Rabu, 24 Mei 2017

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 13)

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran

Merah paras Rara Murni mendengar kata-kata Wiro Sableng. Tentang diri penolongnya ini memang tak pernah dilupakannya, terutama mengingat kehebatannya. Maka bertanya pula dia: “Mengapa kau ingin ketemu aku…?”

“Oh, jadi tak boleh ketemu?”

“Bukan begitu maksudku, Saudara…”

“Dengar Rara, aku musti bertemu dan bicara dengan Sang Prabu malam ini juga…”

Rara Murni terkejut. “Ada urusan apa…?”

“Urusan penting. Penting sekali…” Rara Murni berpikir-pikir. Pemuda ini selama dikenalnya meski ceriwis dan suka bicara ngelantur tapi hatinya polos. Namun demikian dia masih belum tahu siapa adanya pemuda ini. Bukan mustahil dia adalah seorang pengkhianat macam Kalasrenggi tapi yang menjalankan taktik secara lain. Purapura menolong pertama kali, kemudian bila tiba saatnya akan menggolong.

“Katakan saja urusan pentingmu itu, saudara. Nanti aku yang sampaikan kepada Sang Prabu….”

“Ini bukan urusan perempuan, Rara Murni.” kata Wiro Sableng pula.

Rara Murni yang lebih mementingkan keselamatan kakak kandungnya Prabu Kamandaka menjawab: “Maaf, walau bagaimanapun aku tak dapat mempertemukan kau dengan Sang Prabu…”

Wiro Sableng tak berkata apa-apa. Digaruknya kepalanya. “Sukar memang untuk percaya pada manusia macamku. Tapi biarlah, bertemu dengan kau puas juga hatiku.”

Pendekar itu tertawa dan kembali melihat bagaimana kedua pipi Rara Murni menjadi merah. Tiba-tiba tangan kirinya dihantamkan ke muka dengan telunjuk terpentang lurus-lurus. Tanpa keluarkan suara inang pengasuh yang tadi berlutut kini rebah tiada sadarkan diri. Rara Murni hendak menjerit. Tapi mulutnya ditekap oleh Wiro Sableng. Pemuda ini berkata:

“Rara, perempuan itu tak apa-apa. Aku hanya menotoknya agar jangan sampai dia membocorkan rahasia. Ketahuilah, istanamu ini kini penuh dengan pengkhianat-pengkhianat. Aku tak tahu siapa yang menjadi biang pengkhianat! Kalau tahu siang-siang sudah kupuntir kepalanya dan kubawa ke hadapan Sang Prabu. Kuharap besok pagi atau malam ini juga kau bawalah Sang Prabu ke kamarmu ini dan baca pesanku ini?”

Habis berkata demikian pendekar 212 melangkah ke dinding dan pergunakan jari telunjuknya untuk menulis. Menulis serentetan syair yang mengandung nasihat dan peringatan. Dalam waktu yang dekat akan pecah pemberontakan Pemberontakan menggulingkan Sang Prabu dari takhta kerajaan Istana penuh dengan pengkhianat-pengkhianat bermuka jujur tapi berhati seculas setan Siapkan bala tentara di luar tembok kerajaan 212

“Samapi ketemu lagi Rara Murni.” kata pendekar 212 Wiro Sableng sehabis menulis rentetan syair itu. Lalu cepat-cepat ditinggalkannya kamar itu. Rara Murni memburu ke pintu tapi si pemuda sudah lenyap. Ketika malam itu juga Rara Murni menemui Sang Prabu dan menerangkan tentang kedatangan pemuda aneh itu maka terkejutlah Prabu Kamandaka.

Dengan langkah besar-besar dan tanpa pengawal sama sekali Raja Pajajaran itu bersama adiknya pergi ke kamar. Dan memang apa yang tertulis di dinding kamar cocok seperti apa yang diterangkan adiknya. Dinding kamar itu dari batu dan dilapisi dengan marmer putih yang sangat keras. Dengan pahat sekalipun akan sukar menuliskan rentetan syair itu. Tapi si pemuda aneh telah menuliskannya dengan ujung jari!

“Bagaimana pendapat Kanda?” tanya Rara Murni kepada kakaknya.

“Pemuda itu tentu seorang yang sakti luar biasa.” kata Prabu Kamandaka.

“Tapi apa yang dituliskannya di dinding ini, adalah satu hal yang aku belum bisa percaya. Tentara kerajaan telah mengadakan pembersihan. Dan tak seorang pengkhianat pun ditemukan…”

“Mungkin mereka semua sudah menyingkir dan mempersiapkan diri di satu tempat yang tersembunyi di luar kerajaan,” kata Rara Murni pula.

Prabu Kamandaka mengusap-usap dagunya. Lalu katanya: “Rahasiakan tentang tulisan ini, Dinda. Meski aku tak percaya, aku akan mengadakan penyelidikan juga.” Sesudah itu, keluarlah Kamandaka dari kamar adiknya.

~ 16 ~ 

“Berhenti!”

“Tahan!” Enam prajurit maju ke muka, enam ujung tombak ditujukan ke dada dan punggung manusia berpakaian putih itu.

“Siapa kau?!”

“Aku mau bertemu dengan Mahesa Birawa!”

“Keparat, aku tanya siapa, menjawabnya lain” bentak prajurit itu. Laki-laki itu menggeram dalam hati.

“Tunjukkan kemah Mahesa Birawa. Kalau tidak antarkan aku kepadanya!”

“ Manusia bau tengik! Kau kira kami ini budakmu?”

“Kau mata-mata Pajajaran ya?!” bentak prajurit yang paling kanan sekali. Ujung tombaknya kini digeser ke tenggorokan laki-laki asing itu.

“Kalian sontoloyo semua! Aku bicara baik-baik, dibalas dengan bentakan-bentakan! Sialan!” Enam ujung tombak dengan serta merta bergerak ke muka. Laki-laki yang hendak menjadi bahan sasaran ujung senjata itu berkelebat cepat. Satu kali gebrakan saja maka mentallah keenam prajurit itu! Empat tergelimpang di tanah tak bangun lagi. Satu berdiri nanar, sedang yang satu sambil memegang perutnya yang kesakitan, masih sanggup berteriak memanggil kawan-kawannya.

Maka dalam sekejapan mata saja puluhan prajurit dengan senjata terhunus sudah mengurung tempat itu, mengurung ketat laki-laki berpakaian serba putih. Oborobor menerangi tempat itu dan jelaslah tampang manusia yang telah menggeprak enam prajurit tadi. Dia memandang berkeliling dengan air muka melontarkan senyum mengejek.

“Inikah tampangnya manusia-manusia yang hendak memberontak pada kerajaan…?” Laki-taki itu tertawa mengekeh.

“Kalian manusia dogol semua. Mau saja diperalat oleh segelintir manusia yang hendakkan kekuasaan secara keji! Kalau kalian kalah, kalian dan dipancung semua! Kalau kalian menang, kalian dapat apa?!” Seorang laki-laki berbadan tinggi kekar dan berkulit hitam maju ke hadapan orang asing itu. Dia adalah seorang pelatih prajurit-prajurit yang hendak memberontak itu.

Satu tangan bertolak pinggang, satu lagi menuding tepat-tepat ke muka si orang asing, dia berkata: “Kurasa kau masih belum buta untuk melihat kenyataan, di mana kau berada saat ini!” kata laki-laki tinggi besar itu. Si orang asing masih tertawa seperti tadi, mengekeh mengejek. Si tinggi kekar yang merasa dihina di hadapan orang banyak dengan gemas sekali hantamkan tinju kanannya ke perut si orang asing.

Apa yang terjadi kemudian terlalu cepat untuk dilihat oleh mata orang banyak di tempat itu. Tubuh kepala pelatih yang tinggi besar itu jungkir balik di udara dan jatuh punggung di tanah. Untuk beberapa lamanya tak dapat bergerak-gerak! Kesunyian karena terkejut dan keheranan hanya berlangsung beberapa ketika saja. Begitu terdengar seseorang berteriak maka menyerbulah puluhan prajurit itu. Suara beradunya senjata riuh dan kacau balau.

“Tahan!” Seorang prajurit berteriak.

“Lihat! Kita menghantam sesama kita! Kunyuk itu sudah ada di sana!” Dan ketika semua mata memandang ke jurusan yang ditunjuk maka kelihatanlah orang asing tadi berjalan seenaknya di sela-sela kemah prajurit! Sewaktu dirinya diserang, secara bersama-sama tadi, laki-laki itu dengan kecepatan luar biasa jatuhkan diri di tanah dan lolos di antara selangkangan para penyerangnya.

Keadaan malam yang gelap menolongnya untuk lolos dan melangkah seenaknya di sela-sela kemah. Metihat bahwa orang yang mereka serang sudah berada di tempat lain, di samping terkejut tentu saja prajurit-prajurit itu menjadi geram sekali. Apa lagi kepala pelatih yang tadi dibikin menggeletak di tanah dalam satu kali gebrakan. Dia berseru memanggil prajuritprajurit lainnya.

“Kurung bangsat itu! Kalau tak mungkin ditangkap hidup-hidup, cincang sampai lumat!” perintahnya. Kepala pelatih ini kemudian cabut kerisnya. Sebelum menyerbu di antara anak buahnya dia memberi perintah pada seorang prajurit yang kebetulan berada di dekatnya: “Beri tahu hal ini pada Mahesa Birawa….!”

Di dalam kemah besar itu tengah berlangsung perundingan. Mahesa Birawa tengah berkata: “Besok Raden Werku Alit sudah berada di sini dan agaknya…”

Ucapan Mahesa Birawa terputus. Kepalanya berpaling ke kanan dan dari mulutnya keluarlah suara bentakan: “Pengawal! Apa kamu orang tidak tahu bahwa tidak siapa pun boleh masuk ke dalam kemah ini? Keluar…!”

“Mohon maaf Raden…” kata pengawal kemah seraya menjura dua kali.

“Seorang prajurit memberitahukan bahwa terjadi kerusuhan di sebelah timur…”

“Kerusuhan…?!” Mahesa Birawa berdiri dari kursinya.

“Ya, seorang asing diketahui memasuki perkemahan. Ketika dikurung dan ditanyai dia melawan. Dia merubuhkan enam prajurit! Memukul kepala pelatih Suto Rande dan kini tengah dikeroyok oleh puluhan prajurit di bawah pimpinan Suto Rande!”

“Hanya seorang asing nyasar ke sini saja kalian tidak bisa membereskan?! Memalukan sekali!” kertak Mahesa Birawa.

Tapi dalam hatinya dia sebagai seorang yang sudah berpengalaman dalam dunia persilatan memaklumi, kalau seseorang sanggup merubuhkan enam lawan sekaligus, bahkan memukul jatuh kepala pelatih prajurit ini suatu tanda bahwa dia bukanlah orang sembarangan, pasti mempunyai ilmu yang diandalkan. Tapi siapa adanya orang asing yang berani datang seorang diri ke perkemahan itu, inilah satu hal yang ingin diketahui Mahesa Birawa.

Mahesa Birawa berpaling pada Adipati-Adipati yang ada dalam kemah itu dan berkata: “Harap maafkan. Aku terpaksa meninggalkan persidangan sebentar untuk membereskan keonaran…”

Semua Adipati menganggukkan kepala. Adipati Tapak Ireng berkata: “Mungkin sekali perusuh ini seorang mata-mata Pajajaran…”

“Boleh jadi,” sahut Mahesa Birawa seraya menindak ke pintu kemah.

Dan saat itu pengawal kemah berkata: “Orang asing itu berkata bahwa dia ingin bertemu dengan Raden…”

“Dengan aku?” Mahesa Birawa menuding dadanya sendiri. Pengawal mengangguk. Ini membuat Mahesa Birawa tambah ingin lekas-lekas mengetahui siapa adanya perusuh itu. Pertempuran berkecamuk seru ketika Mahesa Birawa sampai ke sana bersama seorang prajurit. Prajurit ini hendak berseru tapi diberi isyarat oleh Mahesa Birawa agar diam saja.

Akan disaksikannya dengan mata kepala sendiri beberapa jurus kehebatan pertempuran itu. Pekik dan jeritan terdengar hampir setiap saat. Setiap pekikan musti disusul dengan menggeletaknya tubuh seorang pengeroyok. Menurut taksiran Mahesa Birawa saat itu ada sekitar tiga puluh prajurit di bawah pimpinan Suto Rande yang mengeroyok si orang asing.

Diam-diam Mahesa Birawa mengagumi juga kehebatan orang asing itu. Masih muda belia, bertampang keren dan senjatanya sebuah tombak yang diputar seperti kitiran, menderu dan setiap saat meminta korban dari pihak pengeroyok! Mahesa Birawa tahu betul, tombak yang di tangan pemuda itu adalah tombak rampasan. Dan yang membuat Mahesa Birawa terpaksa leletkan lidah ialah meski dikeroyok puluhan manusia, si pemuda itu dengan seenaknya saja melayani sambil tertawa dan bersiul!

Beberapa orang lagi rubuh menggeletak dengan perut atau dada terluka parah disambar ujung tombak. Kemudian terdengar lagi satu pekikan dahsyat. Sesosok tubuh mental, jatuh tepat di hadapan Mahesa Birawa. Ketika diteliti oleh Mahesa Birawa ternyata sosok tubuh itu adalah sosok tubuh Suto Rande, kepala pelatih prajurit! Nyawanya sudah minggat dan pada keningnya kelihatan guratan angka 212…!

Angka ini sekaligus mengingatkan Mahesa Birawa pada keterangan kurir Raden Werku Alit tentang kematian Kalasrenggi secara aneh, digantung kaki ke atas kepala ke bawah dan juga ada angka 212 pada kulit keningnya! Tanpa menunggu lebih banyak korban lagi yang jatuh maka berserulah Mahesa Birawa!

~ 17 ~ 

“Aku Mahesa Birawa memerintahkan untuk hentikan pertempuran ini!” Suara yang hampir menggeledek itu dengan serta merta menghentikan pertempuran. Prajurit-prajurit yang mengeroyok melompat ke luar dari kalangan pertempuran. Si pemuda asing masih berdiri di tempat dengan tombak di tangan.

Teriakan Mahesa Birawa tadi membuat dia putar kepala ke arah datangnya suara itu. Dan sepasang matanya segera membentur sesosok laki-laki berbadan tegap berkumis lebat melintang, berpakaian bagus. Pada pinggangnya terselip keris. Dalam hatinya pemuda itu menggumam: “Hem… jadi inilah dia manusianya yang bernama Mahesa Birawa itu…” Selagi dia menggumam begitu laki-laki itu melangkah mendatanginya.

“Orang asing!” kata Mahesa Birawa dengan nada keren dan lantang.

“Meski kau punya sedikit ilmu yang diandalkan, tapi di sini bukanlah tempat untuk memamerkannya!” Si pemuda keluarkan suara bersiul.

“Betul aku berhadapan dengan Mahesa Birawa saat ini…?” tanyanya.

“Kau siapa?!” membentak Mahesa Birawa.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 14)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.