Rabu, 24 Mei 2017

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 15)

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran

Dengan kerahkan setengah dari tenaga dalamnya Wiro Sabteng hantamkan tangan kanan ke bawah melancarkan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera! Mahesa Birawa berseru tertahan melihat datangnya angin laksana badai ke arahnya. Cepat-cepat dia melompat ke samping. Tubuhnya hampir terpelanting diserempet angin pukulan lawan.

Dengan kerahkan tenaga dalamnya dia masih sanggup berdiri di tempat setelah mengelak tadi. Namun demikian kedua kakinya melesak sampai lima senti ke dalam tanah! Dalam keterkejutan melihat kehebatan lawan Mahesa Birawa mendengar suara tertawa pendekar 212.

“Kutunggu besok siang Mahesa Birawa. Di sini,di puncak bukit ini! Satu hal perlu kukatakan. Besok aku menghadapimu bukan sebagai manusia bernama Mahesa Birawa, tapi sebagai Suranyali!” Wiro Sableng berkelebat.

“Budak hina! Jangan lari!” teriak Mahesa Birawa alias Suranyali. Namun pendekar 212 sudah lenyap dari pemandangannya ditelan kegelapan malam.

~ 19 ~  

Malam itu Mahesa Birawa tak dapat memicingkan mata. Dia gelisah sekali. Sebentar-sebentar di atas pembaringan dalam kemah dia membalik ke kiri, membalik ke kanan. Ingatannya mengawang kembali pada masa tujuh belas tahun yang silam. Terbayang olehnya kematian Ranaweleng.

Terbayang olehnya Suci, perempuan yang bunuh diri itu. Dan ketika ingatannya berpindah pada pemuda yang mengaku anak dari Ranaweleng itu, tubuhnya seperti dijalari hawa dingin. Meski sudah dapat mengukur kehebatan lawan namun Mahesa Birawa tidak takut sama sekali untuk menghadapi pemuda itu. Cuma kemunculan si pemuda yang tidak terdugalah yang benar-benar mengejutkan dan menyirapkan semangatnya.

Hati kecilnya mengutuki kebodohannya sendiri. Pada masa tujuh belas tahun yang silam itu dia tahu kalau Ranaweleng dan Suci mempunyai seorang putera. Kenapa dia tidak sekaligus membunuh orok Ranaweleng itu? Tapi saat itu tentu saja dia tidak mempunyai pikiran panjang seperti waktu sekarang ini.

Mahesa Birawa membalikkan tubuhnya kembali. Dia memandang ke dinding kemah. Dan pada dinding kemah itu seperti terbayang oleh matanya rentetan kalimat yang pernah dibacanya pada dinding tempat kediamannya tujuh belas tahun yang lalu yaitu ketika dia baru saja berhasil melarikan Suci dan memasukkannya ke kamarnya.

Di sana… di dalam ingatan Mahesa Birawa alias Suranyali, seperti tertera kembali rentetan kalimat itu. Rentetan kalimat yang menjadi kenyataan: “Apa yang kau lakukan hari ini akan kau terima balasannya pada tujuh belas tahun mendatang!”

Mahesa Birawa akhirnya turun dari pembaringan. Beberapa lama dia mondar mandir didalam kemah besarnya itu. Kemudian teringat dia pada kematian Kalasrenggi dan dua orang mata-mata yang dikirim ke Kotaraja tempo hari. Mereka menemui kematian akibat turun tangannya seorang manusia aneh. Kalasrenggi mati dengan guratan angka 212 pada keningnya. Dan tadi dia juga saksikan sendiri kematian Suto Rande dalam cara yang sama!

Kalau begitu sedikit banyaknya atau mungkin pasti… pasti sekali pemuda yang mengaku anak Ranaweleng itu, yang sesungguhnya adalah adik seperguruannya sendiri, pastilah mempunyai sangkut paut atau hubungan dengan Pajajaran. Dan kalau sudah begini berarti bocornya rencana untuk menggulingkan Prabu Kamandaka, bocornya rencana untuk memberontak terhadap Kerajaan!

Mahesa Birawa melangkah lagi mondar mandir sambil mengepalkan tinjunya. Dia harus bertindak cepat sebelum Pajajaran benar-benar tahu keseluruhan rencananya. Bukan mustahil saat itu balatentara Pajajaran tengah menuju ke perkemahan mereka untuk menyapu mereka! Malam itu juga Mahesa Birawa berunding dengan kelima Adipati. Dan malam itu pula diputuskan untuk menggerakkan seluruh pasukan ke Kotaraja.

Dua orang kurir dikirim terlebih dahulu. Yang pertama untuk menemui Raden Werku Alit di Kotaraja, memberitahukan bahwa karena sesuatu hal yang mendesak maka pasukan diberangkatkan malam itu dan direncanakan untuk menggempur Pajajaran selambat-lambatnya satu dua jam sesudah fajar menyingsing!

Kurir yang kedua berangkat menuju puncak Gunung Halimun, menemui Begawan Sakti Sitaraga yang sebelumnya telah mengatakan bersedia turun tangan membantu kaum pemberontak! Tapi kurir ini kemudian tertawan oleh prajurit-prajurit Pajajaran di perbatasan.

Meski tetap berhati bimbang akan kebenaran peringatan yang dibacanya di dinding kamar adiknya, namun Prabu Kamandaka tak urung menyiapsiagakan balatentara Pajajaran secara diamdiam. Dan ketika dini hari itu dia dibangunkan secara mendadak, dilaporkan tentang terlihatnya sepasukan besar mendatangi Kotaraja. Raja Pajajaran ini benar-benar menjadi kaget. Benar juga peringatan itu, katanya dalam hati.

Kepada Kepala-Kepala Pasukan Kerajaan segera diberikan perintah kilat: “Kalau pasukan yang datang itu adalah benar pasukan pemberontak, hadapi mereka di luar tembok Kerajaan!”

Manakala sinar fajar pertama memancar di ufuk timur maka pada saat itu pulalah mulainya berkecamuk pertempuran yang dahsyat di sepanjang tembok besar yang mengelilingi Kotaraja. Yang paling seru adalah pertempuran pada dua buah pintu gerbang. Pihak pemberontak menyerang habis-habisan untuk dapat membobolkan pintu gerbang Kotaraja itu. Yang diserang bertahan mati-matian!

Suara beradunya senjata, pekik kematian, lolong manusia-manusia yang terbabat senjata, bau anyirnya darah, semuanya menjadi satu menimbulkan suasana yang mengerikan. Agaknya serangan lawan mulai tak dapat dibendung. Hal ini kelihatan sesudah pertempuran berkecamuk hampir setengah jam lebih.

Prabu Kamandaka dengan teriakan-teriakan hebat berkelebat kian ke mari memberi semangat pasukan Pajajaran. Prabu ini menunggangi seekor kuda putih dan di tangannya tergenggam sebilah golok panjang yang berlumuran darah! Prabu Kamandaka seperti terpukau dan tak mau percaya akan kedua matanya ketika dia bergerak ke medan pertempuran sebelah timur, dia langsung berhadap-hadapan dengan Werku Alit, saudara sepenyusuan sendiri!

“Matakukah yang terbalik atau benarkah kau yang ada di hadapanku ini, Alit?” ujar Sang Prabu. Raden Werku Alit tertawa membesi.

“Matamu masih belum terbalik, Kamandaka! Cuma otakmu yang miring sehingga mengambil hak orang lain….!”

“Hak apakah yang aku telah ambil dan siapakah orang lain itu?!”

“Takhta Kerajaan adalah hak syah diriku, Kamandaka!” jawab Werku Alit garang. Prabu Kamandaka tertawa dingin.

“Kau mengigau di slang hari Alit! Tak kusangka, kau sendiri yang menjadi biang racun pentolan pemberontak yang memberikan perintah untuk mengeroyok Raja Pajajaran itu!”

Prabu Kamandaka dengan teriakan-teriakan hebat berkelebat kian ke mari memberi semangat pasukan Pajajaran. Prabu ini menunggangi kuda putih dan di tangannya tergenggam golok panjang yang berlumuran darah! Agaknya serangan lawan mulai tak dapat dibendung. Hal ini kelihatan sesudah pertempuran berkecamuk hampir setengah jam lebih. Yang diserang bertahan mati-matian!

Suara beradunya senjata, pekik kematian, lolong manusia-manusia yang terbabat senjata bau anyirnya darah, semuanya menjadi satu menimbulkan suasana yang mengerikan. Satu demi satu prajurit yang bertempur bersama rajanya itu gugur bergelimpangan. Keadaan Sang Prabu sangat kritis sekali sedang di sebelah barat balatentara pemberontak di bawah pimpinan Mahesa Birawa sudah hampir berhasil membobolkan pertahanan pintu gerbang!

~ 20 ~ 

Pada saat pertempuran berkecamuk dengan serunya, pada saat pintu gerbang Kotaraja di sebelah barat hampir bobol dan pada saat keselamatan Prabu Kamandaka sendiri terancam maka pada saat itulah terdengar suara yang keras laksana guntur mengatasi segala kecamukan perang yang mendatangkan maut itu!

“Manusia-manusia bodoh! Hentikan pertempuran ini!” Hampir semua mereka yang bertempur di medan sebelah timur itu jadi terkejut dan hampir semua mata pula memandang ke atas tembok Kotaraja di mana kelihatan berdiri seorang pemuda berpakaian putih-putih berambut gondrong! Mungkin sekali Raden Werku Alit adalah orang yang paling terkejut melihat pemuda di atas tembok itu. Manusia ini tampangnya sama betul dengan pemuda yang tempo hari ditotoknya sewaktu hujan-hujan di teratak tua!

“Orang-orang mati inginkan hidup, kalian yang hidup mau bertempur sampai mati! Goblok betul!” terdengar lagi pemuda yang di atas tembok berkata dengan suaranya yang mengguntur.

Werku Alit kertakkan rahang. Hatinya gusar terhadap si pemuda. Diam-diam dia tahu bahwa suara yang mengguntur itu pastilah menandakan bahwa si pemuda yang memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi. Namun bila dia melirik ke samping dan detik itu melihat Prabu Kamandaka berada dalam keadaan lengah maka kesempatan ini dipergunakan Werku Alit dengan sebaik-baiknya.

Senjatanya berkelebat cepat dan ganas. Satu ujung tajam dari toja menyambar ke leher sedang ujung yang lain menyapu ke kaki Prabu Kamandaka! Melihat datangnya serangan itu Prabu Kamandaka sadar akan keteledorannya berbuat lengah. Sangat terlambat baginya untuk dapat mengelakkan senjata lawan yang menyerang dua tempat itu sekaligus. Salah satu ujung tajam dari senjata lawan pastilah akan mengenai badannya.

Prabu Kamandaka lemparkan diri ke belakang meski dia tahu bahwa kakinya akan disapu ujung toja lawan. Tapi pada saat itu pula dari atas tembok melesat satu benda putih sekali laksana bercahaya. Benda ini berbentuk bintang dan mengeluarkan suara mendesing, menghantam pertengahan toja Werku Alit dengan tepatnya. Toja itu patah dua. Salah satu patahannya menggores dada Werku Alit sendiri!

Laki-laki ini menjerit kesakitan dan lompat mundur namun diburu dengan sebat oleh Prabu Kamandaka. Dalam keadaan terluka, bersama orang-orangnya Werku Alit bertahan dengan hebat. Dua Adipati lainnya yang melihat terdesaknya Werku Alit segera berikan bantuan sehingga Prabu Kamandaka dan orang-orangnya kembali terdesak hebat!

Werku Alit mengamuk dahsyat. Mengamuk dengan patahan tojanya. Namun keadaan dirinya mulai payah akibat luka yang dideritanya. Gerakan-gerakannya mulai menjadi lamban sehingga dia terpaksa mengambil posisi bertahan dan membiarkan pembantu-pembantunya menyerang pihak lawan. Adipati Tapak Ireng mendekati Werku Alit dan sodorkan sebuah pil.

“Telanlah cepat Raden Alit dan alirkan tenaga dalammu ke bagian yang terluka….” Werku Alit cepat-cepat telan pil yang berwama hitam itu lalu kerahkan tenaga dalamnya.

Obat yang diberikan oleh Adipati Tapak Ireng memang manjur sekali. Sesaat kemudian darah pada luka Werku Alit berhenti dan tiada terasa sakit lagi. Maka dengan cabut kerisnya Werku Alit kembali maju menghadapi Prabu Kamandaka. Ketika Adipati Lanabelong dengan ruyung besi putihnya turut pula membantu Werku Alit maka lebih buruk dari tadi keadaan Prabu Kamandaka kembali terdesak hebat.

“Kaum pemberontak! Hentikan pertempuran ini!” teriak orang yang di atas tembok.

Tapi tak ada yang memperdulikan malah Adipati Jakaluwing dari Karangtretes menantang: “Orang gila berambut gondrong kalau mau rasakan toja besiku, turunlah!”

Orang di atas tembok menggerutu penasaran. Dari balik pinggangnya dikeluarkannya sebuah kapak bermata dua! Mata kapak itu berkilat-kilat ditimpa sinar matahari pagi. Kemudian dengan satu gerakan yang sangat enteng dia melompat turun. Dan begitu sampai di tanah ditempelkannya ujung gagang kapak ke bibirnya. Maka sesaat kemudian menggemalah suara seperti seruling. Mula-mula pelahan, kemudian makin keras dan melengking-lengking!

Telinga pihak pemberontak yang mendengar suara lengkingan seruling itu seperti ditusuk-tusuk sakit sekali. Prajurit-prajurit rendahan menjadi terpukau dan dengan mudah menjadi korban senjata prajurit-prajurit Pajajaran! Werku Alit dan lima Adipati sekutunya terkejut ketika merasa bagaimana sakitnya telinga mereka sedang jalan darah mereka tidak lagi teratur tapi sesak tersendat-sendat. Dan ketika mereka memandang berkeliling mereka melihat bagaimana pasukan mereka di bagian medan mayat prajurit dengan dada mandi darah!

Werku Alit dan Adipati-Adipati yang masih hidup terkejutnya bukan main. Serangan mereka di samping dijuruskan kepada Prabu Kamandaka kini juga dititikberatkan pada Wiro Sableng! Namun bila sekali lagi Kapak Naga Geni 212 berkelebat maka kini giliran Adipati Jakaluwing pula yang meregang nyawa dengan kepala hampir terbelah dual Werku Alit dan Adipati-Adipati yang masih hidup menjadi kecut.

Mereka saling berlirikan tajam dan beri isyarat namun pada saat itu pula pendekar 212 yang sudah tahu maksud mereka membuat gerakan cepat. Rujung besi Ranabelong mental puntung dua ke udara disusul dengan jerit kematiannya! Satu-satunya Adipati yang masih hidup yaitu Warok Gluduk boleh dikatakan sudah tak ada daya lagi sesudah lengan kanannya tadi dibabat puntung oleh Prabu Kamandaka. Dia memutuskan untuk kabur saja tapi tombak seorang kepala pasukan Pajajaran lebih dahulu menancap di punggungnya terus menembus sampai ke dada!

Nyali Werku Alit semakin luntur menciut. Di medan pertempuran sebelah timur itu hanya dia sendiri kini yang menjadi pucuk pimpinan. Kalau tadi dia dan anak-anak buahnya merupakan pihak penyerang yang mendesak maka kini keadaan terbalik! Di mana-mana puluhan prajurit-prajuritnya bergeletakan mati. Yang masih hidup bertempur dengan setengah hati, mundur terus-terusan dan kacau balau! Suara seruling Kapak Naga Geni 212 yang terus menerus melengking seperti melumpuhkan sekujur tubuh Raden Werku Alit.

Dicobanya mengerahkan tenaga dalamnya namun tenaga dalamnya terasa laksana punah! Telinganya sakit dan kemudian dirasakannya ada yang meleleh pada kedua liang telinganya itu! Darah!

~ 21 ~ 

Mahesa Birawa yang ada di medan pertempuran sebelah barat, yang saat itu sudah hampir berhasil mendesak pasukan Pajajaran dan membobolkan pintu gerbang pertahanan menjadi terkejut ketika selintas kepalanya dipalingkan ke arah timur! Pasukan pihaknya di jurusan ini dilihatnya bertempur dengan kacau, malah sebagian besar mundur terdesak hebat!

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 16)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.