Selasa, 23 Mei 2017

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 4)

 Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran

“Ketika nyawa sudah di tenggorokan kau baru ribut-ribut segata permusuhan yang tak berarti! Sudah kepepet-mulai bicara rendah diri! Sebaiknya sebut nama Tuhanmu sebentar tagi roh busuk manusia yang mengaku bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 akan minggat ke neraka!” Bladra Wikuyana menyerang lagi dengan ganas membuat Wiro Sableng kembali terpaksa lompatkan diri tiga tombak ke belakang.

“Kalau kau yang tua tetap berkeras kepata maka sambutlah pukulanku ini!” Bladra Wikuyana terbeliak kaget ketika melihat tangan kanan Wiro Sableng berwarna sangat putih sedang kuku-kuku jarinya memerah menyilaukan!

“Pukulan Sinar Matahari!” teriaknya dengan keras. Sekaligus dia menyerukan pada murid-muridnya untuk mencari perlindungan sedang seturuh tenaga dalamnya dialirkannya ke tongkat biru! Selarik sinar putih yang menyilaukan mata melesat ke depan.

Bladra Wikuyana lompat ke udara sampai tujuh tombak dan sapukan tongkatnya ke bawah! Dua angin keras beradu hebat. Bladra Wikuyana berseru keras. Tongkatnya hampir terlepas mental sedang tangan kirinya tergetar hebat! Tiada nyana tenaga dalam lawan yang muda belia itu lebih tinggi beberapa tingkat dari padanya. Dengan jungkir balik di udara jago tua ini jauhkan diri untuk atur jatan nafas serta darahnya dengan cepat! Ketika bola matanya berputar memandang berkeliling terkejutlah ia!

Seluruh sisa anak muridnya yang tadi masih hidup menggeletak bergelimpangan di pelataran batu karang itu. Tubuh mereka semuanya termasuk yang sudah menemui ajal lebih dahulu di tangan Wiro Sableng mengepulkan asap dan udara dalam jurang itu kini pengap bau daging manusia yang hangus! Ketika Pendekar 212 lepaskan pukulan sinar matahari tadi. Bladra Wikuyana berhasil mengelakkannya.

Angin pukulan menghantam dinding karang di sebelah tenggara. Bukan saja dinding karang itu menjadi pecah tapi juga hancur berantakan. Bagian atasnya longsor ke bawah sedang pukulan Sinar Matahari memantul dua kali berturut-turut di dinding karang. Hawa panas angin pukulan ini telah melabrak sisa-sisa anak murid Bladra Wikuyana sehingga tubuh mereka tersambar hangus dan menggeletak mati di situ juga!

Dan sementara itu di tepi jurang sebelah atas, sesosok tubuh berpakaian ungu menyaksikan apa yang terjadi di dalam jurang batu karang itu dengan mulut menganga dan mata terbeliak sedang bulu kuduk merinding… Kembali ke dalam jurang. Air muka Bladra Wikuyana kelihatan kelam membeku. Tubuhnya laksana patung berdiri di tengah pelataran. Cambang bawuk atau berewoknya kelihatan meranggas kaku sedang sepasang matanya menjadi merah angker.

“Pendekar 212!” desis Bladra Wikuyana.

“Detik ini jangan harap nyawamu akan selamat…!” Tongkat birunya diacungkan ke muka lurus-lurus dan kini tongkat itu berubah menjadi hitam legam. Sinar hitam yang memancar dari senjata ampuh Itu menggidikkan sekali…

“Bersiaplah untuk minggat ke neraka!” teriak Bladra Wikuyana. Serentak dengan itu menyerbulah dia ke muka. Seluruh bagian tenaga dalamnya telah mengalir ke dalam tongkat dan serangannya kini luar biasa ganasnya! Sambil menyerang itu Bladra Wikuyana tiada hentinya bersuit-suit aneh, menggetarkan telinga dan raga!

Wiro Sableng begitu merasakan tekanan serangan yang hebat luar biasa segera percepat gerakannya. Namun ilmu mengentengi tubuhnya yang sudah sangat tinggi itu masih sangat terasa lamban ditindih oleh sinar pukulan Angin Hitam yang ke luar dari tongkat lawan.

“Breet”! Tersirap darah Pendekar 212. Nyawanya serasa iepas! Ujung tongkat lawan telah merobek pakaiannya di bagian dada. Angin tongkat membuat tulang-tulang dadanya seperti melesak! Pendekar ini berteriak nyaring dan jungkir balik ke belakang ke luar dari kalangan pertempuran!

~ 5 ~ 

“Ho ho… Mau merat ke mana?!” tanya Bladra Wikuyana.

“Aku sudah bilang, sekali masuk ke sini musti lepas nyawa di sini!” Wiro Sableng tak berikan sahutan. Kalau saja ada sepuluh manusia jahat sesakti Bladra Wikuyana ini di atas jagat pastilah dunia akan tenggelam dalam kekalutan pikirnya. Ketika lawan menyerang kembali Pendekar 212 sambut dengan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera.

Untuk beberapa ketika lamanya serangan tongkat Bladra Wikuyana terbendung dan kesempatan ini dipergunakan oleh Wiro Sableng untuk melompat ke udara, menukik kembali dan lancarkan pukulan Kunyuk Melempar Buah. Dentuman yang dahsyat terdengar. Wiro terpaksa turun ke pelataran batu karang kembali karena pukulannya kena disapu aliran angin hitam tongkat lawan. Pemuda ini kepepet ke dinding jurang sebelah Timur!

Pemuda ini merutuk sendiri dalam hatinya. Dalam merutuk itu tongkat lawan menyapu di atas kepalanya. Wiro lompat ke samping. Tongkat menghantam dinding karang sampai hancur berantakan! Ketika Bladra Wikuyana balikkan tubuh siap untuk menyerang kembali, langkahnya tertahan. Kedua matanya yang merah memandang tak berkedip pada senjata berbentuk kapak bermata dua yang ada di tangan lawannya.

Bergidik juga Angin Topan Dari Barat melihat senjata tersebut. Dua puluh tahun yang silam dia pernah saksikan sendiri kehebatan Kapak Maut Naga Geni 212. Kini apakah sanggup dia menghadapinya?!

“Angin Topan Dari Barat,” Pendekar 212 buka mulut.

“Baiknya kau lekas-lekas minta tobat atas kejahatanmu selama ini. Sebentar lagi tentu sudah tak keburu…. !” Angin Topan Dari Barat atau Bladra Wikuyana tindih rasa jerihnya dengan tertawa bergelak. Tahu akan kehebatan senjata di tangan lawan maka dia segera menyerang lebih dahulu! Sinar hitam bergulung-gulung ke arah Pendekar 212.

Pemuda ini sambut serangan lawan dengan pergunakan jurus: Orang Gila Mengebut Lalat. Kapak Naga Geni 212 di tangannya berkelebat cepat ke kiri dan ke kanan, mengeluarkan suara berdengung macam suara ribuan tawon! Terkejutnya Bladra Wikuyana bukan kepalang ketika merasa bagaimana kini tongkat saktinya tak dapat lagi bergerak leluasa, tertindih, terbendung dan terpukul angin kapak bermata dua di tangan lawan!

Bladra Wikuyana percepat permainan tongkatnya dan menyerang dengan jurus-jurus lihay mematikan. Namun tetap saja tak dapat ke luar dari tindihan senjata lawan. Dan kini sesudah bertempur di jurus yang kesembilan puluh delapan maka mulailah jago tua ini terdesak hebat! Diam-diam Bladra Wlikuyana cucurkan keringat dingin.

Ditahannya sedapat-dapatnya serangan senjata lawan. Satu kali tongkatnya beradu dan tak ampun ujung tongkat terbabat puntung! Bladra Wikuyana tak berani lagi bentrokan senjata! Matanya kini liar mencari kesempatan untuk kabur. Dia menggeram karena telah menyuruh murid-muridnya menurunkan tangga gantung karena tangga dari tali itulah satu-satunya jalan untuk kabur ke luar jurang batu karang!

Karena pikirannya bercabang dua, satu memikir jalan untuk lari, kedua memusatkan pada serangan lawan maka pertahanan Bladra Wikuyana sering-sering melompong. Hal ini bukan tak dilihat oleh Pendekar 212, kalau saja dia mau maka sudah sejak tadi dia melabrak manusia berewok bertangan dan kaki buntung itu. Dari mulut Pendekar 212 mulai terdengar siulan membawakan lagu tak menentu!

Sambil kirimkan bacokan ke pinggang, Wiro Sableng putar gagang kapak. Kedua mata kapak membuat setengah lingkaran, salah satu dari padanya memapas pergelangan tangan kanan Bladra Wikuyana yang terbuat dari kayu! Tangan palsu yang ujungnya berbentuk arit itu kutung dan lepas! Mental ke udara! Bladra Wikuyana melompat ke belakang. Mukanya pucat pasi. Dia mengerang karena aliran aneh yang berhawa panas dari senjata lawan merembes melalui kutungan tangan kayu ke dalam tubuhnya!

“Cuma lengan kayumu saja. Angin Topan Dari Barat! Kenapa musti pucat macam mayat?” Wiro Sableng tertawa gelak-gelak.

“Sekarang aku minta kaki kayumu!” Habis berkata begitu. Wiro Sableng bersiul dan melompat ke muka. Kapaknya membabat ke kepala Bladra Wikuyana. Jago tua ini yang tak berani lakukan bentrokan senjata cepat-cepat melompat berkelit dan lancarkan serangan balasan dengan pukulan tangan kosong yang menimbulkan angin hebat.

Namun dengan Kapak Naga Geni 212 di tangan, segala pukulan tangan kosong bagaimanapun hebatnya dari manusia berewok yang bergelar Angin Topan Dari Barat itu tiada artinya lagi! Kapak Naga Geni 212 membacok ke bahu, berbalik merambas pinggang, menderu lagi ke kepala membuat tokoh silat tua dan berpengalaman luas itu menjadi sangat sibuk. Dan ketika tiba-tiba sekali senjata lawan membabat ke bawah, dia tak punya kesempatan lagi untuk mengelak! Untuk kedua kalinya mata kapak membabat anggota badannya yaitu kaki kayu Bladra Wikuyana sebelah kanan!

Meski huyung-huyung tapi laki-laki ini masih sempat lompatkan diri ke luar dari kalangan pertempuran. Mukanya pucat sekali dan keningnya penuh keringat! Di dalam dadanya menggelegak rasa benci, dendam dan nafsu untuk membunuh! Dengan tahan tubuhnya pada ujung tongkat, Bladra Wikuyana pejamkan mata. Mulutnya komat kamit.

“Ilmu apa yang kau mau keluarkan Angin Topan Dari Barat? Sebaiknya dengar omonganku! Aku yang muda ini masih mau kasih ampun kepada kau jika kau berjanji untuk bertobat dan hidup di jalan yang benar, tidak lagi berbuat kejahatan tapi mempergunakan iimumu buat menolong sesama manusia. Bagaimana…?!” Bladra Wikuyana buka sepasang matanya sedikit. Mulutnya berkemik mengejek.

“Jangan kira kau sudah menang bocah hijau! Aku masih jauh dari kalah! Lihat mukaku bocah hijau… lihat mukaku…

“ Mata Wiro Sableng menyipit. Ketika diperhatikannya tampang Bladra Wikuyana terkejutlah dia. Kepala tokoh silat itu kini rnenjadi enam dan berwarna hitam, gigi-giginya merupakan caling-caling yang mengerikan, bola-bola matanya besar sedang lidahnya panjang menjulai sampai ke dada. Dari dua belas mata yang ada di enam kepala itu memancar sinar hijau.

“Ah… ilmu siluman macam begini hanya pantas untuk menakut-nakuti anak kecil!” ejek Wiro Sabteng. Disapukannya Kapak Naga Geni 212 ke muka. Angin deras membuat Bladra Wikuyana terpelanting tapi muka silumannya masih juga seperti tadi malah semakin menyeramkan. Tiba-tiba dengan menggereng keras laksana harimau terluka menerjanglah tokoh silat itu didahului oleh dua belas sinar hijau yang ke luar dari mata silumannya!

“Tua bangka geblek! Dikasih ampun malah keluarkan Ilmu yang bukan-bukan!” rutuk Wiro Sableng. Ditunggunya beberapa detik. Sesaat kemudian berkiblatlah kapak mautnya dari atas ke bawah! Angin Topan Dari Barat terkapar di pelataran batu karang tanpa berkutik, juga tanpa menjerit. Kepalanya sampai ke dada terbelah dua.

Darah membanjir! Tamatlah riwayat tokoh silat dari golongan hitam itu yang selama hidupnya telah menebar benih kejahatan dan mendidik manusia-manusia untuk disesatkan! Wiro Sableng garuk rambut gondrongnya dan meludah. Jijik juga dia melihat darah yang membanjir dari tubuh Bladra Wikuyana. Dipandangnya Kapak Maut Naga Geni 212 di tangan kanannya. Mata kapak itu berlumuran darah. Pemuda ini goleng-goleng kepala.

“Kapak hebat… kapak hebat…” katanya. Kemudian sekali hembus saja maka noda darah pada mata kapak pun lenyaplah! Senjata sakti pemberian Eyang Sinto Gendeng itu segera dimasukkannya ke balik pinggang kembali.

Selama setengah jam Wiro Sableng memasuki dan menggeledah isi Gua Sanggreng. Di sini ditemuinya banyak sekali persediaan makanan dan uang serta barang-barang perhiasan. Menurut pikiran Wiro uang serta perhiasan itu mungkin sekali hasil rampokan yang ditimbun menjadi milik Perguruan Gua Sanggreng. Wiro mengambil sejumlah uang dan perhiasan sekedar bekal di perjalanan. Kemudian pemuda ini duduk di sebuah kursi besar dan menikmati makanan yang ada di dalam gua itu.

Waktu dia ke luar dari gua dilihatnya langit sudah sangat merah kekuningan tanda matahari hampir tenggelam. Pemuda ini segera mencari tangga tali. Tangga tali itu kemudian dilemparkannya pada patok runcing batu karang di tepi jurang sebelah atas dan mulailah pendekar ini menaiki anak tangga demi anak tangga menuju ke atas.

Dari atas sebelum berlalu dilayangkannya pandangannya untuk terakhir kali ke dalam jurang batu. Dua puluh enam mayat bergelimpangan di mana-mana. Pemuda ini garuk dan golenggoleng kepala. Dan mulailah dia melangkah sepembawa kakinya. Malam tiba nanti entah di mana dia akan berada. Suara siulannya mengumandang di belantara batu-batu karang.

Sambil terus berjalan, bernyanyilah pendekar ini:

Langit merah angin silir… 
Surya tenggelam di ufuk Barat… 
Malam yang datang tentu dingin dan gelap… 
Berjalan seorang diri memang tidak enak… 
Tapi selalu diikuti orang lain juga tidak enak… 

Nyanyian ini tiada menentu nadanya dan diulang-ulang sampai beberapa kali. Akhirnya di satu penurunan curam Pendekar 212 hentikan nyanyiannya dan duduk di sebuah unggukan batu. Sambil tertawa-tawa berkatalah dia: “Manusia yang ikuti aku kenapa sembunyi di belakang batu? Coba ke luar unjukkan jidat, apa betul manusia atau hantu…?” Wiro memandang pada celah batu karang yang tadi dilewatinya. Suasana hening saja.

“Ah, manusia di belakang batu tentu seorang pemalu,” katanya.

“Biarlah aku sendiri yang lihat tampangnya!”

Habis berkata begitu Wiro Sableng hantamkan tangan kanannya ke arah celah batu. Sebagian lagi terguling ke bawah. Dan dari balik batu terdengar seruan tertahan!
Apa yang tidak diduga oleh Pendekar 212 ternyata bahwa penguntitnya sejak dari jurang Gua Sanggreng tadi adalah seorang gadis!

~ 6 ~ 

“Aha… Nyatanya seorang gadis molek! Pantas malu-malu unjukkan diri…!” kata Wiro Sableng pula dengan tertawa lebar melihat kepada pakaian ungu yang dikenakan gadis itu segera pemuda ini mengenali bahwa gadis itu adalah anak murid Dewa Tuak.

“Gadis molek, ada apa kau menguntit aku sejak dari lereng bukit sampai ke jurang maut sana…?” bertanya Wiro.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 5)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.