Selasa, 23 Mei 2017

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 3)

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran

“Pendekar Kapak Naga Geni 212 tak usah sembunyi di balik pilar! Keluarlah!” seru Bladra Wikuyana. Pemuda itu segera ke luar dari balik tiang batu karang dan berdiri waspada di ujung pelataran.

“Angin Topan Dari Barat! Sandiwara atau tari-tarian apakah yang akan kau pertunjukkan kepadaku?!” Bladra Wikuyana tertawa hambar.

“Dasar manusia tolol! Ajal sudah di depan mata masih juga mau jadi badut! Tahukah kau bahwa siapa-siapa yang sudah masuk ke mari berarti tak ada lagi jalan keluar! Berarti mampus di sini?!”

Wiro Sableng menyengir. Katanya: “Kalau begitu kalian semua di sini juga samasama ikut mampus dengan aku!”

Kembali Bladra Wikuyana tertawa hambar. Ditepukkannya kedua tangannya. “Turunkan tangga tali,” perintahnya. Dua orang anak murid Perguruan Gua Sanggreng segera melaksanakan tugas itu.

Bladra Wikuyana berkemik.

“Tangga tali telah diturunkan berarti umurmu semakin singkat. Tapi ada syarat jika kau kepingin hidup terus…”

“Apa?” tanya Wiro Sableng kepingin tahu.

“Berlutut minta ampun di hadapanku dan bergabung denganku!” Wiro Sableng tertawa meledak.

“Muridmu Bergola Wungu menantang aku datang kemari untuk bertempur! Tahu-tahu kini diajak bergabung, disuruh berlutut malah! Enak betul bikin aturan…!”

“Kalau begitu kau datang ke sini betul-betul untuk antarkan jiwa!” kata Bladra Wikuyana pula. Habis berkata begini dia bertepuk tangan satu kali.

“Bereskan dia dengan gebrakan enam tongkat merenggut nyawa!” bentak Bladra Wikuyana dengan geram sekali. Maka enam orang muridnya segera melompat mengurung Pendekar 212 dengan tongkat di tangan.

“Ketahuilah...” kata Bladra Wikuyana pula.

“Yang akan kalian hajar itu adalah seorang bocah yang mengaku bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Mulai!” Bladra Wikuyana bersuit keras. Keenam muridnya juga bersuit keras dan dengan serentak menyerang Wiro Sableng! Enam larik sinar biru mengambang di udara kian ke mari dalam gerakan yang sangat tak menentu, mengeluarkan suara bersiuran dan kesemuanya menyerang pendekar bertangan kosong itu.

Wiro lompat ke udara dan berteriak: “Angin Topan Dari Barat! Kerapa anak muridmu yang tak ada sangkut paut dengan aku kau suruh maju? Apa kau tidak punya nyali?!”

Biadra Wikuyana menyahut dengan membentak: “Kalau kau ada urusan dengan salah seorang di sini berarti kau berurusan dengan Perguruan Gua Sanggreng…!”

Saat itu keenam murid Perguruan Gua Sanggreng melompat pula ke udara dan menyerang Wiro Sableng dengan sebat. Tapi dengan pergunakan jurus: Belut Menyusup Tanah, maka Pendekar 212 yang diserang oleh mereka telah berdiri di pelataran batu kembali. Maka bentrokkanlah enam tongkat biru itu di udara!

“Tolol,” maki Bladra Wikuyana pada murid-murudnya: “Aku beri kesempatan tiga jurus lagi pada kalian! Kalau tak berhasil merubuhkan bangsat itu kalian musti mundur dan terima hukuman!”

Ternyata gebrakan enam tongkat merebut nyawa yang dikeluarkan enam murid Perguruan Gua Sanggreng tadi tidak mampu merubuhkan Pendekar 212. Kini karena takut terima hukuman dari guru mereka, keenamnya segera putar tongkat dengan sebat dan lancarkan enam tusukan pada enam bagian tubuh Wiro Sableng!

“Ciaaat!” Bentakan dahsyat menggema dan menggetarkan jurang batu itu. Bulu-bulu tengkuk anak-anak murid Perguruan Gua Sanggreng meremang, bukan saja oleh kedahsyatan bentakan tadi tapi juga menyaksikan bagaimana enam kawan mereka kini berdiri kaku tegang di tengah pelataran karena tubuh masing-masing sudah kena ditotok lawan.

Sedang Pendekar 212 berdiri saat itu berdiri tenang-tenang bahkan bersiul-siul! Rasa tak percaya membuat Bladra Wikuyana buka matanya lebar-lebar. Dan hatinya merutuk. Tiba-tiba dicabutnya tongkat birunya dari pinggang dan disapukannya ke muka. Keenam tubuh muridnya berpelantingan laksana daun kering tapi sekaiigus angin topan dashyat yang keluar dari tongkat ampuh itu telah melepaskan keenamnya dari totokan!

Kemudian Pemimpin atau Ketua Perguruan Gua Sanggreng itu berkata pada Bergola Wungu: “Kau majulah, pimpin semua muridku yang ada di sini! Bentuk-lingkaran pasang surut!”

Mendengar ini Bergola Wungu segera melangkah ke muka seraya cabut golok panjang dan bersuit keras tiga kali berturut-turut. Maka dua puluh empat manusia berpakaian hitam-hitam dengan tongkat di tangan di bawah pimpinan Bergola Wungu yang memegang golok panjang segera membentuk dua lapis lingkaran yang disebut lingkaran pasang surut, mengurung Wiro Sableng di tengah-tengah.

Gilanya, yang mau diserang malah tetap berdiri tenang-tenang, kemak kemik dan sambil bersiul-siul. Tiba-tiba Bergola Wungu bersuit nyaring. Maka berputarlah barisan lingkaran yang sebelah dalam ke kiri sedang barisan lingkaran sebelah luar berputar ke kanan. Mula-mula lambat pelahan kemudian makin lama makin kencang, makin kencang sampai tubuh kedua puluh empat. manusia berpakaian hitam itu tidak jelas iagi, hanya merupakan bayang-bayang.

Debu yang menutupi pelataran menggebu ke atas dan sambil berputar-putar itu Bergola Wungu dan kawankawannya tiada henti berteriak melengking-lengking. Karena putaran dua barisan lingkaran itu makin cepat dan saling berlawanan serta diiringi lengking pekik hiruk pikuk yang memekakkan dan mengacaukan pikiran lambat laun kedua pandangan mata Pendekar 212 menjadi berkunang. Kepalanya terasa pusing.

Dia tertegun beberapa jurus lamanya. Dan dua baris lingkaran itu kini kelihatan semakin menciut mendekatinya! Bergola Wungu melihat lawan muiai terpengaruh dengan bentakan lantang menyerbu dan tebaskan goloknya ke kepala lawan yang terkurung ditengah lingkaran. Serangan ini datangnya secara pengecut yaitu dari belakang! Dan Wiro Sableng dalam tertegunnya itu masih juga bersiul-siul seperti orang lupa diri!

~ 4 ~ 

Dia hanya merasakan datangnya sambaran angin dari arah belakang. Lalu cepat-cepat menggeser kaki ke muka, bergerak ke samping dan sambil bungkukkan diri balikkan badan! Golok panjang Bergola Wungu lewat satu setengah jengkal di atas kepalanya, mengibarkan rambutnya yang gondrong!

“Dasar pengecut! Sudah main keroyok menyerang dari belakang!” bentak Wiro Sableng. Kedua tangannya bergerak ke muka untuk merampas golok lawan. Namun hampir hal itu terlaksana, tahu-tahu dua belas ujung tongkat menderu menyerang kedua lengannya.

“Sialan!” maki Pendekar 212 dan terpaksa tarik pulang tangannya sambil hantamkan kaki membabat ke arah beberapa orang pengeroyok dari barisan sebelah muka. Mereka yang diserang tendangan kaki anehnya tidak melakukan sesuatu apa, tapi tiba-tiba dari belakang menyeruak kawan-kawan mereka dari barisan kedua, dan menangkis tendangan Wiro Sableng.

Sejurus kemudian barisan muka kembali menyerang dengan dua belas tongkat biru mengarah pada dua belas bagian tubuh Wiro Sableng! Sementara itu dari atas laksana alap-alap golok Bergola Wungu kembati membabat! Ini lah kehebatannya lingkaran pasang surut! Ciptaan Bladra Wikuyana! Dua tahun dia melatih murid-muridnya untuk betul-betul memahami jurus tersebut. Meski belum begitu sempurna tapi hasilnya tidak mengecewakan!

Sambil senyum-senyum dia berdiri menunggu saat di mana matanya akan menyaksikan tubuh Wiro Sableng terpancung belasan senjata muridnya, telinganya bakal mendengar pekik kematian pemuda itu! Tapi tiada kelihatan, Pendekar 212 terpancung meregang nyawa di tengah pelataran itu! Tiada terdengar pekik kematian Wiro Sableng!

Dengan kecepatan luar biasa yang tiada terlihat oleh mata Bladra Wikuyana maka tahu-tahu Wiro Sableng sudah berada di luar serangan anakanak muridnya, berdiri dengan tenang dan kembali bersiul-siul! Sebenamya pemuda bermata tajam ini sudah dapat melihat di mana letak kelemahan barisan lingkaran pasang surut yang mengeroyoknya saat itu.

Dengan merobohkan dua atau tiga orang pengeroyok dari salah satu barisan maka pastilah lingkaran pasang surut itu akan menjadi kacau balau! Bisa juga sebagian atau seluruh pengeroyoknya ditumpasnya dengan hantaman pukulan angin puyuh atau dinding angin berhembus tindih menindih! Tapi ini pemuda inginkan cara lain yang lebih disukainya sendiri. Maka berserulah Pendekar 212.

“Angin Topan Dari Barat! Apakah kau pernah iihat manusia dipakai jadi senjata untuk menyerang manusia…?!”

“Bocah gila! Jangan banyak bacot! Nyawamu sudah di depan hidung! Anak-anak ciutkan lingkaran dalam sepertiga jurus!” teriak Bladra Wikuyana dengan penasaran sekali.

Siulan Pendekar 212 tiba-tiba lenyap berganti dengan suara tertawa aneh yang menegakkan bulu tengkuk. Tubuhnya berkelebat tak kelihatan. Dan tiba-tiba pula Bergola Wungu merasakan kedua pergelangan kakinya dicengkeram erat sekali. Dicobanya untuk meronta dan menendang tapi cengkeraman itu laksana japitan besi tak mungkin untuk di1epaskan.

Sementara itu tubuhnya menjadi limbung dan terasa terangkat ke atas! Dicobanya membabatkan goloknya! Terdengar satu pekikan! Pekikan kawannya sendiri yang, kemudian roboh mandi darah! Sesudah itu Bergola Wungu tak tahu apa-apa lagi! Wiro Sableng dengan tertawanya yang aneh memegang erat-erat kedua pergelangan kaki Bergola Wungu lalu memutar tubuh manusia itu laksana kitiran!

Pekik jerit serta seruan-seruan tertahan terdengar di mana-mana! Barisan lingkaran pasang surut hancur berantakan. Beberapa orang yang masih tak mau menyingkir dan terpukau oleh kedahsyatan itu terpaksa dihantam kitiran dari tubuh Bergola Wungu!

Belasan anak murid Perguruan Gua Sanggreng bergeletakan di pelataran batu karang dalam keadaan tubuh luka-luka parah tanpa nyawa. Suara erangan terdengar tiada hentinya. Yang masih hidup yaitu sekira sembilan orang menyingkir jauh-jauh ke dinding batu karang. Suara tertawa Pendekar 212 berhenti.

“Angin Topan Dari Barat! Ini terima bangkai muridmu!” Tubuh Bergola Wungu yang tadi dibuat menjadi kitiran untuk melabrak kawan-kawannya sendiri melesat ke arah Bladra Wikuyana. Orang tua ini lambaikan tangan kirinya dan tubuh Bergola Wungu terpelanting ke dinding samping. Tentu saja sudah tanpa nyawa lagi karena sudah sejak tadi kepalanya nyenyar macam pepaya busuk! Bau anyirnya darah yang mengantarkan regangan-regangan nyawa manusia menyesak lobang hidung.

Wiro Sableng meludah ke tanah. Dan memandang pada Angin Topan Dari Barat.

“Angin Topan Dari Barat! Murid-muridmu menemui kematian dengan cara yang tentu kau tidak senangi! Dan mereka mati tanpa ada sangkut-paut kesalahan apa-apa terhadapku! Kau yang tanggung-jawab semuanya kalau malaekat maut tertanya di liang kubur!”

“Pemuda iblis!” bentak Bladra Wikuyana.

“Tak usah banyak bacot! Terimalah kematianmu dalam tiga jurus!” Tampang manusia ini kelihatan membesi dan tambah angker. Dia melangkah ringan ke hadapan Wiro Sableng dan cabut tongkat birunya! Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan selarik sinar biru melanda Pendekar 212. Pemuda ini egoskan diri ke samping dengan cepat. Tapi dari samping menderu tangan kanan Bladra Wikuyana yang disambung -dengan kayu dan ujungnya mempunyai senjata berbentuk Arit!

“Heyyaaa!” Pendekar 212 membentak keras. Empat dinding jurang tergetar hebat. Tubuhnya lenyap dan sambil jatuhkan diri berjongkok pemuda ini hantamkan tangannya ke muka lancarkan pukulan Kunyuk Melempar Buah! Tapi tongkat biru Bladra Wikuyana sungguh hebat! Pukulan Kunyuk Melempar Buah yang dilancarkan Pendekar 212 mempergunakan sebahagian tenaga dalamnya namun sambaran angin tongkat biru membuat angin pukulan Pendekar 212 tersibak ke samping dan menghantam dinding karang!

Dinding karang itu retak-retak pecah! Kepingan-kepingan karang menghambur ke udara berpelantingan! Wiro Sableng penasaran sekali. Tenaga dalamnya dilipat-gandakan sampai tangannya tergetar hebat namun tetap pukulan Kunyuk Melempar Buah yang dilancarkannya masih sanggup disapu oleh angin tongkat biru lawan!

“Edan!” maki pemuda ini dalam hati. Dia menjerit setinggi langit dan berkelebat lagi. Kini Pendekar 212 keluarkan jurus Orang Gila Mengebut Lalat! Kedua tangannya kiri kanan memukul kian kemari dan mengeluarkan angin keras laksana badai! Untuk dua jurus lamanya Bladra Wikuyana terdesak hebat bahkan kepepet ke dinding jurang sebelah Timur.

Anak-anak murid Perguruan Gua Sanggreng yang ada di jurusan ini terpaksa menyingkir kecuali kalau mau mampus terkena sambaran-sambaran angin dahsyat kedua manusia sakti yang bertempur itu! Angin Topan Dari Barat mengeluh dalam hati! Puluhan tahun hidup di dunia persilatan baru hari ini menghadapi lawan yang tangguhnya bukan olah-olah! Dan gilanya lawan itu adalah anak muda hijau yang baru berumur tujuh belas tahun! Orang tua ini kertakkan gerahamnya.

Dari tenggorokkannya keluar suitan kencang. Dengan serta merta permainan tongkat dan jurus-jurus silatnya berubah. Tongkat biru di tangan kirinya menderu dan mencurah taksana hujan badai, laksana menjadi ratusan banyaknya! Wiro Sableng terkejut sekali melihat keganasan serangan tawan ini! Cepat dia lompat tiga tombak ke udara.

“Ho-ho! Mau kabur hah?!” bental Bladra Wikuyana. Dan segera manusia ini susul melompat.

“Angin Topan Dari Barat!” seru Pendekar 212.

“Antara kita sebenarnya tak ada permusuhan yang berarti…” Bladra Wikuyana tertawa buruk.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 4)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.