yang telah dihubunginya. Jika Adipati-adipati ini datang dan menyerahkan beberapa ratus prajurit tambahan maka dapatlah diatur kapan dilaksanakan penyerangan terhadap Pajajaran.

Sementara waktu menunggu maka semua prajurit senantiasa dilatih perang-perangan. Para kepala-kepala pasukan diberi tambahan ilmu silat dan kesaktian yang lumayan oleh Mahesa Birawa sedang para Adipati yang saat itu sudah bergabung Mahesa Birawa menurunkan beberapa ilmu kesaktiannya. Mahesa merasa sangat menyesal sekali ketika mendapat kabar bahwa tiga orang anak buahnya yang; diam di Jatiwalu telah menemui ajal akibat bentrokan dengan anak-anak murid Perguruan Gua Sanggreng sedang Kalingundii hilang lenyap tak tentu rimbanya.

Kalau saja keempat manusia itu ada di sana tentu tak usah payah-payah dia menggembleng kepala-kepala pasukan dan Adipatiadipati itu. Tapi tak apa payah sedikit. Nanti dia akan memetik hasilnya sendiri! Di dalam kemah besar yang terletak di tengah-tengah ratusan kemah di kaki Gunung Halimun itu, mengelilingi sebuah meja bulat telur maka duduklah empat orang laki-laki.

Yang pertama tak lain dari Mahesa Birawa, kumis melintang dan badan semakin gemuk. Yang kedua Adipati Karangtretes yaitu Jakaluwing, bercambang bawuk lebat, potongan tubuhnya tegap kekar. Yang ketiga, yang duduk di samping kiri Mahesa Birawa ialah seorang berbadan tinggi kurus bermuka licin bernama Surablabak. Dia adalah Adipati Manganreja.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 7)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.