Rabu, 24 Mei 2017

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 14)

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran

“Namaku tertulis di kening anak buahmu itu!” Si pemuda pendekar 212 menunjuk ke mayat Suto Rande.

“Hem… bagus kalau begitu!” Mahesa Birawa puntir kumisnya.

“Kau yang membunuh Kalasrenggi, bukan?”

“Tidak! Aku hanya menggantungnya dan Tuhan kemudian mengambil rohnya…” Habis berkata begitu pendekar 212 Wiro Sableng tertawa mengekeh.

“Kau tahu Mahesa, manusia macam Kalasrenggi itu tak layak hidup lama-lama di dunia! Masih kebagusan ada kali untuk tempat pembuang mayatnya! Dan kau tahu… di atas bumi ini masih banyak manusia-manusia macam Kalasrenggi malahan lebih terkutuk dari Kalasrenggi yang musti dilenyapkan!”

“Di sini bukan tempat pidato, budak hina!” bentak Mahesa Birawa.

“Oh, begitu…? Kalau demikian mari kita bicara empat mata Mahesa Birawa. Aku memang sudah lama mencari kau!” Mahesa Birawa menyeringai. Kemudian kelihatan bagaimana mukanya menjadi kelam membesi.

“Kalau aku bicara dengan kau maka biar aku terangkan padamu bahwa kedatanganmu ke sini hanyalah untuk mengantar nyawa!” Habis berkata demikian Mahesa Birawa hantamkan tangan kanannya ke muka. Setiup angin yang bukan olah-olah panasnya menggebubu ke arah pendekar 212! Pendekar 212 lompat tiga tombak ke atas. Angin pukulan lewat di bawahnya dan menghantam sebuah pohon kayu.

“Buum!”

“Kraak!” Pohon itu bukan saja tumbang dilanda angin pukulan tapi juga berwarna hitam karena hangus! Kedua orang itu sama-sama terkejut. Pendekar 212 terkejut melihat kehebatan pukulan dan tenaga dalam lawan sedang Mahesa Birawa heran tidak menyangka kalau pukulannya itu dapat dielakkan dengan satu lompatan enteng ke udara!

Dengan penuh waspada Wiro Sableng jejakkan kedua kakinya kembali ke tanah.
“Mahesa Birawa,” katanya, “Soal pertempuran soal mudah. Mudah dimulai, mudah diakhiri. Tapi aku bilang, aku mau bicara dengan kau! Empat ma…”

“Budak hina! Siapa sudi bicara dengan kau!” potong Mahesa Birawa membentak. Sekali lagi tangan kanannya dipukulkan ke muka. Kalau tadi dia hanya mempergunakan sepertiga dari tenaga dalamnya maka kini dialirkan ke dalam pukulannya itu setengah dari tenaga dalamnya! Namun untuk kedua kalinya pula Mahesa Birawa dibuat gemas karena Pendekar 212 berhasil pula mengelakkan serangannya yang dahsyat itu.

“Mahesa Birawa, apakah kau yang lebih tua tidak memberikan kesempatan padaku untuk bicara empat mata?!”tanya Wiro Sableng pula. Kesabarannya mulai terkikis dari hatinya. Kalau saja dia tiada ingat pesan gurunya Eyang Sinto Gendeng pastilah saat itu juga dibalasnya serangan-serangan Mahesa Birawa tadi!

Untuk tidak terlalu kehilangan muka karena dua pukulannya berhasil dielakkan lawan maka berkatalah Mahesa Birawa: “Percuma saja kau bicara, toh nantinya nyawamu akan aku bikin merat juga dari kau punya badan!”

Pendekar 212 tertawa. “Dengar Mahesa Birawa…” kata pendekar ini. Rahang-rahangnya bertonjolan. Pelipisnya bergerak-gerak tanda dia menekan amarahnya dan berusaha mempertahankan kesabarannya. “Aku membawa pesan dari Eyang Sinto Gendeng…”

Maka terkejutlah Mahesa Birawa mendengar nama itu. “Kau ini siapa kalau begitu?!” tanyanya.

“Siapa aku masih belum penting. Aku tunggu kau malam ini di bukit Jatimaleh. Seorang diri, Mahesa Birawa. Datanglah seorang diri…”

“Kau bisa bicara di sini!” Pendekar 212 menggeleng.

“Di bukit Jatimaleh…” desisnya.

“Aku bilang di sini!” bentak Mahesa Birawa.

“Takutkah kau datang ke bukit itu malam-malam gelap begini? Atau mungkin takut pada dinginnya udara? Atau mungkin takut pada roh-roh manusia yang selama ini membayangimu….?!”

Mahesa Birawa kertakkan geraham. Dia memberi isyarat. Bersama puluhan prajurit yang ada di situ maka menyerbulah dia! Pendekar 212 melompat sampai setinggi tujuh tombak. Dia berpegangan pada ujung sebuah cabang pohon, membuat satu kali putaran pada saat mana Mahesa Birawa lemparkan sejenis senjata rahasia.

Mahesa Birawa berseru tertahan ketika melihat senjata rahasianya membalik kembali menyerang dirinya sendiri. Dikebutkannya tangan kirinya. Senjata rahasia itu bermentalan, menghantam prajurit-prajurit di sekitarnya. Empat orang menggerang dan rebah ke tanah! Bayangan Wiro Sableng lenyap namun masih terdengarsuara seruannya mengiangi anak telinga.

“Bukit Jatimaleh, Mahesa! Malam ini. Ingat, seorang diri…!”

~ 18 ~

Bukit Jatimaleh tertetak tidak berapa jauh dari perkemahan pemberontak. Ketika Mahesa Birawa hendak meninggalkan perkemahan, beberapa prajurit menyatakan hendak ikut serta tapi Mahesa berkata: “Biar aku sendiri yang membereskan urusan ini! Kalian semua di sini bersiap siagalah. Perkuat penjagaan dan lipat gandakan prajurit-prajurit peronda!”

Cuaca malam di atas bukit Jatimaleh gelap gulita. Di langit tiada rembulan tiada bintang. Udara yang dingin mencucuki daging menyembilui tulang-tulang sampai ke sungsum. Dalam kegelapan inilah kelihatan dua sosok tubuh berdiri berhadap-hadapan. Yang satu membentak lantang: “Cepat terangkan siapa kau adanya budak hina!”

“Ah… jangan bicara memaki terus-terusan Mahesa Birawa. Belum tentu aku lebih hina dari kau!” jawab Pendekar 212.

Marahlah Mahesa Birawa. Dia menggeser langkahnya ke muka. Tapi langkahnya segera pula terhenti ketika didengarnya pemuda di hadapannya berkata: “Pesan Eyang Sinto Gendeng ialah agar kau segera kembali ke puncak Gunung Gede dalam waktu secepat-cepatnya!”

“Kembali ke puncak Gunung Gede…?!”

“Yeah… Untuk menerima hukuman atas perbuatan-perbuatan jahatmu sejak kau turun gunung tujuh belas tahun yang silam!”

“Jangan bicara ngaco belo! Ada hubungan apa kau dengan Eyang Sinto Gendeng?!”

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 tertawa datar.

“Aku hanya pesuruh buruk saja, Mahesa…” jawabnya.

“Dusta!” bentak Mahesa Birawa menggeledek.

“Kalau kau tak mau bicara yang sebetulnya jangan menyesal bila kepalamu kupuntir sampai putus!” Wiro Sableng bersiul.

“Aku tak tahu segala urusan puntir kepala. Aku hanya menyampaikan perintah Eyang Sinto Gendeng agar kau menghadapnya di puncak Gunung Gede! Kau dengar Mahesa…. He… he… he…” Jari-jari tangan Mahesa Birawa mengepal membentuk tinju.

“Aku ingin tahu saat ini juga. Apakah kau bersedia memenuhi perintah itu atau tidak…?”

“Aku tanya dulu! Apa hubunganmu dengan Eyang Sinto Gendeng? Jangan bikin kesabaranku habis!”

“Kurasa akulah yang mustinya kehabisan rasa sabar melihat tampangmu saat ini!” tukas Wiro Sableng.

“Katakan saja terus terang bahwa kau tak mau menghadap Eyang Sinto Gendeng! Itu lebih baik dan lebih jelas…!”

Mahesa Birawa busungkan dada. Katanya: “Kalau orang tua geblek itu butuh ketemu dengan aku, suruh dia datang ke sini!”

Suara menggeram jelas terdengar di tenggorokan Pendekar 212. Mukanya kelam membesi. Tanah yang dipijaknya melesak sampai tiga senti!

“Bicaramu terlalu besar Mahesa Birawa! Terlalu pongah! Dosamu sendiri sudah lebih dari takaran! Hari ini kau hina gurumu sendiri! Guru yang bertahun-tahun telah memeliharamu, mengajarmu segala ilmu kepandaian! Guru yang telah kau nodai nama baiknya! Kau mengandalkan apakah, Mahesa Birawa….. ?!”

“Bocah gila! Terpaksa mulutmu kurobek detik ini juga!” bentak Mahesa Birawa. Secepat kilat, belum lagi habis bicaranya maka lima jari-jari tangan kanannya bergerak mencengkeram ke muka. Pendekar 212 tertawa. Tertawa dan bersiul. Bentakan nyaring menggeledek dari mulutnya dan dia lompat ke samping sambil hantamkan tangan kirinya.

Mahesa Birawa terkejut ketika merasakan satu angin yang deras mendorong tubuhnya. Cepat-cepat dia pergunakan tangan kanan untuk memapasi dorongan angin itu tapi tak urung tubuhnya menjadi gontai juga! Maka kini keringat dingin memercik di kening laki-laki itu!

“Urusan kekerasan urusan mudah, Mahesa!” kata Wiro Sableng.

“Tapi bicaraku masih belum habis. Tujuh belas tahun yang lewat kau pernah malang melintang di Jatiwalu. Ingat…?”

“Pemuda sedeng! Dari mana…”

“Ah… kau masih ingat! Bagus… bagus sekali! Apa kau juga ingat bahwa pada masa tujuh belas tahun itu kau telah membunuh Ranaweleng, Kepala Kampung Jatiwalu?! Apakah kau juga masih ingat bahwa pada masa itu kau juga merusak kehormatan seorang perempuan bernama Suci, isteri Ranaweleng, kemudian karena malu perempuan itu bunuh diri?! Apa kau juga masih ingat dan sanggup menghitung berapa banyak jiwa penduduk yang kau renggut, kau bunuh?!”

Mulut Mahesa Birawa terkatup rapat-rapat. Dan pendekar 212 buka mulut lagi: “Kalau aku tidak ingat pesan Eyang Sinto Gendeng, pada detik aku melihat tampangmu aku sudah bertekad untuk mengermus kepalamu! Kini setelah tahu bahwa kau tidak mau diperintahkan untuk menghadap ke puncak Gunung Gede maka tak ada lagi halangan bagiku untuk membalaskan dendam kesumat seribu karat, untuk membalaskan sakit hati yang berurat berakar sejak tujuh belas tahun yang lewat! Ketahuilah Mahesa Birawa, aku adalah anak Ranaweleng. Dan aku adalah juga murid Eyang Sinto Gendeng! Adik seperguruanmu sendiri, tapi yang akan memisahkan roh busukmu dengan tubuh bejatmu!”

Habis berkata begini maka tertawalah pendekar 212. Suara tertawanya keras dan panjang, menegakkan bulu roma. Bergetar hati Mahesa Birawa mendengar suara tertawa yang menegakkan bulu kuduknya itu. Terbayang olehnya masa tujuh belas tahun yang silam. Begitu cepat waktu berlalu dan tahu-tahu kini dia berhadapan dengan kenyataan yang pahit! Berhadapan dengan anak laki-laki dari suami istri yang pernah menjadi korbannya. Seperti tak percaya dia akan kenyataan ini!

“Orang muda…!” kata Mahesa Birawa pula. Suaranya diperbawa dengan aliran tenaga dalam agar tidak kentara getaran hatinya.

“Kuharap kau cepat-cepat saja bangun dari mimpimu dan tahu berhadapan dengan siapa…!”

Pendekar 212 tertawa lagi seperti tadi. Lebih seram malah! Dan didengarnya suara Mahesa Birawa, musuh besarnya itu berkata pongah: “Jangankan kau… Eyang Sinto Gendeng sekalipun tak akan sanggup turun tangan terhadapku! Kalau kau teruskan niat edanmu, ketahuilah bahwa kedatanganmu sejauh ini dari puncak Gunung Gede hanyalah untuk mencari mampus sendiri!”

“Kita akan lihat Mahesa Birawa! Kita akan saksikan! Darah siapa di antara kita yang akan dihisap oleh tanah! Kau telah menentukan kematian ibu bapakku di siang hari! Disaksikan oleh langit siang dan matahari! Karena itu besok, bila matahari tepat sampai di puncak ubun-ubun, aku tunggu kau di atas bukit ini! Biar langit dan matahari yang dulu menyaksikan kematian ibu bapakku, besok menyaksikan pula kematianmu, menyaksikan pembalasan dendam kesumat seribu karat!”

Mahesa Birawa keluarkan suara mendengus.

“Aku bukan manusia yang bisa menunggu, apa lagi terhadap keroco macam kau! Tapi dengar orang muda… daripada kau mati tiada guna, aku ada usul baik bagimu. Ikut bersamaku menghancurkan Pajajaran, niscaya kau akan kuangkat kelak menjadi seorang pejabat berpangkat tinggi…!” Wiro Sableng bersiul.

“Aku tidak butuh usul, Mahesa Birawa, juga tidak butuh apa-apa. Saat ini aku hanya butuh roh busukmu! Besok siang di tempat ini. Mahesa. Darahmu atau darahku, nyawamu atau nyawaku!” Maka kini Mahesa Birawa tidak dapat lagi menahan hatinya.

“Tak perlu tunggu sampai besok! Sekarang pun aku bersedia melayani! Terima pukulan seribu badai ini!” Mahesa Birawa menerjang ke muka. Tangan kanannya memukul dan gelombang angin yang sangat hebat menderu menyambar ke arah pendekar 212. Yang diserang tanpa tunggu lebih lama berkelebat dan melompat setinggi tujuh tombak. Kedua kakinya tergetar dan linu ketika angin pukulan lawan dalam jarak setinggi itu masih sanggup menyapu kedua kakinya!

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 15)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.