Selasa, 23 Mei 2017

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 10)

 Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran

“Kalau betul kau punya nyali, tahan ini!” bentak Kalasrenggi garang. Dengan satu lompatan cepat Kalasrenggi lancarkan serangan tangan kosong. Tapi serangan yang hebat ini dapat dielakkan lawan dengan mudah bahkan sambil bersiul dan tertawatawa.

“Kalasrenggi, kalau mau baku jotos jangan di dalam sini, mari keluar!” kata si pemuda rambut gondrong atau pendekar 212 Wiro Sableng. Sengaja dia berkata begitu karena khawatir dalam pertempuran nanti Rara Murni yang juga berada di ruangan itu akan mendapat celaka.

“Tak usah banyak mulut! Kau harus mampus disaksikan ketiga mayat anak buahku!” bentak Kalasrenggi pula. Untuk kedua kalinya kepala pasukan Pajajaran yang berkhianat ini menyerang, lebih hebat dari tadi. Tiba-tiba orang yang diserangnya lenyap dari hadapannya. Kemudian di belakangnya terdengar suara siulan.

“Aku di sini Kalasrenggi, mengapa menyerang tempat kosong?!” Kalasrenggi kertakkan rahang. Dia berbalik dengan cepat dan menyerang lebih ganas. Tangannya bergerak cepat, tendangan kaki bertubi-tubi. Keseluruhannya mengeluarkan angin yang keras dan bersiuran. Agaknya permainan silat tangan kosong Kalasrenggi tidak dari tingkat rendahan.

Dari angin pukulan dan tendangannya Wiro sudah dapat menjajaki kehebatan lawan. Karena tak mau ambil resiko pemuda ini segera bergerak cepat. Dalam waktu yang singkat tiga jurus berlalu sebat. Pada saat memasuki jurus keempat Wiro Sableng melihat Rara Murni melarikan diri keluar kuil. Sambil rundukkan kepala mengelakkan hantaman tinju Kalasrenggi, Wiro Sableng berseru: “Rara, tunggu! Jangan pergi dulu!”

Tapi mana si gadis mau dengar. Sambil menyingsingkan kainnya ke atas Rara Murni mempercepat larinya. Terpaksa pendekar 212 lepaskan pukulan tangan kanan ke arah kedua kaki gadis itu. Serangkum angin melesat deras dan dingin. Rara Murni merasa kedua kakinya seperti disiram air es, kemudian kedua kakinya itu kaku tak bisa lagi digerakkan. Larinya dengan serta merta terhenti.

Melihat lawan melakukan dua gerakan sekaligus maka kesempatan ini dipergunakan oleh Kalasrenggi untuk membobolkan pertahanan lawan. Tendangan kaki kanan dan tinju kiri kanan menyerang susul menyusul ke tempat-tempat terlemah dari Wiro Sableng! Namun dengan membentak keras dan berkelebat cepat ketiga serangan lawan dapat dikelit oleh pendekar 212.

Penasaran sekali Kalasrenggi memburu lagi dengan satu serangan berantai. Kali ini, pada saat tangan kanan Kalasrenggi memukul ke muka, pendekar 212 sengaja menyongsong datangnya lengan lawan. Maka beradulah lengan dengan lengan! Kalasrenggi terpekik. Tubuhnya terpelanting ke belakang sampai punggungnya menghantam dinding kuil. Lengan kanannya yang beradu dengan lengan lawan kelihatan biru dan bengkak besar. Sakitnya bukan alang kepalang!

Karena tadi Wiro Sableng melayaninya seperti acuh tak acuh, Kalasrenggi tidak menduga kalau kehebatan lawan demikian lihainya. Sesudah mengurut lengannya yang bengkak biru serta mengalirkan tenaga dalam ke bagian yang terpukul itu maka kemudian Kalasrenggi dengan tangan kirinya mencabut sebilah keris dari balik pinggang. Senjata ini sebuah senjata pusaka juga rupanya karena memancarkan sinar membiru.

Tanpa banyak bicara kepala pasukan Pajajaran itu segera lancarkan serangan dahsyat. Kalasrenggi memang seorang kidal dan permainan kerisnya juga sudah mencapai tingkat yang matang. Apalagi dengan mempergunakan tangan kiri itu maka serangan-serangannya sukar diduga.

Namun demikian pendekar 212 sudah punya rencana sendiri terhadap manusia kepala dua ini! Dibiarkan dan dielakkannya saja untuk beberapa lamanya serangan-serangan keris Kalasrenggi. Kepala pasukan pengkhianat ini semakin gemas dan geram. Dipercepatnya gerakannya namun tetap saja tiada mencapai hasil yang dikehendakinya.

“Pegang senjatamu erat-erat, Kalasrenggi.” kata pendekar 212 memberi ingat. Kalasrenggi masih belum mengerti apa maksud ucapan lawannya itu. Bahkan dia sama sekali tidak dapat melihat dengan jelas gerakan kedua tangan Wiro Sableng. Tahu-tahu saja dirasakannya keris pusakanya terlepas dari tangan. Laki-laki ini mengeluarkan seruan tertahan. Memandang dengan tak percaya pada tangan kirinya yang kosong!

Wiro Sableng tertawa mengekeh dan melompat ke muka. Tangan kanannya terkembang seperti hendak mencengkeram muka Kalasrenggi. Yang diserang cepat merunduk dan berusaha menyodokkan lipatan sikunya ke perut lawan. Tapi kali ini Kalasrenggi tertipu. Tangan yang menyerang dan hendak mencengkeram itu hanya gerakan palsu belaka.

Tanpa dapat dikelit lagi oleh Kalasrenggi maka dua ujung jari tangan kanan Wiro Sableng meluncur ke rusuk kirinya. Mendadak sontak detik itu juga tubuh Kalasrenggi menjadi kaku tegang. Tangan dan kakinya tak bisa digerakkan lagi, tapi mulutnya masih sanggup bicara, telinganya masih bisa mendengar, demikian juga indera-inderanya yang lain masih tetap seperti biasa.

Pendekar 212 sengaja menotok laki-laki itu demikian rupa, sesuai dengan rencananya. Sambil tertawa-tawa dan garuk-garuk kepalanya yang berambut gondrong Wiro Sableng memandangi Kalasrenggi beberapa lamanya. Kemudian pendekar muda ini melangkah mendapatkan Rara Murni. Dilepaskannya totokan yang telah memakukan kedua kaki gadis itu. Rara Murni begitu merasa kakinya bebas segera hendak lari namun tangannya cepat dipegang oleh Wiro Sableng.
“Lepaskan tanganku!” teriak Rara Murni.

“Terhadapku tak usah takut, Rara Murni.” kata pendekar 212 pula.

“Kau siapa?!” tanya Rara Murni dan berusaha melepaskan tangannya yang dipegang.

“Siapa aku itu soal nanti. Tapi apakah kau akan tinggalkan begitu saja Kalasrenggi tanpa memberikan satu hukuman yang setimpal terhadapnya?!”

“Aku akan laporkan kejahatannya terhadap Sang Prabu. Pasukan Kerajaan akan menyeretnya ke Pakuan! Dia pasti akan dibuang ke pulau Neraka!

Pendekar 212 tersenyum. “Kuil ini juga bisa menjadi tempat neraka baginya, Rara Murni. Mari, aku akan tunjukkan cara yang bagus untuk menghukum pengkhianat dan manusia bejat macam dia!”

Dengan seutas tali, pendekar 212 mengikat kedua pergelangan kaki Kalasrenggi. Kalasrenggi yang saat itu meski tubuhnya kaku tapi masih bisa merasa, melihat dan bicara: “Keparat! Kau mau buat apa terhadapku?!”

“Ah, kau masih bilang keparat, Saudara…” jawab pendekar 212 dengan tertawa.

“Pernahkah kau melihat dunia terbalik?! Melihat dengan kaki ke atas kepala ke bawah?!”

“Apa maksudmu?!” bentak Kalasrenggi. Tapi dalam hatinya dia sudah dapat menduga apa yang bakal dilakukan oleh Wiro Sableng dan tubuhnya mengucurkan keringat dingin.

“Apa maksudku kita akan saksikan sama-sama, Kalasrenggi,” kata Wiro Sableng pula. Sekali saja tali yang mengikat kedua pergelangan kaki Kalasrenggi ditariknya maka terbantinglah laki-laki itu ke lantai kuil. Kutuk serapah dan keluh kesakitan bersemburan dari mulut Kalasrenggi.

“Sudahlah, jangan memaki-maki juga, tak ada gunanya,” kata pendekar 212. Dia memandang ke atas atap kuil dan dilihatnya sebuah tiang yang membentang memalang di bawah atap. Ujung tali yang dipegangnya dilemparkannya ke atas. Bila ujung tali itu menjuntai ke bawah kembali setelah terlebih dahulu menyangkut di tiang palang maka pendekar 212 mulai mengerek badan Kalasrenggi. Gelap dunia ini bagi Kalasrenggi.

Dalam tempo yang singkat mukanya menjadi sangat merah karena darah yang mengalir turun memberati mukanya. Laki-laki ini coba meronta, tapi tubuhnya kaku tak bergerak, hanya terbuai-buai saja macam karung diisi pasir dan digantung! Yang bisa dilakukan Kalasrenggi hanya memaki dan memaki tiada habisnya dia menjadi letih sendiri.

Pendekar 212 tertawa mengekeh macam kakek-kakek. Dia berpaling pada Rara Murni sebentar lalu bertanya pada Kalasrenggi: “Bagaimana, indahkah dunia ini bila dilihat terbalik…?”

“Demi setan bila bebas aku bersumpah untuk mencincang tubuhmu keparat…!” hardik Kalasrenggi.

“Sumpahmu terlalu hebat Kalasrenggi. Tapi bisakah kau membebaskan dirimu dari jarijari tanganku ini…?” Dengan senyum-senyum Wiro Sableng melangkah mendekati Kalasrenggi. Kemudian sepuluh jari-jari tangannya menggerayang menggelitiki tulang rusuk Kalasrenggi! Laki-laki ini menjerit, melolong setinggi langit sampai suaranya menjadi serak!

Wiro Sableng tertawa senang. Rara Murni sendiri hampir-hampir tak dapat menahan gelinya. Dan Kalasrenggi terus juga berteriak, menjerit, melolong dan memekik dengan suaranya yang serak parau itu!

“Rara Murni, ayo mengapa diam saja? Kalau kau ingin membalaskan sakit hatimu terhadapnya, inilah saatnya,” kata Wiro Sableng pula. Meski amarahnya memang masih meluap terhadap Kalasrenggi namun berada lebih lama di situ menimbulkan kekhawatiran bagi Rara Murni. Gadis ini walau bagaimanapun tak dapat memastikan manusia yang bagaimana adanya pemuda rambut gondrong itu, meskipun dianya telah menolong dan menyelamatkan diri serta kehormatannya.

Karenanya tanpa banyak bicara menyahuti ucapan Wiro Sableng tadi, juga tanpa membuang waktu, Rara Murni segera lari meninggalkan kuil itu. Kali ini Wiro Sableng tidak berbuat apa-apa lagi untuk menahan Rara Murni, diikutinya saja gadis itu dengan pandangan mata.

“Gadis tolol!” gerendeng pendekar 212 dalam hati. “Dikiranya Kotaraja dekat dari sini!”

Kemudian ketika Rara Murni lenyap di balik kelebatan pohonpohon di lembah Limanaluk itu maka pendekar 212 segera angkat kaki pula, menyusul dengan diam-diam dari belakang…

~ 13 ~

Begitu keluar dari lembah Limanaluk maka sesaklah nafas Rara Murni karena telah berlari itu. Sebelumnya jangankan berlari, berjalan sejauh itu pun tak pernah dilakukannya! Dia berhenti dan berdiri bersandar ke sebatang pohon rindang. Saat itulah baru disadarinya keadaan pakaiannya yang tidak menutupi badannya, terutama letak kain di bagian dadanya. Segera dibetulkannya letak pakaiannya, dirapikannya pula rambutnya.

Dia menunggu sampai nafasnya yang memburu dan dadanya yang sesak pulih seperti sedia kala. Saat itu kedua kakinya pun terasa sakit. Rara Murni merasa bahwa dia tidak sendirian di tempat itu. Dipalingkannya kepalanya. Darahnya tersirap karena begitu kepalanya diputar maka kedua matanya membentur sesosok tubuh yang berada dekat sekali di sampingnya. Orang ini ternyata adalah pemuda rambut gondrong yang di kuil tua tadi!

“Letih?” tanya Wiro Sableng dengan senyum-senyum.

Rara Murni tak menjawab.

“Kotaraja tidak dekat dari sini, Rara…”

“Aku tahu…”

“Lalu, mengapa lari-lari macam begini? Mungkin juga aku membuat kau jadi takut? Rambutku yang gondrong ini barangkali ya?”

“Saudara, kau ini siapa sebenarnya?”

“Aku? Aku ya aku…” jawab Wiro pula.

“Kalau kau hendak bermaksud jahat pula terhadapku sebaiknya berlalunya saat ini juga!”

“Ah… tampangku memang jelek, tapi aku tidak sejahat yang kau sangkakan Rara Murni. Aku hanya tak ingin melihat kau musti lari setengah mati sampai di Kotaraja! Mungkin seperempat jalan kau sudah mengeletak pingsan!”

Rara Murni terdiam. Tapi kemudian dia berkata: “Walau bagaimanapun aku musti kembali ke Kotaraja selekas mungkin…”

“Itu memang betul. Tapi bukan dengan lari caranya. Mari ikut aku…”

“Ikut ke mana?”

“Dengar Rara, kau tak perlu terlalu bercuriga terhadapku. Di tepi sungai sana ada beberapa ekor kuda. Kau bisa naik kuda?”

Gadis itu menggeleng. Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya.

“Kalau begitu…” katanya, “Kau terpaksa naik kuda bersama-samaku!”

Maka merahlah paras Rara Mumi.

“Jangan bicara seenak perutmu, saudara!” bentak gadis ini.

“Heh… aku toh tidak bicara usil. Habis kalau kau tak bisa naik kuda sendiri bagaimana?”

“Aku lebih baik jalan kaki!” sahut Rara Murni dengan hati dan suara keras.

Wiro Sableng tertawa.

“Dengar Rara Murni, aku mempunyai firasat bahwa peristiwa penculikanmu ada ekornya. Ekor yang panjang dan besar. Kalau Kalasrenggi berkhianat terhadap Sang Prabu, terhadap kerajaan Pajajaran, bahkan bukan hanya sekedar berkhianat tapi juga hendak bikin celaka terhadap kau, maka tidak mustahil masih ada pejabat-pejabat tinggi kerajaan lainnya yang turut terlibat dalam pengkhianatan ini…”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 11)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.