Selasa, 23 Mei 2017

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 5)

 Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran

Anggini, si gadis baju ungu, tak memberikan jawaban. Mukanya merah karena malu dan jengah. Wiro Sableng tertawa lagi dan berkata: “Mungkin ada mengandung suatu maksud tidak baik…”

“Saudara… a… aku…” Anggini gugup sekali. Apa yang harus dikatakannya pada pemuda itu?

“Apakah gurumu si Dewa Tuak itu juga ikut bersamamu saat ini?

“Barangkali juga kalian hendak menjebakku…?”

“Saudara dengarlah…” kata Anggini pula.

“Aku sebenarnya tidak mau dengan semuanya ini…”

“Semuanya ini apa…?” potong Wiro Sableng.

Anggini menggigit bibir.

“Gurumu bersamamu?”

“Tidak…”

“Gurumu yang menyuruh untuk menguntit aku?”

Gadis itu anggukkan kepala.

“Perlu apa gurumu menyuruh demikian?”

Kembali Anggini menggigit bibir.

“Apa dia belum puas dengan sedikit pertempuran siang tadi…?”

Anggini tetap membungkam. Ya, bagaimana dia harus mengatakan pada si pemuda bahwa gurunya menyuruhnya mengejar untuk kemudian berusaha menjadi kawan hidup pemuda itu? Bagaimana dia harus terangkan semua itu! Ingin dia menangis dan lari dari hadapan pemuda itu. Tapi kepada Dewa Tuak gadis ini takut sekali!

Pendekar 212 kerutkan kening. Mendadak mukanya menjadi merah, semerah langit yang disaputi sinar sang surya yang mau tenggelam di saat itu. Dia ingat akan ucapan Dewa Tuak yang mengatakan bahwa dirinya cocok untuk jadi jodoh muridnya!

Pendekar muda ini melirik pada gadis baju ungu. Anggini berparas bujur telur dan molek. Kulitnya kuning dan potongan tubuhnya sedap dipandang mata. Tapi urusan jodoh mana ini pemuda berpikir sampai di situ. Tak ada ingatannya sampai sejauh itu.

Bahkan kewajiban berat yang dipikulkan gurunya ke pundaknya, hutang nyawa dendam seribu karat terhadap Suranyali alias Mahesa Birawa sampai hari ini masih belum lunas! Masih belum dilaksanakannya!

Wiro Sableng berdiri dari duduknya. Dipandanginya gadis baju ungu itu seketika lalu mengumandanglah gelak tawanya.

“Saudari… apakah penguntitan ini ada sangkut pautnya dengan ucapan gurumu si Dewa Tuak?”

Paras Anggini semakin merah.

“Tadi aku sudah bilang… sebenarnya aku tak senang dengan semua ini. Tapi guru memaksaku…”

“Memaksa bagaimana?!”

“Katanya aku harus mengejarmu sampai dapat. Kalau tak berhasil tak usah kembali kepertapaan. Katanya lagi aku harus… harus…” Anggini tak dapat meneruskan ucapannya.

“Kurasa gurumu itu sudah sinting! Sekurang-kurangnya seperempat sinting!”

Meski Anggini memang tak suka menjalankan apa yang diperintahkan Dewa Tuak namun mendengar nama gurunya dicaci demikian rupa gadis ini jadi marah.

“Jangan hina guruku, saudara!” bentaknya. Wiro Sableng garuk kepala.

“Ah… guru dan murid sama saja gebleknya!” kata ini pemuda.

“Kalau gurumu suruh kau makan beling dan minum racun, apakah kau juga akan ikuti ucapannya itu…?!”

“Guruku tidak segila itu!” bentak si gadis.

“Aku memang tidak bilang gurumu gila, tapi sinting!” menukasi Wiro Sableng.

“Sekali lagi kau berani menghina guruku, kutampar mulutmu!” ancam Anggini. Wiro Sableng keluarkan suara bersiul!

“Gurumu memang sinting!” katanya lagi. Anggini telah menyaksikan kehebatan ilmu silat dan ketinggian kesaktian Pendekar 212 waktu terjadi pertempuran di jurang Sanggreng beberapa saat yang lalu. Dari situ dia dapat menyimpulkan bahwa gurunya sekali pun belum tentu akan dapat mengalahkan pemuda itu dengan mudah. Namun saat itu kegemasannya tak dapat ditahan lagi. Tangan kanannya bergerak cepat. Sebaliknya Wiro Sableng malah angsurkan pipi ke muka!

“Plaak!” Tamparan mendarat di pipi Wiro Sableng. Pendekar muda ini tertawa.

“Betapa lembutnya jari-jarimu mengelus pipiku..,” katanya dengan pejamkan mata.

“Ayo, tamparlah sekali lagi… dua kali lagi… tiga kali lagi… sesuka hatimulah…!” Wiro menunggu tapi tamparan berikutnya tak datang dan pemuda ini bukakan kedua matanya ‘kembali. Dilihatnya Anggini berdiri dengan hidung kembang kempis menahan geram yang menyesaki dadanya. Pendekar 212 tertawa.

“Kenapa tidak mau tampar?” tanyanya sinis. Karena digemasi terus-terusan Anggini jadi penasaran sekali. Segera dibukanya selendang ungu yang melilit di pinggangnya yang berpinggul besar.

“Eh… saudari kau ini apa mau buka pakaian di depanku?” tanya Wiro Sableng sambil kedip-kedipkan mata dengan ceriwis.

“Pemuda rendah terima selendangku ini!” bentak Anggini. Tangan kanannya bergerak. Ujung selendang berputar pelahan dan lamban ke arah kepala Wiro Sableng. Selendang terbuat dari kain yang halus. Bila benda itu bergerak lamban berarti benda itu dialiri oleh aliran tenaga halus. Dan Wiro tahu bahwa kadangkala tenaga halus lebih berbahaya daripada tenaga kasar yang di luarnya kelihatan hebat.

Pemuda ini tak mau menyambuti liuk liku selendang itu. Dia menggeser kedua kaki dan menjauhkan kepalanya. Masih tertawa dia mengejek: “Saudari, tarianmu bagus sekali! Apakah ini juga dari gurumu kau pelajari?!”

Dugaan Pendekar 212 memang tepat. Kalau sekiranya dia mencoba memapasi selendang yang meliuk-liuk itu maka dengan satu sentakan cepat Anggini akan menarik selendang dan melesatkan ujungnya ke mata si pemuda. Ini pun sebenarnya belum ketentuan Wiro Sableng akan kena dihajar begitu saja.

Tapi demikianlah kenyataannya bahwa kadangkala ilmu halus dan lembut harus dihadapi dengan kehalusan dan kelembutan pula. Melihat si pemuda geser kaki menjauh tapi masih dengan sikap mengejek maka kini Anggini rubah permainan selendangnya. Laksana seekor naga selendang ungu itu meliuk dan mematuk kian ke mari. Dan kini barulah Wiro menghadapinya dengan kekasaran pula.

“Saudari, permainan selendangmu patut dikagumi!” memuji Pendekar 212.

“Tapi tak cukup pasal kalau kau sampai menyerangku begini rupa. Aku…” Ucapan Wiro Sableng terpotong oleh bentakan Anggini.

“Tutup mulut pemuda ceriwis! Lihat selendang!” Ujung selendang ungu dengan sangat tiba-tiba mematuk ke arah mata kiri Wiro Sableng. Ganda tertawa pemuda ini tundukkan kepala untuk mengelak. Sejak tadi meski dia menghadapi serangan-serangan lawan dengan cara kasar tapi sesungguhnya Pendekar 212 terus-terusan mengambil sikap mengelak. Tapi pada saat Wiro Sableng mengelak, pada detik itu pula ujung selendang dengan sangat cepat turun dan melibat leher!

Setengah libatan Pendekar 212 cepat-cepat pergunakan tangan kiri untuk rnengibaskan selendang ujung tapi ini tak bisa dilakukannya karena serentak dengan itu Anggini kirim satu tusukan dua ujung jari tangan kiri ke dada kiri Wiro Sableng. Hebat sekali serangan ini sehingga kalau dilihat dari atas maka serentakan dengan serangan selendangnya tadi, maka sepasang serangan Anggini tak ubahnya seperti sebuah gunting besar yang hendak menggerus tubuh dan leher si pemuda!

“Ah… ah… bagus, bagus sekali saudari! Tak percuma kau jadi murid si Dewa Tuak!” memuji Wiro Sableng. Tangan kirinya terpaksa dipalangkan untuk menunggu tusukan jari tangan lawan. Anggini yang tahu bahwa tenaga dalam pemuda itu jauh lebih tinggi darinya batalkan serangan sebaliknya tangan kanannya siap menyentakkan selendang ungu yang ujungnya telah melibat setengah leher Wiro Sableng.

Pendekar 212 cepat angsurkan lehernya ke muka untuk mengendurkan selendang sehingga kalaupun detik itu disentak, sentakan itu tak akan mencelakainya. Kemudian dengan tangan kanannya, cepat sekali disampoknya bagian tengah selendang! Anggini sama sekali tak dapat melihat cepatnya tangan kanan lawan yang menyampoki senjatanya. Dia hanya tahu tiba-tiba saja bagaimana selendangnya menjadi menegang dan tertarik ke muka!

Sesaat mengetahui bahwa selendangnya kena terpegang lawan terkejutlah gadis ini, tapi juga penasaran sekali. Dibetotnya selendang itu namun mana Wiro Sableng mau lepaskan, malahan sebaliknya pemuda ini tarik selendang tersebut sehingga tubuh Anggini sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah ikut tertarik ke hadapannya. Anggini memaki dalam hati.

“Sambut paku perakku, rnanusia rendah!” bentak gadis itu. Sekali dia gerakkan tangan kirinya maka selusin benda yang besarnya setengah jengkal, berbentuk paku dan berwarna putih perak mendesing ke arah Wiro Sableng. Karena jarak mereka terpisah dekat sekali maka dua belas senjata rahasia ini sangat berbahaya bagi keselamatan si pemuda.

Anggini sendiri tiba-tiba merasa menyesal melepaskan senjata rahasia itu karena kawatir si pemuda tak dapat berkelit atau memapakinya, karena bukankah gurunya telah berpesan bahwa pemuda itu adalah cocok bakal jadi jodohnya…?! Sebaliknya yang diserang tenang-tenang saja. Bahkan sambil bersiul dilambaikannya tangan kirinya.

Delapan paku perak luruh ke tanah sedang yang empat lagi dielakkan dengan berkelit sedikit ke samping. Kalau tadi dia merasa menyesal menyerang pemuda itu dengan senjata rahasianya maka kini setelah si pemuda berhasil selamatkan diri, kembali Anggini menjadi penasaran. Dia memekik keras, lompat ke atas dan kirimkan dua tendangan jarak dekat susul rnenyusul.

“Ah, tak sangka gadis molek begini galak sekali!” kata Wiro Sableng pula. Dia melompat ke samping. Membuat gerakan satu putaran, dan sebelum Anggini turun ke tanah, kedua kaki gadis itu sudah terlibat selendangnya sendiri! Membuatnya berdiri dengan terhuyung-huyung tak bisa melangkah!

Wiro tertawa gelak-gelak.

“Ayo, kenapa berhenti galaknya?” tanyanya mengejek.

Karena sampai saat ini Anggini masih memegang ujung yang lain dari selendangnya maka dengan cepat dia dapat membukanya kembali. Paras gadis ini merah sekali. Matanya menyorot memandang kepada Wiro Sableng, sebaliknya Pendekar 212 dengan ceriwis mengedip-ngedipkan matanya!

“Senjata apa lagi yang bakal kau keluarkan?!” tanya Wiro.

“Lepaskan selendangku!” teriak Anggini.

Wiro hanya tertawa.

“Lepaskan!” teriak gadis itu lagi. Dicobanya menyentakkan selendang itu tapi Wiro memegangnya erat sekali. Kalau ditariknya keras pasti selendang kain itu akan robek.

Kesal dan gemas akhirnya dengan menghentakkan kaki Anggini lepaskan selendangnya, putar tubuh dan lari ke balik sebuah batu besar. Di sini menangislah gadis itu.

“Heh… kenapa jadi nangis?” tanya Wiro ketika dia melangkah dan datang di balik batu besar. Pemuda ini jadi garuk-garuk kepala. Lalu katanya: “Saudari, lihat, hari sudah senja.

Sebaliknya kau kembalilah ke tempat gurumu! Kalau tidak pasti kau akan sesat di malam yang gelap nanti!”

“Aku tak mau kembali! Tak bisa kembali ke pertapaan!” jawab Anggini di antara tangis sesungguhnya.

“Kenapa tak mau? Kenapa tak bisa?”

“Guruku akan marah!”

“Marah kenapa?” tanya Wiro tagi.

“Sudah… sudah! Kau tidak tahu!” Dan tangis Anggini semakin mengeras.

“Lalu kalau kau tak mau kembali ke tempat gurumu, apa kau bakal nginap di sini?!”

“Tak usah perdulikan aku! Biar aku mau malang mau melintang tak usah ambil pusing! Pergi dari sini kau…!” Anggini menyeka mata dan pipinya.

“Tak perlu bicara keras macam begitu, Saudari. Antara kita tak ada permusuhan. Ini semua adalah gara-gara gurumu yang berotak sinting itu!”

“Jangan hinakan guruku!” hardik Anggini.

“Kau seorang murid yang baik. Patuh terhadap guru dan juga hormati Tapi sayang kau juga turut-turutan bertindak tidak pakai pikiran sehat. Sekarang sudah, kembalilah ke pertapaan gurumu sebelum hari menjadi malam…”

“Tidak!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 6)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.