Rabu, 24 Mei 2017

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 11)

 Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran

Ucapan Pendekar 212 itu memang terpikir ada benarnya oleh Rara Murni. Tapi menunggang kuda bersama pemuda itu, tentu saja dia merasa malu sekali. Apa akan kata orang bila melihat hal itu nanti? Kemudian didengarnya pula oleh gadis ini suara Wiro Sableng kembali: “Makin cepat kau sampai ke Kotaraja semakin baik…”

Rara Murni termenung sejurus. Tapi hatinya tetap keras tak mau naik kuda bersama pemuda itu. Tanpa banyak bicara gadis ini kemudian putar tubuhnya dan bergegas meninggalkan tempat itu. Wiro Sableng menggerutu dalam hatinya.

“Gadis keras kepala! Kalau sudah lecet kulit kakinya baru tahu rasa!” Dia geleng-geleng kepala dan melangkah pula mengikuti. Beberapa lama kemudian mereka sampai di tepi sebuah jalan umum. Selama itu tak satu pun dari keduanya yang buka mulut.

“Rara,” kata Wiro ketika mereka sampai di jalan umum itu.

“Ada baiknya kita berhenti istirahat di sini. Siapa tahu ada kereta atau gerobak yang lewat dan kita bisa menumpang.” Gadis itu tak menjawab. Tapi dia menghentikan langkah karena memang kedua kakinya sudah letih. Hampir sepuluh menit mereka berdiri di tepi jalan itu tapi tak satu kendaraan pun yang lewat.

“Rara Murni…” kata Wiro Sableng.

“Agaknya kau tidak senang terhadapku…? Tak mau bicara denganku?” Rara Murni diam saja. Sebenarnya memang tak ada yang harus ditidaksenangkannya terhadap pemuda itu. Hanya segala apa yang tadi terjadi dan segala apa yang hampir menimpa dirinyalah yang membuat dia jadi tak banyak bicara dan merasa bercuriga terhadap pemuda berambut gondrong yang sampai saat itu masih belum juga diketahuinya siapa adanya. Wiro Sableng memandang ke ujung jalan. Sepi tiada bermanusia.

“Kita berangkat lagi, Rara…?”

“Saudara….” kata Rara Murni untuk pertama kalinya sesudah sedemikian lama berdiam diri.

“Kau sendiri siapa sebenarnya dan mau menuju ke mana?”

“Ah… ini pertanyaan yang bagus sekali. Bagus sekali,” kata pendekar 212 dengan senyum-senyum.

“Siapa aku, kurasa tidak penting. Dan ke mana aku mau menuju… aku sendiri sebenarnya juga tidak tahu… !” Rara Murni memandang dengan sudut matanya memperhatikan pemuda itu. Jawabannya seperti jawaban orang yang tidak betul pikirannya, atau mungkin pula jawaban itu hanya sekedar jawaban belaka.

Tiba-tiba keduanya memalingkan kepala ke ujung jalan sebelah kanan. Di kejauhan kelihatan muncul sebuah gerobak, ditarik oleh dua ekor lembu. Di bagian depan gerobak yang terbuka itu duduk dua orang laki-laki. Mereka berpakaian petani sedang setengah dari gerobaknya sarat dengan sayur mayur.

“Nasib kita baik juga rupanya Rara,” kata Wiro Sableng. Dan ketika gerobak itu datang mendekat, pemuda ini segera lambaikan tangannya. Gerobak berhenti.

“Saudara, apakah kalian menuju ke Kotaraja?” Kedua orang di atas gerobak tak menjawab pertanyaan Wiro Sableng melainkan memandang lekat-lekat pada gadis di sampingnya.

“Kalau kami tak salah lihat,” kata laki-laki yang mengemudikan gerobak, “Agaknya kami berhadapan dengan Tuan Puteri Rara Murni, adik Sang Prabu Pajajaran…”

Rara Murni mengangguk dan kedua orang itu segera turun dari kereta lalu menjura.

“Ada hal apakah sampai Tuan Puteri berada di tempat ini…?” tanya laki-laki yang memegang kemudi gerobak. Kedua matanya kemudian melirik sekilas pada Wiro Sableng, lalu melirik pada kawannya. Rara Murni hanya menarik nafas panjang. Karena mengira pemuda rambut gondrong dan berpakaian sederhana itu adalah hamba sahaya atau pembantu Rara Murni maka yang ditanya menjawab dengan anggukan kepala acuh tak acuh.

Seorang dari mereka kemudian berkata pada Rara Murni: “Jika Tuan Puteri bermaksud hendak kembali ke Pakuan, kami tentu saja bersedia bahkan merasa berkewajiban untuk membawa Tuan Puteri. Tapi maafkanlah keadaan kereta kami, kotor dan penuh sayuran…”

“Itu tak menjadi apa, pokoknya asal sampai ke Kotaraja.” Yang menjawab adalah Wiro Sableng. Ini mengesalkan kedua orang itu. Kemudian mereka menolong Rara Murni naik ke atas gerobak. Gadis itu duduk di sebelah muka, di samping pengemudi sedang kawannya bersama Wiro Sableng duduk di sebelah belakang, di samping tumpukan sayur. Tak lama kemudian gerobak itu pun bergeraklah.

~ 14 ~ 

Kesunyian sepanjang jalan itu kini dipecahkan oleh suara deru roda gerobak. Sekali-sekali diselingi dengan gemeletakkan-gemeletakkan bila roda gerobak menggilas bebatuan atau suara kayu-kayu kendaraan itu bergerobyakan ketika salah satu rodanya memasuki lobang jalanan. Saat itu masih cukup jauh dari Kotaraja, Pendekar 212 duduk melunjurkan kedua kakinya di bagian belakang kereta. Matanya terpejam-pejam oleh hembusan angin siang yang sejuk. Beberapa kali dia sudah menguap.

Orang yang duduk di hadapannya senantiasa membuang muka, segan atau tepatnya tak senang memandang pada pemuda ini yang sebentarsebentar menguap, sebentar-sebentar menggaruk kepalanya yang berambut gondrong. Beberapa saat kemudian Wiro Sableng membuka juga kedua matanya. Dia menggeliat. Ini menambah ketidaksenangan orang yang di hadapannya.

“Saudara, aku minta mentimunmu satu…” kata Wiro Sableng. Dan tidak menunggu jawaban pemilik sayuran itu langsung saja Wiro Sableng mengambil sebuah mentimun besar dan menggerogotinya. Orang yang di depan Wiro Sableng memaki dalam hati. Rahangnya terkatup rapat-rapat.

“Rara Murni…” seru Wiro Sableng tiba-tiba.

“Apakah kau suka makan mentimun?” Di bagian depan kereta Rara Murni berpaling sebentar tapi tak menjawab.

“Panas-panas begini enak sekali makan mentimun, untuk pelepas haus dan mendapatkannya tak usah susah payah…”

“Terima kasih… aku tidak haus, Saudara…” Terdengar jawaban gadis itu.

“Hem…” Wiro Sableng menggumam dan terus juga mengunyah mentimun dalam mulutnya, dan gerobak terus juga bergerak menempuh jalan berdebu dan berlobang serta berbatu-batu.

Di bagian belakang kereta Wiro Sableng mengusap-usap perutnya. Telah tiga butir ketimun amblas ke dalam perut itu dan betapa asamnya tampang orang yang di hadapannya. Kini kembali Wiro Sableng memejamkan matanya. Kalau perut sudah kenyang memang kantuk segera datang. Mendadak gerobak itu dibelokkan ke sebuah jalan buntu yang menuju sungai oleh pengemudinya.

Begitu gerobak berhenti maka terdengarlah suara Rara Murni bertanya: “Saudara, kenapa ke sini dan berhenti di sini?”

Pengemudi gerobak tertawa mengekeh. Tiba-tiba tertawanya yang menjijikkan itu lenyap dan diganti dengan teriakan Rara Murni. Dan di bagian belakang kereta sendiri petani yang duduk dihadapan Wiro Sableng tiba-tiba mencabut sebatang golok dari balik pinggang.

Begitu golok tercabut keluar dari sarungnya tanpa menungu lebih lama segera dibacokkan ke kepala Wiro Sableng yang saat itu masih pejamkan mata, keenakan tidur-tidur ayam tertiup angin sejuk sepanjang perjalanan! Satu jengkal lagi mata gotok yang tajam akan membelah batok kepala pendekar 212, maka terdengarlah bentakan menggeledek.

“Ciaaat!” Tubuh petani yang menyerang terpental ke luar gerobak. Goloknya lepas dan tubuh itu kemudian tergelimpang di tanah dengan perut pecah dihantam tendangan! Manusia ini hembuskan nafas tanpa keluarkan sedikit suara pun! Pandangan bola mata pendekar 212 menyorot bersinar.

“Kentut betul!” makinya dan meludahi muka mayat petani ini.

“Orang lagi enak-enak tidur mau dibacok, rasakan sendiri! Puah…!” Diludahinya lagi muka mayat itu kemudian dipalingkannya kepalanya dengan cepat. Rara Murni tengah meronta-ronta melepaskan cekalan petani yang mengemudikan gerobak sayur.

“Saudara, tolong aku!” teriak gadis itu pada Wiro Sableng.

“Petani sialan!” gerendeng Wiro Sableng seraya melompat dari atas gerobak.

“Budak hina! Pergi dari sini atau kutebas batang lehermu!” teriak laki-laki yang mencekal Rara Murni.

“Sreet!” Dicabutnya sebuah golok dari batik pinggang.

“Hemmm… jadi kau hanyalah seorang rampok bejat yang berkedok sebagai petani huh? Seekor serigala yang berbulu domba… Lepaskan gadis itu atau jidatmu kubikin rengkah!”

“Anjing buduk tak tahu diri, dikasih kebebasan malah minta mampus!” Dengan tangan kirinya pengemudi gerobak itu totok tubuh Rara Murni. Melihat kelihayan totokan laki-laki itu pendekar 212 segera maklum bahwa orang itu bukanlah seorang petani biasa atau pengemudi gerobak yang bodoh, tapi seorang pendekar lihay yang tengah menyamar!

Maka ketika senjata lawan berkelebat ke arah kepalanya pendekar 212 bergerak cepat dan tak mau kasih peluang lagi. Pengemudi gerobak itu buka matanya lebih lebar sewaktu melihat orang yang diserangnya tenyap dari hadapannya. Sambaran goloknya yang deras mengenai tempat kosong. Ini membuat laki-laki itu terdorong ke muka dan pada saat inilah kedua matanya melihat sosok tubuh kawannya yang menggeletak di tanah dengan perut pecah!

Berdiri bulu kuduk laki-laki ini. Tapi hanya sebentar saja. Rasa ngeri ini segera digantikan dengan rasa geram dan amarah yang meluap. Tubuhnya diputar kembali, untuk kedua kalinya berkiblatlah senjatanya menyerang Wiro Sableng. Tapi kali yang kedua ini justru adalah saat kematiannya! Senjatanya lagi-lagi menghantam angin kosong dan sebelum dia sempat mengirimkan serangan berikutnya maka lima jari tangan dilihatnya berkelebat dekat sekali ke arah keningnya, tak bisa dipapaki dengan golok, tak bisa dikelit dengan kecepatan yang bagaimanapun!

“Plaaak!” Telapak tangan kanan pendekar 212 mendarat di kening laki-laki itu, disusul dengan suara jerit kesakitan. Laki-laki itu terguling ke tanah tidak sadarkan diri lagi. Kulit keningnya hitam seperti terbakar dan di bagian tengah kulit kening itu terteralah angka 212. Laki-laki ini bernasib masih untung dari kawannya karena pendekar 212 tidak menamatkan riwayatnya. Wiro Sableng melepaskan totokan yang mengakukan tubuh Rara Murni.

“Hari ini nasibmu sial terus-terusan rupanya, Rara,” kata pemuda itu dengan senyum-senyum. Si gadis tak berkata apa-apa. Mukanya masih agak pucat.

Dan Wiro Sableng berkata lagi: “Tapi ada juga untungnya. Gerobak ini sekarang jadi milik kita. Ayo kita teruskan perjalanan. Rara Murni naik kembali ke atas gerobak. Wiro Sableng mengemudikan gerobak itu. Sepanjang perjalanan gadis itu tak habis pikir. Pemuda yang duduk di sampingnya itu bertampang gagah, tapi aneh dan juga lucu. Dan di samping itu kehebatan yang telah disaksikan sendiri olehnya tadi diam-diam membuat dia mengagumi si pemuda. Dan sampai saat ini Rara Murni tidak tahu sama sekali siapa nama pemuda itu!

Beberapa jauh di luar tembok kerajaan, Wiro Sableng menghentikan gerobak. Dia berpaling ke samping. Lalu berkata: “Rara, Pakuan sudah di depan mata. Aku mengantarkan kau hanya sampai di sini. Kau bawalah terus gerobak ini, tak susah untuk mengemudikannya…”

“Kau sendiri hendak ke mana, Saudara?” tanya Rara Murni heran. Pendekar 212 tertawa.

“Ke mana aku mau pergi itulah satu hal yang aku tidak bisa jawab,” ujar Wiro Sableng pula.

“Cuma pesanku, jangan lupa untuk mengatakan segala kejadian yang kau alami pada Sang Prabu. Kurasa peristiwa-peristiwa yang kau alami itu mempunyai latar belakang. Dan bukan mustahil kalau masih ada pembesar-pembesar istana lainnya yang menjadi pengkhianat macam Kalasrenggi….”

Rara Murni mengangguk.

Kemudian Wiro Sableng berkata lagi: “Juga jangan lupa mengirimkan sepasukan prajurit ke kuil di lembah Limanaluk itu untuk membekuk Kalasrenggi…”

Rara Murni mengangguk untuk kedua kalinya. Ketika dilihatnya pemuda rambut gondrong itu memutar tubuh hendak berlalu, gadis ini cepat-cepat berkata: “Saudara… tunggu dulu.”

Pendekar 212 putar tubuhnya kembali. “Ada apakah Rara…?”

“Aku belum bilang terima kasih pada kau…”

“Ah…” Wiro Sableng goyangkan tangannya, “Tak usah… tak usah. Itu hanya kebetulan saja…”

“Sang Prabu mungkin akan banyak bertanya tentang kau. Kurasa lebih baik kau ikut sama-sama ke istana.”

“Terima kasih. Tapi aku ada urusan lain Rara…” jawab Wiro Sableng.

“Lalu kalau hem… kalau Sang Prabu bertanya siapa namamu, bagaimana aku musti menerangkannya?” Wiro Sableng tertawa.

“Nama itu sebenarnya tidak ada arti apa-apa. Rara. Kita semua dilahirkan tidak bernama. Orang-orang tua kita yang memberi nama dan itu hanya kebiasaan saja…”

“Jadi, apakah kau tidak punya nama?” tanya Rara Mumi pula. Wiro Sableng tertawa lagi.

“Namaku tidak penting Rara. Tapi kalau kau penasaran ingat-ingat angka ini…”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 12)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.