Sabtu, 24 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (18)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

“Kau terlalu cepat-cepat ingin mati rupanya setan alas!” desis Bagaspati. Tubuhnya membungkuk ke muka. Kedua kakinya melesak ke dalam tanah sampai dua dim. Ini satu tanda bahwa dia tengah kerahkan tenaga dalam dan siap untuk melancarkan serangan yang dahsyat!

Didahului dengan teriakan macam serigala melolong di malam buta maka Bagaspati melesat ke muka. Dua tendangan dahsyat menderu ke arah perut dan kepala Pendekar 212 sedang pedang hitam membuat satu jurus yang mengandung lima serangan berantai!

“Ciaat!”

Wiro lepaskan pukulan kunyuk melempar buah. Meski pukulan ini berhasil membuat tendangan lawan batal namun pukulan itu sendiri kemudian dibikin buyar oleh sambaran angin pedang Bagaspati!

Penasaran sekali Wiro dalam jurus kedua membuka serangan dengan jurus membuka jendela memanah rembulan. Lengan kanan dipukulkan melintang dari atas ke bawah sedang tangan kiri meluncur ke atas dalam gerakan vang cepat laksana kilat sukar dilihat mata dan terdengarlah seruan tertahan Bagaspati! Betapakan tidak. Detik itu juga dirasakannya pedang hitamnya telah terlepas dari tangan, ditarik oleh satu betotan yang dahsyat! Dan bila dia memandang ke depan dilihatnya senjata itu sudah berada di tangan Wiro Sableng!

“Ha… ha, bagaimana Bagaspati?! Akan kita lanjutkan pertempuran ini?!”

Muka Bagaspati mengelam merah. “Setan alas. Kau datang ke sini untuk mencari Cambuk Api Angin bukan?! Baik! Aku akan keluarkan senjata itu. Tapi bukan untuk diberikan padamu huh! Tapi untuk bikin kau mati konyol!” Bagaspati selinapkan tangan ke dalam jubahnya. Sesaat kemudian maka ditangannya tergenggam sebuah cambuk berhulu gading, berwarna merah. Bagaspati mengekeh.

“Ini ambillah!” Cambuk Api Angin di tangan Bagaspati berkelebat mengeluarkan angin laksana topan dan semburan lidah api yang luar biasa panasnya!

“Prana! Sekar Lekas menyingkir!” teriak Wiro seraya buang diri ke samping beberapa tombak! Cambuk Api angin menderu dahsyat menghantam pohon kelapa di belakang Wiro. Pohon kelapa ini terbabat putus dan baik putusan yang mental di udara maupun yang masih tinggal tertanam di tanah, semuanya hangus ditelan api!

Diam-diam Pendekar 212 leletkan lidah. Di saat itu pula Cambuk Api Angin menderu kembali. Wiro kiblatkan pedang hitam milik Bagaspati. Sementara itu dia melihat bagaimana anak-anak buah Bagaspati yang ada menyingkir sejauh mungkin! Pedang hitam dan cambuk Api Angin saling bentrokan! Api menyembur! Wiro berseru kaget dan cepat-cepat lepaskan pedang hitam di tangannya! Pedang itu berubah menjadi merah, terbakar api Cambuk sakti!

“Keparat!” maki Wiro dalam hati.

“Hebat sekali Cambuk Api Angin itu!” Cambuk Api Angin datang bergulung-gulung. Suaranya seperti petir susul menyusul! Pendekar 212 menjadi sibuk! Melompat kian kemari dengan cepat, jungkir balik di udara dan berguling di tanah! Semua itu untuk hindarkan diri dari serangan Cambuk Api Angin yang ganas!

Pranajaya sendiri tiada menduga Cambuk Api Angin demikian hebatnya. Diam-diam pemuda ini merasa khawatir apakah Wiro akan sanggup bertahan sampai lima jurus di muka. Pakaian Wiro dilihatnya sudah kotor dan robek-robek. Rambutnya yang gondrong acakacakan, mukanya berselemotan tanah! Dan cambuk sakti itu masih juga menderu-deru, mengejar ke mana Wiro berkelebat!

Dua jurus di muka Pendekar 212 benar-benar dibikin sibuk sekali malah terdesak hebat dan dipaksa bertahan mati-matian! Di dalam ketegangan pertempuran yang menyesakkan dada itu tiba-tiba terdengarlah gelak tertawa yang aneh dan suara siulan menggidikkan tak menentu iramanya!

Dalam kejap itu pula sinar putih, kelihatan menabur angin yang memerihkan kulit menderu sedang suara seperti ratusan tawon terdengar datang dari segala jurusan dan tubuh Wiro Sableng sendiri lenyap dari pemandangan! Bagaspati putar Cambuk Api Angin lebih cepat.

Dentuman macam suara petir terdengar tiada henti. Angin laksana topan menggebu dan lidah api hampir setiap saat menyembur ganas! Namun kini gerakan-gerakan yang dibuat Cambuk sakti itu tidak leluasa seperti tadi lagi. Cambuk Api Angin tertahan dalam telikungan putih sinar Kapak Naga Geni 212 ditangan Wiro Sableng ! Bagaimanapun Bagaspati rubah jurus-jurus silat dan percepat permainan cambuknya tetap saja dia merasa semakin kepepet.

“Terima jurus naga sabatkan ekor ini Bagaspati!” seru Wiro. Bagaspati hanya mendengar suara Wiro saja. Serangan Wiro yang bernama jurus naga sabatkan ekor itu sama sekali tidak sanggup dilihatnya karena cepatnya ! Dan tahu-tahu…

“Craas!”

Lalu terdengar lolongan Bagaspati. Cambuk Api Angin terlepas dari tangan kanannya. Tangan kanan itu sendiri tercampak ke tanah, buntung dibabat Kapak Maut Naga Geni 212 sampai sebatas bahu! Darah menyembur kental dan merah.

Bagaspati macam orang gila menjerit-jerit dan lari sana lari sini, seradak seruduk macam orang celeng! Racun Kapak Naga Geni mulai menjalari pembuluh-pembuluh darahnya. Ketika pemandangannya berkunang dan lututnya goyah tak ampun lagi pemimpin bajak ini melosoh ke tanah, berguling-guling dan menjerit-jerit tiada henti! Semua anak buahnya memandang dengan penuh ngeri!

“Bunuh saja aku! Bunuh!” teriak Bagaspati karena tidak sanggup merasakan sakit yang menggerogoti dirinya akibat serangan racun yang sudah menyusup ke seluruh tubuhnya! Bagaspati masih terus berteriak dan berguling-guling sampai beberapa saat di muka namun kemudian ketika nyawanya lepas, maka tubuh itupun menggeletak tak berkutik lagi!

Bagaspati mati dengan tubuh menelentang mulut berbusah dan mata melotot ke langit! Sungguh menggidikkan memandang tampangnya! Pendekar 212 tarik nafas dalam. Sekali tiup saja maka lenyaplah noda darah pada mata Kapak Naga Geni 212. Dia melangkah dan mengambil Cambuk Api Angin.

“Senjata hebat,” katanya sambil geleng kepala. Lalu Cambuk Api Angin itu diberikannya pada Pranajaya.

“Terima kasih Wiro” kata Prana dengan penuh gembira tapi juga haru. Di saat itu Wiro Sableng sudah melangkah kehadapan anggota-anggota bajak yang masih hidup. Jumlah mereka tak lebih dari tiga puluh lima orang kini.

“Kalian semua sudah lihat sendiri betapa mengerikan kematian itu!” seru Wiro dengan suara lantang.

“Kuharap ini menjadi pelajaran yang baik! Berjanjilah bahwa kalian mau meninggalkan pulau ini, berhenti jadi bajak laut dan hidup sebagai manusia baik-baik. Banyak pekerjaan baik seperti jadi nelayan, petani atau berdagang! Dan atas janji kalian itu kami bertiga akan ampunkan nyawa kalian!”

Hening sejenak. Salah seorang anggota bajak tiba-tiba jatuhkan diri berlutut. Kawan-kawannya juga kemudian menyusul berlutut. Wiro garuk-garuk kepala.

“Buset! Orang suruh berjanji kenapa pada berlutut? Memangnya aku ini Tuhan disembahsembah! Bangun semua!” teriak Wiro. Semua anggota banjak itu cepat bangkit berdiri. Pada paras mereka kelihatan rasa tunduk dan kesadaran serta niat untuk kembali hidup sebagai orang baik-baik.

“Tampang-tampang kalian aku kenal semua! Ingat! Kalau kelak ada diantara kalian yang masih kutemui hidup dalam jalan jahat, kalian tahu hukuman apa yang bakal kalian terima!” Wiro berpaling pada kedua kawannya. “Sudah saatnya kita tinggalkan tempat ini kawan-kawan.”

Prana dan Sekar mengangguk. Ketika ketiganya hendak berlalu salah seorang bekas anggota bajak berseru, “Tunggu !”

“Ada apa?!” tanya Wiro.

“Di pulau ini ada satu gudang besar berisi timbunan barang dan uang. Apa yang akan kami lakukan dengan benda-benda itu?!”

“Busyet, kenapa jadi tolol?! Kalian bagi-bagi saja sama rata dan jadikan modal buat hidup baik-baik!” sahut Wiro.

Seorang bekas anak buah Bagaspati lainnya berkata, “Kami tidak keberatan memberikan separoh dari harta dan uang itu pada kalian bertiga!”

Pendekar 212 berpaling pada kedua kawannya lalu tersenyum. “Terima kasih sobat! Kami datang ke sini bukan buat cari harta atau uang, tapi Cambuk Api Angin. Senjata itu telah kami temui dan kami musti pergi!”

Ketika rakit mereka diseret ke tepi pantai, bekas-bekas anak buah Bagaspati itu menawarkan akan mengantarkan mereka ke pantai Jawa tapi mereka menolak.

“Rakit ini cukup baik dan lebih cepat jalannya,” jawab Wiro. Dan betapa anehnya bagi bekas anak-anak buah Bagaspati itu sewaktu menyaksikan rakit tersebut meluncur dalam kecepatan luar biasa, padahal tenaga penggeraknya hanya tangan-tangan Wiro dan Prana yang dibuat sebagai pengganti dayung!

***

PANTAI Jawa telah berada dihadapan mereka dan tak lama kemudian, diwaktu sang surya mulai kemerahan warnanya di ufuk barat maka sampailah mereka di ujung timur Pulau Jawa.

“Kita telah sampai sobat-sobatku!” seru Wiro. Dia yang pertama sekali melompat ke daratan. “Dan ini adalah saat perpisahan kita.”

Prana dan Sekar sama-sama terkejut.

Wiro sebaliknya tertawa. “Tugasmu telah selesai bukan, Prana? Cambuk Api Angin sudah berhasil ditemui…”

“Tapi Wiro…” Ucapan Prana ini dipotong oleh Wiro.

“Di lain hari kelak kita pasti akan jumpa lagi sahabat-sahabat. Ada satu hal yang ingin kukatakan pada kalian.” Wiro memandang Sekar dan Prana berganti-ganti dengan senyum-senyum.

“Kalian ingat malam bulan sabit waktu kita berhenti di tepi anak sungai dulu itu?” Prana dan Wiro saling panda mengingat-ingat dan begitu ingat masing-masing mereka sama memandang pada Wiro.

“Maaf saja, aku mencuri dengar apa yang percakapkan saat itu….” Paras Sekar dan Prana menjadi merah dengan serta merta. Keduanya sama tundukkan kepala. Mereka ingat malam di tepi sungai waktu mereka membicarakan soal cinta itu.

“Sobat-sobatku, kalian boleh saja buat seribu janji. Tapi kalian pertama-tama musti kembali ke tempat guru kalian! Urusan jodoh guru kalian musti diberi tahu…” Paras kedua orang itu semakin memerah. Wiro tertawa bergelak.

“Nah sobat-sobatku, setamat tinggal. Kudoakan agar kalian bahagia.”

“Wiro tunggu dulu!” seru Prana dan Sekar hampir bersamaan. Namun tubuh Pendekar 212 sudah berkelebat. Prana merasakan tepukan pada bahunya sedang Sekar merasa cuilan pada dagunya! Sewaktu memandang berkeliling. Wiro Sableng sudah tiada lagi!

“Aku tak akan melupakan dia.” desis Prana.

“Kelak bila aku punya anak laki-laki, aku akan namakan dia Wiro.” Prana putar kepalanya. Pandangannya bertemu dengan pandangan Sekar. Meski cuma pandang memandang, tapi semua itu menimbulkan satu kekuatan gaib yang membuat mereka saling melangkah mendekat untuk kemudian saling berpeluk. Laut, langit dan matahari sore menjadi saksi betapa mesranya pelukan itu.

TAMAT

Jumat, 23 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (17)

 Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

“Ha… ha… ha… Gurumu keliwat sembrono manusia tangan buntung! Murid masih berilmu cetek disuruh mencari Bagaspati!” Bagaspati angkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

“Sebut namamu cepat!” perintahnya. Pedang hitam ditangan kanan sementara itu perlahanlahan mulai turun, siap diletakkan ke kepala Pranajaya.

“Bagaspati,” terdengar satu suara dari samping, “Sebelum kau bunuh kawanku ini, harap beri kesempatan padaku untuk bicara…!” Bagaspati palingkan kepala dengan penuh kegusaran. “Rambut gondrong, kau bakal terima mampus sesudah kematian kawanmu ini!”

Pendekar 212 Wiro Sableng tersenyum. “Kami datang secara damai untuk meminta kembali pedang yang telah kau pinjam dari Empu Blorok. Apakah pantas seorang bernama besar sepertimu menyambut kedatangan kami dengan perlakuan seperti ini?”

“Pemuda geblek! Pulau ini adalah Pulau Seribu Maut! Kematian bisa terjadi setiap detik! Siapa yang menyebut nama Bagaspati dengan kurang ajar berarti mati!” kata Bagaspati dengan membentak marah dan muka merah.

“Ah… kau masih saja sebut-sebut perkara mati dan mampus,” menukasi Pendekar 212 sambil cengar cengir seenaknya.

“Kawanku sudah bilang bahwa kami datang ke sini untuk minta kembali Cambuk Api Angin. Soal mati atau mampus bisa diurus kemudian kalau kau sudah serahkan cambuk itu padanya! Malah-malah kini kau rampas pedang kawanku!”

“Pemimpin! Yang satu ini biar aku yang bereskan!” satu manusia bertubuh tegap maju dengan kapak besar ditangan kanan. Namanya Surengwilis. Dialah yang telah mengetahui kedatangan Prana dan kawan-kawan yang kemudian melaporkan pada Bagaspati. Bagaspati anggukkan kepala.

“Lekas bereskart dia, Sureng!”

“Sobat kalau kau punya senjata silahkan keluarkan. Aku tak begitu senang membunuh manusia bertangan kosong!” bentak Surengwilis yang saat itu sudah berdiri dihadapan Wiro Sableng. Wiro Sableng garuk kepala.

“Aku tak ada senjata. Bisa pinjam pedang hitammu, Bagaspati?!” Tentu saja kemarahan Bagaspati si kepala bajak laut menjadi naik ke kepala.

“Sureng! Lekas bunuh manusia keparat itu!” teriaknya. Kapak di tangan Surengwilis menderu laksana topan. Detik senjata itu berkiblat, detik itu pulalah terdengar jeritan Surengwilis. Tubuhnya mencelat mental beberapa tombak dan kapak yang tadi dipegangnya tahu-tahu sudah berada di tangan Wiro Sableng! Semua mata melotot besar seperti tak percaya melihat kejadian itu.

Di ujung sana Surengwilis mencoba bangun dari tanah. Dia berdiri gontai seketika sambil memegangi dadanya. Mulutnya membuka seperti hendak mengatakan sesuatu tapi yang ke luar dari mulut itu bukan suara melainkan darah kental dan segar. Sesaat kemudian tubuh Surengwilis melosoh pingsan ke tanah!

“Anak-anak tangkap hidup-hidup keparat ini!” perintah Bagaspati penuh kemarahan. Habis berkata begitu dia segera menyerang Prana dengan pedang di tangan. Satu tusukkan cepat dikirimkannya kepada Prana. Ketika si pemuda bersurut ke samping kanan Bagaspati membabat dengan pedang Ekasakti yang ditangan kirinya. Namun saat itu satu senjata aneh berkelebat ke arah kepalanya, membuat Bagaspati cepat-cepat urungkan serangan. Ketika dia berpaling senjata aneh itu membalik lagi dan menderu ke perutnya!

Yang menyerang pemimpin bajak ini bukan lain Sekar dengan senjata Rantai Petaka Bumi. Kegusaran dan kemarahan Bagaspati tiada terkirakan. Dia membentak keras dan sekaligus tebar serangan pada Prana dan Sekar!

Sewaktu Bagaspati memerintahkan anak-anak buahnya menangkap Pendekar 212 maka lima manusia bertubuh katai maju ke muka. Masing-masing mereka memegang sebuah jala hitam. Satu diantara kelimanya berteriak memberi komando maka lima pasang tangan bergerak dan lima buah jala hitam menebar mulai dari kaki sampai ke kepala Wiro Sableng.

Pendekar 212 gerakkan kedua tangannya sekaligus! Angin deras memapasi lima buah jala itu tapi anehnya jala-jala itu tiada sanggup dibikin mental oleh pukulan dahsyat sang pendekar! Dengan kecepatan luar biasa salah satu dari jala mernjerat tangan Wiro Sableng. Murid Eyang Sinto Gendeng ini betot tangannya untuk menarik jala dan si katai yang memegangnya namun tahu-tahu jala itu bergerak cepat dan kini menjirat sampai ke bahu!

Di kejap yang sama jala kedua menjirat kaki kiri Wiro Sableng. Jala ketiga melibat pinggang, jala ke empat membungkus kepala sampai ke dada, jala ke lima melingkar di betis kaki kanan. Terdengar lagi teriakan salah satu dari lima manusia katai itu dan semua mereka menggerakkan tangan masing-masing. Maka sekali tarik saja tubuh Pendekar 212 tergelimpang dan bergulingan di tanah. Seluruh tubuh mulai dari kaki sampai ke kepala terjerat jala!

Pendekar 212 kerahkan tenaga dalam ke ujung dua tangannya. Tapi kejut Wiro Sableng tidak terkirakan sewaktu. menghadapi kenyataan bahwa dia tak sanggup merobek atau membobolkan jala itu dengan sepeuluh jari-jari tangannya Wiro lipat gandakan tenaga dalamnya. Tetap sia-sia belaka! Malah libatan jala semakin ketat. Tubuh Wiro terhempas ke sebuah pohon. Lima manusia katai anak buah Bagaspati segera mengurungnya. Masing-masing mereka siap membungkuk untuk menotok tubuh Pendekar 212.

Wiro pejamkan mata. Mulutnya komat kamit. Pada saat sepuluh ujung jari hendak melanda menotok badannya maka terdengarlah bentakan yang luar biasa kerasnya.

“Ciaat!”

Dua larik sinar putih yang panas dan sangat menyilaukan menderu! Lima manusia katai mencelat dan meraung. Ketika tubuh mereka terhempas ke tanah kelihatanlah bagaimana pakaian dan kulit mereka melepuh hangus dan hitam. Kelimanya tiada berkutik lagi tanda tak satupun saat itu dari manusia-manusia katai ini yang masih bernafas! Wiro telah lepaskan dua pukulan sinar matahari sekaligus!

Melihat Lima Jala Sakti, demikian nama kelima manusia katai itu menemui kematian maka seluruh anak buah Bagaspati segera menggempur Pendekar 212. Di lain pihak Bagaspati sendiri saat itu tengah mendesak hebat Pranajaya yang bertangan kosong dan Sekar yang bersenjatakan Rantai Petaka Bumi. Paling lama kedua muda mudi ini hanya akan sanggup bertahan sebanyak lima jurus! Pendekar 212 memandang berkeliling.

Kira-kira enam puluh orang anak buah Bagaspati yang memegang berbagai macam senjata mengurungnya sangat rapat. Wiro tak dapat menduga sampai di mana kehebatan ilmu silat bajak-bajak laut ini. Jika mereka cuma mengandalkan ilmu silat luaran, jumlah mereka terlalu banyak untuk mengeroyok satu orang musuh. Salah-salah mereka bisa baku hantam membunuh kawan sendiri. Dengan pandangan tenang, Pendekar 212 menyapu muka-muka bajak laut yang semakin maju dan memperketat pengurungan.

“Kalian mau main keroyok?!” kertas Wiro.

“Boleh!” kedua telapak tangan dipentang ke muka.

“Tapi sebelum kalian mulai, aku masih satu peringatan pada kalian! Jika kalian semua berjanji mau hidup menjadi orang baik-baik, menghentikan kerja sebagai bajak laut, niscaya aku ampuni jiwa kalian!” Seorang bajak berbadan tegap yang cuma memakai celana dan berbadan penuh bulu meludah ke tanah!

“Jangan mengigau pemuda keparat!” semprotnya.

“Tubuhmu akan tercincang lumat!” Wiro Sableng tertawa dan keluarkan siulan dari sela bibirnya.

“Pulau ini Pulau Seribu Maut! Berat kalian yang keras-keras kepala akan mati dalam seribu cara! Majulah!” Si dada berbulu memandang berkeliling. “Kawan-kawan! Mari berebut pahala menghabiskan nyawa busuk manusia edan ini!”

Habis berkata begitu dia keluarkan suara melengking hebat dan enam puluh manusia laksana lingkaran air bah datang menyerang ! Wiro membentak dahsyat. Pulau itu serasa bergoncang, liangliang telinga laksana ditusuk! Meskipun hati tergetar namun keenam puluh bajak itu terus juga menyerang! Puluhan senjata berserabutan!

“Manusia-manusia tolol! Pergilah!” teriak Wiro Sableng. Kedua tangannya diputar di atas kepala, demikian cepatnya laksana titiran. Dari kedua telapak tangan Pendekar 212 menderu-deru angin dahsyat. Pasir beterbangan, daun-daun pepohonan luruh gugur! Sembilan belas bajak laut yang paling muka merasakan tubuh mereka seperti ditahan oleh dinding keras yang tak dapat dilihat mata. Kejut mereka bukan main. Dan belum lagi habis kejut itu Wiro tiba-tiba membentak sekali lagi!

Kesembilan belas orang bajak laut itu berpelantingan laksana daun kering disapu angin! Pukulan yang dikeluarkan Pendekar 212 tadi adalah pukulan angin puyuh! Bajak-bajak yang lain dengan kalap melompat ke muka dan babatkan senjata masing-masing. Wiro Sableng membentak lagi. Dan belasan bajak kembali terpelanting! Suasana menjadi kacau balau kini. Mereka berteriak-teriak tapi tak berani maju ke muka sekalipun saat itu Wiro sudah hentikan pukulan angin puyuhnya!

“Kenapa pada teriak-teriak macam monyet terbakar ekor?!” tanya Wiro mengejek. “Ayo majulah. Bukankah kalian mau mencincang aku?!”

Mendadak Pendekar 212 mendengar suara beradunya senjata dan suara seruan Sekar. Sewaktu dipalingkannya kepalanya, Wiro masih sempat melihat bagaimana pedang hitam ditangan Bagaspati berhasil memapas putus Rantai Petaka Besi yang menjadi senjata Sekar. Pedang hitam itu kemudian laksana kilat membabat ke perut si gadis.

Sekar tak punya kesempatan mengelak karena saat itu perhatiannya telah terpukau oleh putusnya senjatanya serta rasa sakit yang menjalari lengan kanannya akibat beradu senjata tadi! Pranajaya yang melihat bahaya itu dengan kalap dan dengan tangan kosong lepaskan pukulan angin sewu ke arah Bagaspati. Tapi tiada guna.

Babatan pedang Bagaspati datang terlalu cepat dan Bagaspati sendiri masih sempat putar pedang Ekasakti di tangan kirinya untuk melindungi dirinya dari pukulan angin sewu itu! Satu jari lagi pedang hitam di tangan kanan Bagaspati akan merobek perut dan membusaikan usus Sekar maka dari samping menderu selarik sinar putuh yang dahsyat! Demikian dahsyatnya sehingga Bagaspati terpaksa tarik pulang tangan kanannya dan melompat ke belakang beberapa tombak!

“Wuss!”

Pukulan sinar matahari menggebu di depan hidung pemimpin bajak laut itu! Mata Bagaspati kelihatan tambah besar dan tambah merah tapi air mukanya pucat pasi! Dia sadar terlambat sedikit saja dia metompat tadi pastilah dia akan konyol dilanda sinar putih pukulan lawan! Kemarahan Bagaspati tiada terkirakan. Lebih-lebih melihat belasan anak buahnya bergeletakan pingsan di mana-mana dan yang masih hidup berdiri dengan muka pucat di tempat masing-masing, sama sekali tidak menyerang atau mengeroyok Wiro Sableng!

“Keparat! Kenapa kalian melongo semua?! Lekas bereskan setan alas yang satu ini!” Anggota-anggota bajak laut itu bimbang seketika. Namun karena ngeri pada kemarahan serta hukuman yang kelak bakal mereka terima dari pimpinan merta, dua puluh orang diantaranya segera maju dan serentak menyerang.

“Manusia tolol! Kalian minta mampus saja!” teriak Wiro. Dengan serta merta dia pukulkan tangan kirinya. Sinar putih untuk kesekian kalinya menderu. Dan pukulan sinar matahari yang sekali ini meminta korban enam belas jiwa bajak-bajak laut itu. Pekik maut terdengar di mana-mana!

“Siapa yang mau mampus dan ikut perintah Bagaspati silahkan maju!” teriak Wiro.

Tak satu anggota bajak pun yang bergerak di tempatnya. Jangankan bergerak, berdiri pun lutut mereka sudah goyah! Sementara Bagaspati berpikir-pikir pukulan apakah yang telah dilepaskan Wiro Sableng, maka si pendekar dari Gunung Gede ini palingkan kepalanya pada pemimpin bajak laut itu.

“Bagaspati, jika kau berjanji akan mengembalikan Cambuk Api Angin, dan berjanji membubarkan gerombolan bajak yang kau pimpin selama ini lalu kembali jadi manusia baik-baik, masih belum terlambat bagimu untuk kuberi ampun!” Bagaspati tertawa mengejek.

“Kepongahanmu setinggi gunung!” jawabnya.

“Meski ilmumu setinggi langit seluas lautan, Bagaspati tak akan sudi menyerah padamu kecuali kalau kau yang terlebih dulu serahkan jiwa padaku!”

Wiro Sableng bersiul dan tertawa gelak-gelak. “Kau bisa juga bersyair Bagaspati. Kalau betul-betul hatimu sekeras batu tidak mempunyai kesadaran, kelak kau terpaksa bersyair di neraka! Silahkan mulai!”

“Cabut senjatamu setan alas!” bentak Bagaspati.

“Ini senjataku Bagaspati!” Wiro acungkan kedua tangannya.

“Kalau begitu aku akan mampus penasaran!” Bagaspati lemparkan pedang Ekasakti yang di tangan kirinya. Pedang mustika milik Prana itu menderu laksana kilat ke arahnya. Wiro miringkan kepalanya sedikit. Pedang putih lewat di sampingnya dan menancap di batang pohon kelapa! Prana cepat mengambilnya.

“Wiro, biar aku yang bikin perhitungan dengan manusia ini!”

“Ah, kau tak usah mengotori tangan dengan darah manusia maling ini, Prana,” kata Wiro pula dengan suara keras lantang.

Prana sadar bahwa Wiro telah menolongnya dari satu kedudukan yang merugikan. Dia tahu bahwa dia tak bakal sanggup menghadapi Bagaspati. Dengan berkata demikian Wiro bukan saja telah menolongnya tapi sekaligus membuat dia tidak kehilangan muka sama sekali!

“Ayo seranglah!” teriak Wiro ketika Bagaspati masih dilihatnya berdiri tak bergerak.

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (18)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (16)

 Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

“Saudara, yang manakah Pulau Seribu Maut?” bertanya laki-laki muda yang bertangan buntung. Baik Warana maupun nelayan yang satu lagi hanya terduduk bermuka pucat dalam perahu mereka tanpa bisa membuka mutut. Wiro memandang keheranan, juga Sekar.

“Hai, apa kalian tak dengar orang bertanya?!” seru Wiro Sableng. Warana membuka mulut tapi tak ada suara yang ke luar.

“Kalian seperti orang yang ketakutan!” ujar Wiro.

Prana juga melihat bayangan ketakutan itu pada wajah kedua nelayan tersebut. Dia tak tahu apa sebabnya dan dia tak mau perduli. Dia bertanya lagi. “Di mana letak Pulau Seribu Maut?!”

“Saudara-saudara… apa kalian… kalian…” Warana tak berani meneruskan ucapannya. Ketika dilihatnya kawannya mencelupkan pendayung segera dilakukannya hal yang sama. Perahu mereka segera bergerak tapi kemudian terhenti dengan tiba-tiba.

Kedua nelayan itu pergunakan seluruh tenaga untuk mendayung namun tetap saja perahunya hanya mengapung dan sedikitpun tak bisa bergerak. Ternyata Wiro Sableng telah memegang ujung belakang perahu mereka dan semakin menjadi-jadilah takut kedua orang itu. Mereka berteriak-teriak dan lari sana lari sini dalam perahu mereka. Ikan-ikan yang berhasil mereka tangkap berhamburan kembali ke dalam laut!

“Nelayan-nelayan geblek! Apa kalian sudah gila semua teriak-teriak tak karuan?!” bentak Wiro.

“Tolong! Tolong…!” teriak Warana. Kawannya meniru berteriak macam itu pula.

“Saudara-saudara kami bukan rampok atau bajak!” seru Pranajaya.

Wiro garuk-garuk kepalanya dan melangkah kehadapan Warana. “Keblinger betul! Orang tanya Pulau Seribu Maut kenapa jadi teriak-teriak minta tolong?!”

“Tolong jin laut! Tolong…!”

Wiro, Prana dan Sekar saling berpandangan. Sekar kemudian berbisik pada Prana,
“Keduanya menyangka kita jin laut…!” Wiro Sableng menjambak rambut Warana dan menepuk-nepuk pipi nelayan ini.

“Kau kira kami ini bukannya manusia apa?! Sompret! Kami manusia-manusia macam kau saudara! Ayo jawab kenapa kalian teriak-teriak dan di mana letak Pulau Seribu Maut?!” Dijambak demikian rupa Warana semakin memperkeras teriakannya.

“Manusia tak berguna pergilah!” sentak Wiro Sableng seraya melepaskan jambakannya. Begitu dilepas begitu Warana sambar pendayung dan bersama kawannya mengayuh cepat meninggalkan rakit itu.

Meledaklah tertawa ketiga orang itu sewaktu Sekar berkata, “Tentu saja, mana mereka mau percaya bahwa kita adalah manusiamanusia seperti mereka. Tak ada orang yang berakit di laut dan dengan kecepat laksana angin!” Wiro seka kedua matanya yang basah oleh air mata karena tertawa itu. Dia memandang berkeliling dan tarik nafas dalam.

“Agaknya tak ada satu manusiapun yang bisa kasih keterangan di mana letak Pulau itu…” kata Wiro.

“Kita musti cari sampai dapat!” Prana kertakkan rahang. Wiro memandang pada Sekar. Gadis itu dilihatnya memandang ke arah utara tanpa berkedip.

“Apa yang kau perhatikan?” tanya Wiro. Sekar tak menjawab dan dia masih memandang kejurusan utara itu. Wira putar kepala mengikuti pandangan Sekar. Jauh di tengah laut lepas di lihatnya dua buah pulau yang besarnya dipemandangan mata mereka cuma sebesar ujung jari kelingking saja.

“Bagaimana kalau kita arahkan rakit kita ke sana?” mengusulkan Sekar. Wiro dan Prana saling pandang dan sama menyetujui. Dan rakit itupun menggebulah di atas air laut yang muncrat di belah bagian muka rakit. Detik demi detik kedua pulau itu semakin dekat juga.

“Salah satu dari pulau-pulau itu banyak elang elang lautnya Wiro,” kata Prana. Wiro Sableng memandang pada pulau yang sebelah kanan. Di atas pulau itu memang keiihatan banyak beterbangan burung-burung.

“Itu bukan burung elang, Prana. Tapi gagak hitam pemakan mayat!” seru Wiro tiba-tiba ketika, matanya yang tajam dapat mengenal burung-burung itu. Prana pelototkan mata.

“Sekar, putar kemudi ke arah pulau itu!” kata Prana. Dan sesaat kemudian rakit itupun meluncur berputar ke arah pulau yang sebelah kanan. Semakin dekat semakin jelas keadaan pulau itu. Beberapa buah perahu besar dan kapal kelihatan berada di sekitar teluk yang sempit.

“Hai benda apa itu?!” mendadak sontak Sekar berseru. Wiro dan Prana berpaling ke arah yang ditunjuk Sekar. Sebuah benda hitam yang sangat besar.meluncur pesat ke arah mereka.

“Ikan raksasa!” seru Sekar pula. Wiro Sableng memandang tak berkesip. Benda hitam besar itu memang seperti kepala seekor ikan. Tapi bukan ikan betul-betul. Wiro masih coba meneliti dengan seksama ketika tiba-tiba sekali benda itu lenyap dari permukaan air.

“Aku merasa tidak enak,” desis Prana.

“Kita musti waspada,” kata Wiro. Baru saja dia habis berkata begini tahu-tahu benda hitam yang luar biasa besarnya itu sudah muncul dihadapan rakit mereka. Bagian tengahnya laksana seekor buaya raksasa membuka dan “plup” sekaligus menelan rakit serta ketiga penumpangnya!

“Celaka!” seru Prana. Tapi suaranya lenyap ditelan katupan yang menutup. Wiro mernukul lengan tinjunya kian ke mari. Terdengar suara bergetar tapi aapa yang dipukulnya itu sama sekali tidak hancur!

“Gila, apa-apa ini!” teriak Pendekar 212.

Dia tak bisa melihat Sekar ataupun Prana. Ruang di mana mereka terkurung sangat gelap bahkan tangan di depan matapun tidak kelihatan. Pendekar 212 keluarkan Kapak Naga Geni dan batu hitam untuk membuat penerangan. Namun sebelum tangannya menyentuh senjata sakti itu tiba-tiba terdengar suara mendesis. Sekejap kelihatan sinar biru.

Prana dan Sekar berseru lalu terdengar suara jatuhnya tubuh kedua orang itu! Sinar biru Ienyap. Wiro yakin itu adalah hawa beracun yang telah disemprotkan ke dalam ruangan gelap itu. Kepalanya terasa pusing dan pemandangannya tak karuan. Dia seperti melihat ribuan bintang begemerlap, seperti melihat tali-tali yang melingkar-lingkar berkilauan dan menusuk-nusuk ke arah matanya.

Pendekar 212 segera kerahkan tenaga dalam dan tutup semua inderanya. Satu menit kemudian dia berhasil menolak hawa beracun itu lalu dengan cepat keluarkan dua butir pil dan dengan merangkak dia berhasil mencari tubuh Sekar dan Prana lalu memasukkan pil anti racun ke dalam mulut keduanya. Mendadak terdengar suara berkereketan dan ruangan itu di mana Wiro berada seperti dihamparkan. Kemudian sebuah pintu terbuka. Pendekar 212 segera jatuhkan diri diantara tubuh Prana dan Sekar. Saat itu keduanya sudah mulai sadar.

Wiro segera membisiki, “Berbuatlah pura-pura pingsan terus! Jangan lakukan apa-apa sebelum kuberi tanda!” Terdengar lagi suara berkereketan kemudian tubuh mereka terasa menggelindung dan jatuh di atas pasir yang panas dihangati oleh sinar matahari. Perlahan-lahan Wiro Sableng buka ke dua matanya.

Saat itu terdengar suara seseorang tertawa bergelak. “Surengwilis! Jadi inikah manusia-manusianya yang katamu kasak kusuk cari keterangan tentang pulau kita?!”

“Betul pemimpin!” terdengar jawaban seseorang. Wiro Sableng membuka matanya lebih lebar.

Dan dihadapannya, beberapa tombak jauhnya dilihatnya antara belasan manusia-manusia berbadan tegap, berdiri seorang laki-laki yang luar biasa tinggi dan besar badannya. Menurut taksiran Wiro manusia ini mungkin lebih dua meter tingginya!

Tampangnya beringas buas dan amat menyeramkan, ditutupi oleh berewok yang lebat dan berangasan! Sepasang matanya besar dan merah. Hidung juga besar tapi picak. Dia mengenakan jubah hitam bergaris-garis putih. Di pingggangnya tergantung sebilah pedang panjang. Yang menarik perhatian Wiro ialah tengkorak kepala manusia yang menjadi kalung dan tergantung di leher laki-laki ini.

“Hem…” si tinggi besar berkalung tengkorak manusia itu menggumam. Dia memandeng berkeliling, “Apa ada di antara kalian yang kenal pada mereka?!”

Tak ada suara jawaban.

“Kalau begitu mereka adalah manusia-manusia tidak berguna!” ujar si tinggi besar.
“Penggal kepala kedua laki-laki itu! Yang perempuan biarkan hidup! Dia cukup bagus untuk disuruh menari telanjang malam ini dan tidur bersamaku!”

Beberapa kaki kelihatan melangkah kehadapan ketiga orang itu. Wiro berbisik pada kedua-kawannya, “Sekarang, sobat-sobat!”

Maka ketiga manusia yang berpura-pura pingsan itu segera melompat dari tanah di mana mereka menggeletak!

~ 15 ~

KEJUT semua orang yang ada di situ bukan kepalang! Tapi anehnya si tinggi kekar malah keluarkan suara tertawa mengkeh.

“Ha... ha! Kalian kira mataku bisa ditipu huh?!” Sadarlah Wiro dan kawan-kawannya bahwa ucapan si tinggi kekar memerintahkan anak-anak buahnya untuk memenggal kepala mereka adalah pancingan belaka. Pendekar 212 menggerendeng dalam hati.

“Sebelum kalian mati kuharap kalian mau kasih keterangan,” berkata si tinggi besar yang berjubah hitam bergaris-garis putih. Tangan kanannya ditekankan ke ujung gagang pedang.

“Ada keperluan apa kau mencari tempat ini?!”

“Apakah ini Pulau Seribu Maut?!” balas menanya Pranajaya. Si tinggi kekar tertawa lagi.

“Kalian memang sudah berada di Pulau yang kalian cari! Pulau di mana kalian akan melepas nyawa masing-masing?” Tersiraplah darah Prana dan Sekar. Pendekar 212 tetap tenangtenang saja. Prana memandang lekat-lekat pada si tinggi kekar.

“Aku mencari manusia bernama Bagaspati. Apakah kau orangnya!”

“Setan alas! Kowe berani sebut nama pemimpin kami seenak perutmu! Terima mampus!” Satu hardikan datang dari samping dan satu sambaran angin menderu ke arah leher Prana. Pemuda ini cepat-pepat menyingkir ke samping. Ujung sebilah kelewang menderu di muka hidungnya!

“Tahan!” seru laki-laki bertubuh tinggi kekar. Orang yang tadi menyerang dengan kelewang bersurut mundur. Si tinggi kekar pelototkan mata pada Pranajaya.

“Manusia tangan buntung!” katanya, “aku memang Bagaspati! Menyebut namaku berarti mati! Tapi kau masih punya waktu untuk memberi keterangan ada keperluan apa kau dan kawan-kawanmu mencari pulau kami!”

“Kedatanganku atas tugas guruku!”

“Hem… aku sudah duga bahwa kau dan kawan-kawanmu manusia-manusia dari dunia persilatan! Terangkan apa tugasmu dan siapa gurumu!” ujar si tinggi besar Bagaspati.

“Aku diperintahkan untuk mengambi! Cambuk Api Angin yang telah kau curi dari guruku!” Bagaimanapun Bagaspati menekan rasa terkejutnya namun pada air mukanya jelas kelihatan perubahan.

“Apakah kau muridnya Empu Blorok?!” tanyanya membentak. Prana anggukkan kepala.

“Mana cambuk itu?! Lekas serahkan padaku!” Meledaklah tertawa bekakan Bagaspati. Tanah yang dipijak bergetar saking hebatnya suara tertawa yang disertai tenaga dalam itu.

“Nyalimu sungguh besar tangan buntung!” kata Bagaspati seraya melangkah kehadapan Prana.

“Sreet!”

Tiba-tiba Bagaspati cabut pedang panjangnya. Senjata ini berwarna hitam legam bersinar yang menggidikkan. Dia hentikan langkahnya dua tombak dihadapan Prana lalu membentak, “Lekas sebut kau punya nama! Aku tak biasa membunuh manusia dunia persilatan tanpa tahu namanya!” Sebagai jawaban Pranajaya cabut pula pedang Ekasaktinya. Sinar putih berkilau ke luar dari senjata mustika itu.

“Aku datang hanya untuk mengambil Cambuk Api Angin. Kalau kau menghadapinya dengap kekerasan tak ada jalan lain daripada menabas batang lehermu!”

“Bedebah sontoloyo!” teriak Bagaspati marah. Pedang hitamnya berkelebat ganas, menderu ke arah tubuh Pranajaya, sekaligus merupakan tiga buah serangan berantai yang dahsyat!

Murid Empu Blorok tidak tinggal diam. Prana segera kiblatkan senjatanya. Pedang putih dan pedang hitam beradu mengeluarkan suara keras dan memercikkan bunga api! Terdengar seruan Prana. Pedang Ekasakti terlepas dan mental dari tangannya. Sekejap kemudian senjata itu sudah berada di tangan kiri Bagaspati!

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (17)

Kamis, 22 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (15)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

“Wiro belum kembali?” tanya gadis itu.

“Belum,” sahut Prana. Hatinya menciut. Sekar lebih banyak memperhatikan seorang lain yang tak ada di situ daripada kehadiran dirinya di sampingnya di atas batu itu. Dan Prana sendiri tidak tahu ke mana pula Wiro pergi. Dua malam yang lalupun pemuda itu selalu pergi tanpa memberi tahu ke mana. Seakan-akan kepergiannya itu merupakan hal yang disengaja.

Pranajaya berdehem beberapa kali untuk menghilangkan sekatan yang menyesakkan lehernya. Dipandanginya paras jelita Sekar dari samping. Betapa indahnya paras itu dipandang dibawah naungan malam yang disinari bulan sabit dan bintang gumintang.

“Kau masih belum memberikan jawaban apa-apa atas ucapanku malam pertama yang lalu, Sekar…” berkata Pranajaya. Suaranya sekali ini tiada bernada ditelan sendiri oleh gema gemetar suaranya itu. Sekar memandang ke hulu sungai lalu menundukkan kepalanya.

“Apakah tak akan pernah ada balasan?” tanya Pranajaya. Si gadis memandang lagi ke hulu sungai lalu membuka mulut, “Dalam perjalanan ini bukan persoalan cinta yang musti dipikirkan Prana…”

Suara Sekar pelahan, hampir seperti berbisik namun begitu mengiang telinga Pranajaya kedengarannya Paras pemuda ini membeku merah. Ditundukkannya kepalanya.

“Kurasa bukan di situ sesungguhnya dasar jawabanmu, Sekar,” ujar pemuda itu pula.

“Lalu….?”

“Kau mencintai dia…?” tanya Prana seberani mungkin.

“Dia siapa?”

“Tak usah berpura-pura…” Sekar memandang pemuda itu sebentar.

“Maksudmu Wiro?” tanyanya. Si pemuda anggukkan kepala. Sekar tertawa.

“Suara tertawamu aneh, Sekar,” bisik Pranajaya.

“Seolah-olah membenarkan pertanyaanku tadi.” Sekar diam.

“Aku memang bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Wiro…”

“Kau tak usah cemburu Prana”

“Terus terang saja dalam persoalan ini aku cemburu padanya. Aku iri,” kata Pranajaya dengan hati laki-laki.

“Tapi kecemburuan dan iri hatiku itu tidak menyebabkan aku menjadi buta atau lupa diri atau mempunyai maksud yang buruk-buruk terhadap kalian berdua. Aku cemburu dan iri pada Wiro, tapi aku menghormati dan menghargainya sebagai seorang sahabat. Sebagai seorang manusia kepada siapa aku berhutang budi serta nyawa. Bahkan lebih dari itu aku mengganggap Wiro bukan orang lain, tapi sudah sebagai saudara kandung sendiri…”

Sekar masih diam dan Pranajaya meneruskan ucapan-ucapannya.

“Aku menyadari kenyataan Sekar. Kenyataan bahwa aku bukan apa-apa jika dibandingkan dengan dia. Ilmunya tinggi, parasnya gagah dan jasmaninya tidak mempunyai cacat apa-apa. Yang lebih utama dia adalah seorang laki-laki berhati jantan, luhur dan kudus… Jika kau mau berterus terang Sekar, aku tak akan membuka-buka lagi persoalan ini. Aku akan lebih bahagia dan bangga jika kalian bisa hidup berdua dan berbahagia…”

“Antara aku dan Wiro tak ada hubungan apa-apa, Prana,” memotong Sekar.
“Tak sepantasnya kau bicara sampai sejauh itu.”

Pranajaya memandang ke langit di atasnya. Diperhatikannya bulan sabit dan dia berkata. “Mungkin, tapi kau tak bisa menipu dirimu sendiri! Sekar. Kau tak bisa mendustai kata hatimu. Kau mencintai dia…..”

Sekar tundukkan kepalanya memperhatikan jari-jari kakinya yang mungil bagus. “Aku tak ingin membicarakan persoalan ini lebih lanjut, Prana.”

“Jadi tak ada jawaban darimu? Tak ada jawaban berarti suatu penolakan Sekar…”

Sepi menyeling. Pranajaya menunggu sampai beberapa lamanya. Dipandanginya paras Sekar seketika. Dan bila tak ada juga jawaban dari gadis itu maka Prana memutar tubuh dan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu. Sekar memalingkan kepalanya. Di pandanginya tubuh yang berjalan itu, dipandanginya kaki yang melangkah itu, dipandanginya kepala yang tertunduk itu dan dipandanginya tangan kiri yang buntung itu. Hati gadis ini memukul-mukul. Suaranya serak parau sewaktu mulutnya mernanggil, “Prana…”

Panggilan itu laksana satu kekuatan gaib yang membuat kedua kaki Pranajaya berhenti melangkah dan tubuhnya berhenti berjalan. Si pemuda palingkan kepala. Diantara keputus-asaan yang menyelimuti wajahnya di malam sejuk itu kelihatan sekelumit pengharapan. Dan matanya memandang sayu pada si gadis, menunggu ucapan selanjutnya.

“Prana…”

“Ya, Sekar…”

“Bersediakan kau menunda pembicaraanmu ini sampai berakhirnya tugasmu di Pulau Seribu Maut nanti…?”

Si pemuda.merenung sejenak. Lalu jawabnya, “Aku bersedia Sekar meski aku tahu mungkin tak ada harapan sama~sekali bagiku…”

“Mungkin yang orang duga tak selalu mungkin pada kenyataan, Prana,” kata Sekar.

Pranajaya murid Empu Blorok coba merenungkan ucapan gadis itu. Kemudian sekelumit senyum tersungging dibibirnya.

“Kuharapkan saja demikian, Sekar,” kata Prana. Lalu ditinggalkannya tempat itu.

~ 14 ~

DI PAGI HARI yang kesembilan ketiga orang itu kelihatan berdiri di tepi pantai di ujung, timur pulau Jawa. Di laut kelihatan gugusan pulau-pulau. Ada yang berkelompok-kelompok, ada yang terpisah menyendiri. Perahu-perahu nelayan kelihatan di manamana. Angin dari laut bertiup, melambai-lambaikan rambut serta pakaian mereka.

Pranajaya menunjuk ke sebuah teluk sempit dan berkata, “Di situ ada perkampungan nelayan. Kita bisa mencari keterangan di mana letak Pulau Seribu Maut dan sekalipun menyewa perahu serta membeli perbekalan.”

Wiro mengangguk.

Ketiganya segera menuju ke perkampungan itu. Seorang nelayan tua mereka temui tengah memperbaiki jala di teluk itu. Prana menyalaminya lalu bertanya, “Bapak, yang manakah di antara pulau-pulau di tengah laut sana yang bernama Pulau Seribu Maut?” Pertahan-lahan nelayan tua, itu mengangkat kepalanya dan membuka topi pandannya. Dipandanginya Pranajaya, lalu Wiro dan Sekar.

“Kau bertanyakan Pulau Seribu Maut, nak?” ujar nelayan tua ini. Prana mengangguk.

“Kalau tak tahu jelasnya kira-kira saja,” berkata Wiro. Si nelayan hela nafas dalam.

“Umurku enam puluh tahun, nak. Dan hari inilah baru kudengar ada seorang yang bertanya di mana letak Pulau Seribu Maut.” Nelayan itu hela nafas dalam sekali lagi.
“Apakah kalian hendak menuju ke sana?”

“Betul,” sahut Prana.

Mata yang sudah agak mengabur di mana umur dari nelayan tua itu memperhatikan ketiga manusia itu dengan lebih teliti.

“Kalian tentunya orang-orang dunia persilatan. Tidak heran kalau kalian bernyali menanyakan letak pulau itu. Urusan apakah gerangan yang membawa kalian begitu berniat meriuju ke sana?”

“Ah tak ada apa-apa, pak. Cuma kepingin tahu saja,” jawab Prana.

Si nelayan tertawa. “Kepingin tahu dan menemui kematian di sana…? Nak, dengar… hanya manusia-manusaa yang mau lekaslekas mati saja yang berhajat pergi ke Pulau Seribu Maut…”

“Namanya memang menyeramkan,” kata Wiro sambil usap-usap dagu.

“Tapi sebetulnya ada kehebatan apakah di sana sampai pulau itu demikian ditakuti orang-orang?”

“Ah, kalian bukan orang-orang sini. Kalian tidak tahu, Nak…. di situ bersarang gerombolan bajak laut yang dipimpin oleh seorang bernama Bagaspati. Setiap perahu atau kapal yang lewat di selat Madura ini pasti dirampok, manusia-manusianya dibunuhi. Kampungku inipun tak urung menjadi korban kejahatan Bagaspati dan anak buahnya. Perempuan-perempuan kami diambil dan dibawa ke Pulau Seribu Maut. Satu kali seminggu kami musti menyiapkan dan memberikan bahan-bahan makanan kepada mereka. Kami tak bisa berbuat apa-apa nak. Kalau melawan berarti mati…”

“Kenapa tidak pindah ke kampung lain?” tanya Sekar.

“Lebih berabe lagi!” jawab si nelayan.

“Kalau kami berani pergi dari sini, semua penghuni kampung dari yang kecil sampai tua macamku ini akan dibunuh! Begitu Bagaspati mengancam…”

“Pernah berhadapan muka dengan manusia Bagaspati itu?” tanya Prana.

“Pernah dan pernah ditampar. Tiga hari aku tak bisa meninggalkan tempat tidur karena masih pening di landa tamparannya.”

Wiro Sableng mengulum senyum. Diperhatikannya beberapa buah perahu yang berada di tepi pantai itu.

“Perahu-perahu bapak?” tanya Wiro. Si nelayan mengangguk.

“Bisa kami sewa sebuah?”

“Untuk pergi ke Pulau Seribu Maut?!”

“Ya.” Nelayan tua geleng-gelengkan kepalanya.

“Aku memang sudah tua dan hampir masuk liang kubur. Tapi walau bagaimanapun aku tak mau cari urusan yang bisa mempercepat kematianku! Tak ada satu orangpun yang akan mau menyewakan perahunya ke Pulau Seribu Maut. Tak ada satu pemilik perahupun yang akan mengantarkan kalian ke sana. Pulau Seribu Maut adalah pulau kematian!”

“Kalau begitu bapak terangkan saja letaknya.”

“Tidak bisa, nak… tidak bisa…” Si nelayan lalu cepat-cepat meninggalkan ketiga orang itu. Yang ditinggalkan saling berpandangan lalu pergi ke pusat kampung. Dan sebagaimana yang dikatakan nelayan tua tadi, tak ada seorang pemilik perahu pun yang mau menyewakan perahunya, apalagi mengantar mereka ke Pulau Seribu Maut. Juga ketiganya tak berhasil mencari keterangan di mana kira-kira letak pulau angker tersebut.

“Penduduk di sini sialan semua!” gerutu Wiro Sableng.

“Pada mati ketakutan! Kurasa mencari dan pergi ke tempat seorang puteri cantik tidak sesukar ini! Cuma mencari Kepala bajak saja begini susah! Geblek!”

“Kita tak bisa salahkan penduduk Wiro,” ujar Prana.

“Kalau begini kita terpaksa bikin perahu sendiri atau rakit!” kata Wiro mengalih pembicaraan. Prana mengangguk.

“Rakit kurasa lebih baik daripada perahu. Ombak di selat ini cukup besar…”

Menjelang tengah hari maka di tengah laut lepas di selat Madura itu kelihatanlah sebuah rakit yang laksana “terbang” memecah gelombang air laut, melaju dalam kecepatan yang luar biasa, semakin lama semakin jauh dari pantai ! Beberapa nelayan yang perahu mereka kebetulan dilewati oleh rakit itu tersentak kaget. Mereka hampir-hampir tak dapat mempercayai pandangan mata mereka.

Apakah mereka telah mengimpi di siang bolong yang panas terik itu atau telah melihat jin-jin laut gentayangan di depan mereka?! Betapakan tidak! Tiga orang mereka lihat berada di atas rakit itu. Satu diantaranya gadis cantik jelita.

Meski ombak tidak besar tapi untuk mengarungi lautan dalam kecepatan yang demikian rupa dan dengan sebuah rakit pula benar-benar mustahil, benar-benar tak bisa mereka percaya! Dan yang lebih tidak dapat mereka percayai ialah karena dua orang pemuda yang ada di atas rakit itu mempergunakan tangan-tangan mereka sebagai pendayung yang membuat rakit tersebut laksana terbang!

“Jangan-jangan jin-jin laut yang kita lihat ini, Warana,” kata seorang nelayan pada kawannya yang berada dalam sebuah perahu jauh dimuka rakit itu. Dia dan kawannya sama-sama mengusap mata berkalikali.

“Hai, lihat! Mereka menuju ke sini!” seru Warana.

“Celaka kita! Kayuh yang cepat Warana sebelum jin-jin laut itu datang mencekik kita!” Warana dan kawannya segera menyambar pendayung. Tapi belum lagi kedua kayu pandayung mereka mencelup ke dalam air laut, rakit yang berisi tiga manusia itu sudah berhenti dihadapan mereka! Paras kedua nelayan itu pucat pasi. Meski yang mereka lihat adalah benar-benar manusia, namun rasa tak percaya tetap membuat mereka menyangka bawa tiga manusia di atas rakit itu adalah jin-jin laut yang datang menganggu mereka!

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (16)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (14)

 Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

Gonggoseta meraung-raung dan bergulingan di tanah, kemudian tubuhnya tak bergerak-gerak lagi tanda nyawanya lepas sudah! Kehebatan pukulan sinar matahari yang dilepaskan Wiro tidak saja hanya meminta korban jiwanya Gonggoseta tapi juga seperti tadi, diseberang sana terdengar lagi pekik kematian enam orang prajurit yang tersambar pukulan sinar matahari!

Keenamnya laksana daun-daun kering disambar angin keras, berpelantingan dan mati seketika itu juga! Meski dalam keadaan tangan terluka parah, bahkan kalau tidak hati-hati tangannya sendiri bisa tersambar pukulan sinar matahari namun dengan susah payah akhirnya Pranajaya berhasil juga menyambut dua butir pil yang dilemparkan Wiro. Obat itu segera ditelannya dan yang satu lagi dimasukkannya dengan cepat ke dalam mulut Sekar.

Melihat kematian kawan mereka yang ke empat itu semakin meluaplah kemarahan dan dendam maut tokoh-tokoh silat lainnya yaitu Si Telinga Arit Sakti, Cindur Rampe, Cakar Iblis serta Si Janggut Biru. Keempatnya mengurung Wiro dengan rapat. Tongkat besi Si Janggut Biru laksana taburan hujan menderu-deru menyambar ke seluruh tubuh Pendekar 212.

Kuku-kuku jari Si Cakar Iblis yang mengandung racun yang sangat dahsyat tiada hentinya mencari sasaran dibagianbagian tubuh Wiro yang berbahaya. Arit ditangan Si Telinga Arit Sakti berkelebat cepat memapas kian kemari sedang Cindur Rampe tiada hentinya lepaskan pukulan ireng weliung yang mendatangkan angin dahsyat berwarna hitam dan beracun!

Dan bagaimana keempat tokoh-tokoh silat utama ini tidak menjadi dibikin tambah mengkal karena semua serangan maut mereka itu sampai sepuluh jurus di muka masih belum sanggup merubuhkan Pendekar 212. Jangankan merubuhkan, untuk melukai sedikit saja salah satu bagian tubuh murid Eyang Sinto Gendeng itupun mereka tiada sanggup!

Dan lebih membuat mereka penasaran betul ialah karena dari mulut Pendekar 212 tiada hentinya ke luar suara siulan yang sekali-sekali diselingi oleh suara tertawa bernada mengejek! Pil yang diberikan oleh Wiro Sableng kepada Prana memang mengandung khasiat yang luar biasa. Obat itu Eyang Sinto Gendeng sendiri yang meramunya.

Pada waktu pertempuran di jurus ke sepuluh berkecamuk hebat-hebatnya maka Prana mulai merasakan keadaan tubuhnya puluh kembali. Lukanya tiada terasa sakit lagi dan darah yang mengucur berhenti. Ketika dia berpaling pada Sekar, dilihatnya gadis itu membuka kedua matanya dan menggerakkan kepala.

“Prana, lekas tinggalkan tempat ini! Bawa Sekar!” berseru lagi Wiro. Pranajaya mengambil pedang Ekasakti yang tercampak di tanah lalu berdiri. Apa yang dilakukannya bukanlah mengikuti ucapan Wiro melainkan terus menyerbu ke dalam kalangan pertempuran!

“Pemuda tolol!” damprat Wiro.

“Disuruh selamatkan diri malah bertempur!” Prana tidak berkata apa-apa melainkan terus babatkan pedangnya ke arah Cakar Iblis di sebelah kiri Wiro. Kalau sendiri tadi empat tokoh silat Istana itu tiada sanggup menghadapi Wiro maka ditambah dengan munculnya Pranajaya kini keempat tokoh silat itu menjadi terdesak total!

Tubuh keempatnya terbungkus sinar pedang dan sinar kapak dan agaknya pertahanan mereka itu tak akan berjalan lebih lama. Dalam waktu singkat pasti sekurang-kurangnya salah seorang dari mereka akan menjadi korban lagi!

“Tahan! Hentikan pertempuran ini!” teriak Cindur Rampe seraya melompat ke luar dari kalangan. Sejak mulanya dia memang tak mau ikut-ikutan membela kematian Tiga Setan Darah karena antara dia dengan Tiga Setan Darah sendiri mempunyai perselisihan yang belum terselesaikan.

Namun karena tak ingin dicap pengecut terpaksa juga Cindur Rampe pergi bersama yang lain-lainnya itu untuk membuat perhitungan dengan Wiro dan kawan-kawannya.

“Apa maumu Cindur Rampe?!” tanya Wiro dengan melintangkan kapak di muka dada sementara Sekar saat itu sudah berdiri di sampingnya dengan Rantai Petaka Bumi di tangan kanan.

“Antara kami dan kalian tak ada permusuhan. Karenanya tak perlu pertempuran gila ini diteruskan…!” Wiro tertawa tawar.

“Tadi pun aku sudah bilang! Tapi kalian semua tidak mau dengar! Sayang empat orang kawan kalian sudah melayang jiwanya!” Cindur Rampe berpaling pada kawan-kawannya dan memberi isyarat untuk berlalu. Si Janggut Biru sudah hendak mengikuti Cindur Rampe tapi tak jadi kaena saat itu terdengar bentakan Si Telinga Arit Sakti.

“Cindur Rampe resi keparat! Apakah nyalimu sepengecut begini?! Apa kau relakan begitu saja empat kawan kita menemui kematian ?!” Paras Cindur Rampe menjadi merah.

“Perempuan edan!” balasnya membentak, “jangan bicara seenak perutmu! Kalau kau dan yang lain-lainnya mau meneruskan pertempuran ini, silahkan! Kalian mencari mampus!” Cindur Rampe langkahkan kedua kakinya.

“Kalau begitu biar kau yang mampus lebih dulu pengecut!” teriak Telinga Arit Sakti dan perempuan ini segera melabrak Cindur Rampe. Kedua orang itupun terlibatlah dalam satu pertempuran seru.

Wiro tertawa rnengekeh. Dia berpaling pada Prana dan Sekar, “Kawan-kawan mari kita tinggalkan tempat ini,” katanya.

“Biar saja mereka baku hantam satu sama lain!”

“Kalian tak akan berlalu dari sini tikus-tikus keparat!” Wiro putar kepala. Yang membentak adalah Si Cakar Iblis. Tubuhnya merunduk, kedua tangannya yang berkuku-kuku panjang diulurkan ke muka. Di sampingnya Si Janggut Biru berdiri dengan hati bimbang, apakah akan berlalu dari situ atau meneruskan lagi pertempuran.

Cakar Iblis menggerung dahsyat! Sepuluh kuku jari tangannya rnengeluarkan sinar hitam dan sedetik kemudian sepuluh sinar hitam itu mencurah ke arah Wiro. Pendekar 212 sabetkan Kapak Naga Geni ke muka. Sepuluh larikan sinar hitam buyar tapi di lain kejapan sepuluh kuku-kuku jari Si Cakar Iblis tahu-tahu sudah berada di depan muka Pendekar 212! Wiro Sableng terkejut sekali dan menyurut kebelakang! Sepuluh kuku hitam itu memburu laksana kilat!

Dan terdengar kekeh Si Cakar Iblis, “Kau tak akan bisa selamatkan jiwamu dari jurus sepuluh ular berbisa berebut buah ini!” katanya.

Wiro memaki Dia melompat ke belakang tapi secepat lompatannya itu begitu pula cepatnya sepuluh kuku itu memburunya lagi.

“Mampuslah!” teriak Si Cakar Iblis dan kedua tangannya laksana kilat menggapai ke muka Pendekar 212. Terdengar satu jeritan! Pendekar 212 usap parasnya dan memperhatikan bagaimana Si Cakar Iblis berdiri terhuyung-huyung! Kedua lengannya terpapas buntung dilanda mata kapak di tangan Wiro dalam satu jurus serangan balasan yang amat luar biasa hebatnya!

“Manusia keparat… maki Si Cakar Iblis. Darah memancur dari kedua pergelangan tangannya.

“Sekalipun kau menang, jiwamu tidak akan aman! Aku akan mampus dan akan jadi setan! Akan mencekik batang lehermu…”

“Sialan! Sudah mau mati masih omong besar!” damprat Wiro Sableng. Sekali kaki kanannya bergerak maka mentallah Si Cakar Iblis ! Wiro berpaling pada Si Janggut Biru.

“Bagaimana? Mau coba-coba rasanya mampus sobat?!” tanya Wiro pula. Si Janggut Biru meludah ke tanah. Tanpa berkata apa-apa segera ditinggalkannya tempat itu. Wiro memandang pada Si Telinga Arit Sakti yang tengah bertempur hebat dengan Cindur Rampe.

“Bertempurlah terus sampai salah seorang dari kalian mampus!” seru Wiro. Lalu dengan cepat bersama Sekar dan Prana dia berlalu dari situ. Tak satu prajurit kerajaanpun yang berani dan bernyali menghalangi mereka!

Sementara itu Si Telinga Arit Sakti berteriak keras, “Cindur Rampe! Hentikan pertempuran ini! Kita harus kejar ketiga bangsat itu!”

Cindur Rampe melompat mundur.

“Aku masih mau hidup Arit Sakti!” kata Cindur Rampe pula.

“Kalau kau mau mengejar mereka silahkan!” Cindur Rampe berkelebat meninggalkan tempat itu.

Si Telinga Arit Sakti memaki habis-habisan. Bila dia tinggal seorang diri dan menyaksikan lima mayat kawan-kawannya yang menggeletak mati di halaman gedung itu, diam-diam dia pun merasa kecut dan menyadari bahwa seorang diri tak akan ada gunanya dia mengejar ketiga manusia itu. Akhirnya perempuan sakti ini berkelebat dan lenyap kejurusan timur!

~ 13 ~

WAKTU mereka menghentikan lari masing-masing, ketiganya telah berada jauh di luar Kotaraja. Mereka saling pandang dan Wiro membuka pembicaraan dengan senyum di bibir.

“Sobat-sobat, ke mana kita sekarang?” Sekar tidak memberikan jawaban. Pranajaya memperhatikah paras gadis ini sebentar lalu berkata, “Aku akan terus ke timur. Ke Pulau Seribu Maut, mencari Cambuk Api Angin milik guruku yang telah dilarikan oleh Bagaspati!”

Wiro manggut-manggut. Dia merenung sejenak lalu berkata, “Pulau Seribu Maut, Cambuk Api Angin. Bagaspati... nama-nama yang hebat. Perjalananmu ke ujung Jawa Timur pasti merupakan suatu hal yang menarik. Saudara Prana, kau keberatan bila aku ikut bersamamu…?” Pranajaya berseru gembira.

“Memang itu yang aku harapharapkan Wiro. Jalan jauh banyak dilihat, kawan seiring sukar didapat!” Wiro Sableng tertawa.

“Bagaimana dengan kau Sekar?” tanya murid Eyang Sinto Gendeng itu. Prana memandang lekat-lekat pada gadis itu. Di balik pandangannya itu tersembunyi suatu perasaan kecemasan. Dan perasaan itu semakin jelas kelihatan sewaktu Wiro berkata, “Kau musti kembali ke tempat gurumu….” Tapi si gadis justru gelengkan kepala.

“Aku ikut bersamamu… bersama kalian…” kata Sekar. Wiro Sableng kerenyitkan kening.

“Pengalamanmu di Kotaraja kurasa cukup memberikan gambaran bagaimana penuhnya dunia ini dengan seribu satu macam bahaya dan kejahatan! Perjalanan ke Pulau Seribu Maut pasti lebih berbahaya dari pengalamanmu di Kotaraja.”

“Apakah kau terlalu menganggap aku ini orang perempuan bangsa kurcaci yang takut segala macam bahaya?!” tukas Sekar. Wiro berpaling pada Pranajaya yang sampai saat itu masih memandang pada Sekar.

“Dia memang pintar omong!” kata Wiro pula.

“Adatnya keras. Mautnya dia musti maunya juga! Urusan laki-laki mau disamakan dengan urusan perempuan….”

“Sudah!” potong Sekar seraya membalikkan badan memunggungi kedua pemuda itu. Wiro Sableng tertawa dan garuk-garuk kepalanya.

“Yang aku khawatirkan,” kata Pendekar 212 pula, “kalau-kalau gurumu kelak akan salah sangka dan menduga kami yang menjebloskan kau ke dalam persoalan rumit penuh bahaya ini!”

“Soal guruku itu soalku dengan beliau. Yang penting sekarang kita sama-sama pergi ke Pulau Seribu Maut. Apa aku sebagai orang persilatan tidak boleh mencari pengalaman?”

“Tentu saja boleh” sahut Wiro sementara Pranajaya sampai saat itu tak sepatah pun membuka mulut selain memandang seperti tadi-tadi pada Sekar.

“Tapi sekarang belum saatnya,” menyambungi Wiro.

“Kau tak berhak melarangku Wiro. Siapapun tak berhak melarang ke mana aku mau pergi…!”

“Berabe! Berabe!” ujar Wiro Sableng.

“Bagaimana Prana, kita ajak dia…?” Pranajaya angkat bahu.

“Terserah padamu, Wiro.” Wiro Sableng tarik dan hembuskan nafas panjang. “Baik Sekar, kau boleh ikut bersama kami! Tapi ingat, kalau terjadi apa-apa dengan kau dan kami tak sanggup- menolongmu, jangan kelak menyesalkan kami berdua…!”

Maka tak lama kemudian ketiga orang itupun kelihatan berkelebat dan dengan mengeluarkan ilmu lari masing-masing mereka tinggalkan tempat itu dengan sangat cepat.

***

MALAM itu malam yang ketiga bagi rombongan yang terdiri dari tiga orang itu dalam perjalanan mereka menuju Pulau Seribu Maut di ujung timur pulau Jawa. Mereka berhenti di tepi sebuah anak sungai berair jernih. Langit bersih kebiruan. Bintang-bintang bertaburan dan bulan sabit memperindah suasana malam yang sejuk itu.

Pranajaya memasukkan empat potong kayu kering ke dalam api unggun lalu melangkah perlahan ke tepi sungai. Di lihatnya gadis itu duduk di sebuah batu besar, tengah melamun seorang diri. Prana datang mendekat. Untuk beberapa lamanya tidak satupun dari mereka yang bicara. Si pemuda memandang ke langit lepas. Dia mendapat bahan untuk membuka pembicaraan, “Bagus betul malam yang sekali ini.”

Sekar memandang ke atas, memperhatikan bulan sabit dan bintang-bintang yang bertaburan lalu menganggukkan kepalanya.

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (15)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (13)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

Pendekar 212 Wiro Sableng memandang sebentar pada Sekar dan Pranajaya lalu kemba ia palingkan muka menghadapi Gonggoseta. Dan disaat itu Gonggoseta kembali membentak, “Kalian hanya diberi kesempatan untuk menerangkan nama masing-masing agar tidak mampus secara penasaran!”

Wiro Sableng mengulum senyum dan buka mulut dengan suara lunak, “Ah, rasa-rasanya kami yang disebutkan tikus-tikus bermuka manusia ini tidak mempunyai permusuhan dengan sobat-sobat semua.”

“Sompret!” semprot Gonggoseta.

“Jangan sebut kami sobat-sobatmu!” Wiro garuk-garuk kepala lalu manggut-manggut. “Lantaran apakah yang membuat kalian semua ingin jiwa kami?! Kenal pun baru hari ini!”

Gonggoseta tertawa melengking dan memandang pada kawan-kawannya. “Sobat-sobatku!” serunya, “kalian dengar omongan tikus gondrong itu?! Mereka tak ada permusuhan dengan kita! Tidak mengerti mengapa kita semua inginkan jiwa mereka! Cuah!” Gonggoseta meludah ke tanah! “Apa kalian masih belum tahu tengah berhadapan dengan siapa saat ini?!”

“Ah,” Wiro angkat bahu, “justru itu memang yang kami kepingin tahu!”

Gonggoseta kembali keluarkan tertawa melengking. “Aku Gonggoseta...” dia terangkan nama lalu satu demi satu menyebutkan nama atau gelar tujuh orang kawannya.

“Kami semua adalah tokoh-tokoh Istana, hulubalang-hulubalang Kerajaan!” Wiro Sableng manggut-manggut.

“Tidak disangka-sangka…” ujar pendekar ini.

“Setan alas, apa yang tidak kau sangka!” sentak Gonggoseta sementara kambrat-kambratnya yang lain tetap menunggu dengan tenang.

“Tidak disangka-sangka kalau hari ini kami akan bertemu dengan tokoh-tokoh silat Istana! Dengan tokoh-tokoh yang berjulukan hebat semua! Sungguh satu kehormatan bagi kami!” Gonggoseta tertawa melengking. Kawan-kawannya terdengar menggerendeng.

“Cuma kami belum tahu, urusan apakah yang membuat kalian semua inginkan jiwa kami?!” tanya Wiro.

“Tikus busuk! Jangan pura-pura tidak tahu! Kalian telah membunuh Setan Pikulan dan Tiga Setan Darah. Mereka adalah kawan-kawan kami!”

“Kalian salah sangka!” jawab Wiro cepat.

“Kami tidak membunuh Setan Pikulan…”

“Jangan jual kentut!” hardik Gonggoseta.

Wiro Sableng tertawa, “Siapa yang jual kentut!” jawabnya. “Kentut puteri yang paling cantik pun dijagat ini tak ada yang orang akan mau beli!”

Paras Gonggoseta dan tujuh kawannya menegang membesi. Ini adalah satu penghinaan! Mereka dipermain-mainkan! Di lain pihak Pranajaya menggigit bibir! Bagaimana Wiro masih bisa bergurau menghadapi bahaya macam begini?!

Pemuda bertangan buntung ini sudah sejak tadi-tadi mengeluh dalam hati. Dia ingat pesan gurunya. Kotaraja penuh dengan tokoh-tokoh silat berilmu tinggi. Berurusan dengan mereka berarti mati! Prana melirik pada Sekar. Gadis baju kuning ini dilihatnya juga berada dalam ketegangan. Gonggoseta maju lagi selangkah!

“Sret!”

Dari balik punggungnya manusia kepala besar ini cabut sebilah golok empat persegi panjang yang lebarnya satu setengah jengkal! Senjata ini berkilauan ditimpa sinar matahari sore!

“Sebut nama kalian masing-masing cepat! Atau kalian mampus penasaran!”

“Dengar Gonggoseta,” menyahuti Wiro Sableng.

“Kami tidak dusta, kami sama sekali tidak membunuh Setan Pikulan.”

“Jika bukan kalian lantas siapa?! Juga siapa yang membunuh Tiga Setan Darah di dalam sana?!” Wiro angkat bahu.

“Mana kami tahu,” jawabnya Dia memandang ke langit di sebelah barat.

“Gonggoseta, hari sudah sore. Matahari sebentar lagi mau tenggelam. Beri kami jalan. Sebaiknya kalian lekas mencari dan menyelidik siapa sebenarnya pembunuh kawan-kawanmu itu sebelum hari menjadi malam dan sebelum dia lari jauh…”

Tubuh Si Cakar Iblis kelihatan semakin membungkuk ke muka. Dari mulutnya terdengar suara menggerendeng. Lalu katanya, “Gonggoseta, kuku-kuku jariku sudah tak sabar untuk cepat-cepat mengkermus manusia-manusia keparat ini! Kita semua sudah tahu bahwa mereka yang menamatkan riwayat Tiga Setan Darah. Tunggu apa lagi?!”

Habis berkata begitu Si Cakar Iblis menggerendeng keras. Kedua tangannya yang berkuku panjang menyambar ke muka Wiro Sableng! Cepat-cepat Pendekar 212 melompat ke samping! Wiro maklum, walau bagaimanapun kini pertempuran tak dapat dihindarkan.

Tujuh orang tokoh-tokoh silat lainnya dilihatnya telah bergerak pula, masing-masing keluarkan senjata! Karenanya Pendekar 212 ini tidak sungkan-sungkan lagi! Tangan kiri menghantam ke muka ke arah Cakar Iblis sedang tangan kanan menyelinap mencabut Kapak Naga Geni 212 Sekar dan Prana tidak pula tinggal diam melainkan cabut Rantai Petaka Bumi dan Pedang Ekasakti!

Begitu serangannya luput, penuh penasaran Si Cakar Iblis balikkan badan dan kembali menyerang dengan jurus yang lebih hebat dari pertama tadi. Namun betapa kagetnya manusia ini sewaktu tubuhnya menjadi limbung disambar serangkum angin yang ke luar dari pukulan tangan kiri Wiro Sableng! Dua di antara tokoh-tokoh silat Istana itu yakni Si Telinga Arit Sakti dan Hantu Hitam Muka Putih berseru kaget sewaktu melihat senjata yang digenggam Wiro Sableng.

“Kapak Naga Geni 212!” seru mereka hampir bersamaan. Yang lain-lainnya tersentak kaget! Mereka belum pernah melihat senjata yang pernah menggegerkan dunia persilatan itu, cuma mendengar-dengar saja!

Sungguh tak dapat dipercaya kalau hari ini mereka menyaksikan senjata mustika sakti itu berada dalam tangan seorang pemuda berambut gondrong bertampang dogol anak-anak! Rasa heran tak percaya itu tidak berjalan lama dan berubah menjadi keterkejutan dan kemarahan yang amat sangat sewaktu Kapak Maut Naga Geni 212 berkiblat dan meminta korban pertama yaitu Si Picak Dari Utara!

Si Picak Dari Utara menjerit keras dan tubuh dengan dada mandi darah dihantam kapak sakti itu laksana ratusan tawon mengaung, anginnya menderu-deru sedang dari mulut Pendekar 212 mulai terdengar suara siulan yang diseling dengan suara tertawa aneh dan bentakan-bentakan!

Bila siulan itu terdengar, bila suara tertawa aneh menyeling inilah satu pertempuran besar yang dahsyat! Tubuhnya sudah lenyap ditelan kecepatan geraknya dan ditelan bayang-bayang gerakan tujuh pengeroyoknya. Sekar dan Pranajaya putar senjata masing-masing dan menghadapi tiga orang pengeroyok sementara Wiro yang berpunggung-punggungan dengan mereka menghadapi empat pengeroyok lainnya!

Lima puluh prajurit Kerajaan mengurung dalam bentuk lingkaran. Mereka memang sudah diberitahu untuk mengambil posisi demikian dan tidak turut menyerang!

“Rapatkan serangan!” teriak Gonggoseta karena sampai lima jurus di muka tak satupun yang sanggup mereka lakukan untuk membobolkan pertahanan ketiga orang pendekar itu! Dalam jurus ketujuh Harimau Siluman mengurung persis macam harimau dan dari mulutnya mengepul asap tujuh warna yang mengerikan!

“Tutup jalan nafas!” teriak Wira memberi ingat. Sekar dan Pranajaya segera melakukan hal itu. Tapi Sekar terlambat. Hidungnya keburu menghendus hawa beracun asap tujuh warna itu. Tak ampun pemandangannya menjadi gelap dan tubuhnya melosoh gontai. Di saat itu Si Janggut Biru secepat kilat tusukkan tongkat besinya ke perut gadis itu

“Trang!”

Bunga api memercik!

Tusukan tongkat besi Si Janggut Biru terpapas ke samping karena dilanda badan pedang Ekasakti di tangan Pranajaya! Jurusjurus berikutnya semakin seru! Limapuluh prajurit hampir tak sanggup melihat dengan jelas gerakan-gerakan mereka yang bertempur itu saking cepatnya! Harimau Siluman masih juga mengeluarkan asap beracunnya dari mulut.

Penasaran sekali Wiro Sableng berteriak, “Harimau Siluman, silahkan makan asapmu sendiri!” Habis berkata begitu Wiro pukulkan tangan kirinya. Pukulan angin puyuh yang dikerahkan dengan setengah bagian tenaga dalam itu hebatnya bukan main. Asap tujuh warna yang dihembuskan Harimau Siluman menjadi buyar berantakan untuk kemudian menyerang pemiliknya sendiri! Harimau Siluman menggerung.

Tubuhnya jatuh duduk di tanah, hidung dan mulut serta matanya mengeluarkan darah akibat diterpa racun asap tujuh warna. Manusia ini keluarkan. sebutir pil penawar racun, tapi sebelum pil itu sempat ditelannya, racun asap tujuh warna sudah merambas ke jantung dan paru-parunya.

Tak ampun lagi Harimau Siluman menggeletak mati di tanah! Di saat yang sama Wiro Sableng mendengar suara jeritan Pranajaya! Ketika dia menoleh dilihatnya pemuda itu terhuyunghuyung dengan tangan terluka parah dihantam senjata berbentuk arit di tangan Si Telinga Arit Sakti!

“Mampuslah!” teriak Telinga Arit Sakti. Aritnya menyambar ke leher Prana yang saat itu sudah tak bersenjata lagi karena tadi telah terlepas sewaktu lengannya dihantam ujung arit! Prana jatuhkan diri. Dia selamat. Tapi sewaktu arit itu berkiblat membalik kembali, murid Empu Blorok ini tiada sanggup lagi menghindar.

Si Telinga Arit Sakti tertawa mengekeh.

“Wuss!”

Telinga Arit Sakti berseru kaget dan lompat tujuh tombak ke atas. Satu sinar putih telah melabrak ke arah tubuhnya. Panasnya bukan main dan menyilaukan mata. Belum lagi dia turun ke tanah disebelah sana sebelas orang prajurit Kerajaan terdengar menjerit dan rubuh ke tanah dengan tubuh hangus tiada nyawa!

“Pukulan Sinar Matahari!” teriak Si Telinga Arit Sakti. Mukanya masih pucat. Yang lain-lainnya juga mendadak sontak menjadi ngeri!

“Pemuda keparat, apakah kau murldnya Si Sinto Gendeng?!” bentak Hantu Hitam Muka Putih!

“Tanya pada penjaga neraka!” jawab Pendekar 212. Sekali Kapak Naga Geni di tangannya berkelebat maka terdengarlah pekik Hantu Hitam Muka Putih! Kepalanya hampir terbelah dua. Mukanya yang dicat putih kini menjadi merah ditelan noda darah! Tubuhnya angsrok saat itu juga ke tanah!

Gonggoseta menerjang kalap. Golok empat seginya yang amat besar itu membabat empat kali berturut-turut!

Sambil mengelak gesit Wiro berteriak, “Prana, bawa Sekar dari sini! Tunggu aku di tepi telaga di luar Kotaraja. Cepat!”

“Tidak mungkin, Wiro…” jawab Prana. “Aku tak sanggup melakukannya. Racun arit perempuan keparat itu telah menyesakkan nafas dan melemahkan sekujur badanku! Sekar sendiri entah masih hidup entah tidak….”

Pendekar 212 kertakkan rahang. Dia melirik pada tubuh Sekar yang melingkar di tantah dan putar Kapak Naga Geninya untuk menerabas serangan tongkat Si Janggut Biru dan cakar maut Si Cakar Iblis!

Meski cuma melirik sekilas namun mata Wiro Sableng yang tajam masih bisa memastikan bahwa Sekar saat itu masih bernafas, cuma keadaannya memang kritis akibat telah mencium asap beracun yang dihembuskan oleh Harimau Siluman. Dengan tangan kirinya Wiro cepat mengambil dua butir pil dari balik pakaian putihnya.

“Prana!” serunya.

“Lekas telah pil ini dan berikan satu kepada Sekar.”

Melihat ini Gonggoseta segera berusaha untuk menghalang! Dua butir pil yang melesat ke arah Prana hendak ditendangnya dengan kaki kanan namun tangan kiri Wiro Sableng bergerak lebih cepat ke arah manusia pendek berkepala besar ini. Selarik sinar menyilaukan menyambar Gonggoseta!

“Pukulan sinar matahari!” seri Si Telinga Arit Sakti.

“Gonggoseta, lekas lompat menghindar!” memperingatkan perempuan sakti ini. Mendengar peringatan itu dan maklum akan kehebatan pukulan sinar matahari yang tadi sudah disaksikannya sendiri. Gonggoseta cepat menghindar ke samping, namun terlambat! Kaki kanannya kurang lekas ditarik pulang! Terdengar lolongan Gonggoseta, Kaki kanannya itu melepuh hangus dan mengeluarkan asap sewaktu dilanda pukulan sinar matahari.

Tubuhnya terpelanting tiga tombak. Dikerahkannya tenaga dalamnya, dikeluarkannya sejenis obat untuk menolak luka besar dan rangsangan racun yang menjalar dari kaki kanannya! Namun semua itu sia-sia. Tak satu kekuatan apapun agaknya yang sanggup mengobati kakinya yang hangus, tak ada satu obat penawarpun yang sanggup memusnahkan racun pukulan sinar matahari!

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (14)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (12)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

Sambil kenakan jubahnya dengan cepat Setan Darah Pertama yang sebenarnya sudah semakin menciut nyalinya melihat kemunculan lawan baru ini, membentak keras, “Bagus sekali! Semua musuhmusuhku sudah lengkap di sini! Silahkan turun pemuda sedeng!”

“Mulutmu terlalu besar! Apakah kambrat-kambratmu yang dua orang lainnya juga ada di sini heh?!”

“Tak usah banyak mulut! Jika punya nyali silahkan turun. Kalau tidak lekas minggat dari sini!” Mendengar ini Wiro Sableng tertawa gelak-gelak. Penasaran sekali Setan Darah Pertama berteriak memancing.

“Kalau kau tak berani baku hantam di sini, aku masih bersedia melayanimu di halaman luar!”

“Bertempur di halaman luar lalu cari kesempatan untuk larikan diri lagi…?!” Wiro Sableng tertawa lagi gelak-gelak! Setan Darah Pertama mendamprat dalam hati karena pancingannya diketahui lawan. Agaknya dia tak punya kesempatan lain daripada harus menghadapi ketiga musuhmusuhnya itu atau sekurang-kurangnya salah seorang dari mereka!

Diam-diam Setan Darah Pertama salurkan seluruh tenaga dalamnya pada kedua ujung tangannya. Tiba-tiba dia membentak garang! Satu tangan meninju ke atas, tangan yang lain menjentik ke arah Pranajaya dan Sekar! Selarik besar sinar merah yang sangat panas menderu ke arah Pendekar 212 yang duduk ongkang-ongkang di atas atap kamar sedang lima larikan kecil sinar merah yang merupakan totokan-totokan beracun menyambar laksana kilat ke arah Sekar dan Pranajaya.

Sekar putar Rantai Petaka Bumi, Prana menghindar ke samping sambil kiblatkan sepasang tombak bermata dua milik Setan Darah Pertama! Di atas genteng Wiro kelihatan gerakkan tangan kirinya. Satu angin dingin menderu memapasi angin merah panas Setan Darah Pertama dan membuat buyar serangan manusia muka merah itu. Penuh beringas Setan Darah Pertama melompat ke atas dan menyerang dengan pedang Ekasakti milik Pranajaya!

Kini Wiro Sableng gerakkan tangan kanannya. Gumpalan angin keras menyambar ke arah Setan Darah Pertama. Inilah pukulan kunyuk melempar buah yang tak asing lagi dari Pendekar 212. Meski cuma mempergunakan setengah bagian saja dari tenaga dalamnya dalam melancarkan pukulan ini, namun tak urung Setan Darah Pertama terkejut hebat dan cepatcepat menyingkir ke samping dan kembali turun ke lantai.

Keringat dingin memercik di muka manusia yang berwarna merah itu. Nyalinya benar-benar menciut! Ilmu pukulan apakah yang dimiliki dan telah dilepaskan tadi oleh si pemuda di atas genteng itu yang demikian hebatnya sehingga dia tiada sanggup menerimanya?!

“Setan muka merah, apakah kau betul-betul tidak tahu di mana dua kambratmu yang lain berada?!” tanya Wiro Sableng dari atas. “Di mana mereka berada itu bukan urusanmu!” jawab Setan Darah Pertama keras sekedar untuk melenyapkan rasa bergidiknya. Wiro tertawa.

“Rupanya kau sendiri kurang begitu tahu. Biar aku tunjukkan di mana mereka berada!” kata Pendekar 212 pula. Kedua tangannya kelihatan ke luar dari lowongan genteng. Sesaat kemudian bila tangan itu bergerak turun maka dua sosok tubuh manusia berjubah merah laksana dua batang pisang melesat ke bawah, jatuh dengan keras di atas lantai kamar dihadapan Setan Darah Pertama!

Muka Setan Darah Pertama berubah pucat. Bulu kuduknya berdiri. Kedua kambratnya itu menggeletak di lantai dengan kepala pecah, darah dan otak bermuncratan! Sewaktu meninggalkan Pranajaya tadi, Wiro berhasil mencari keterangan di mana letak tempat kediaman Setan Pikulan. Karena lebih mengawatirkan keselamatan Sekar maka Pendekar 212 memutuskan lebih baik saat itu saja dia langsung ke tempat si Setan Pikulan.

Tapi apa yang ditemuinya di situ mengejutkannya. Setan Pikulan menggeletak di sebuah kamar! Kedua tangannya buntung putus. Manusia ini tiada bergerak-gerak tapi masih hidup megap-megap. Dalam berpikir-pikir apa yang telah terjadi dengan Setan Pikulan dan terus mencari di mana Sekar berada akhirnya dia mendobrak sebuah kamar dan menemui Setan Darah Kedua tengah merusak kehormatan dua orang perempuan muda!

“Setan alas benar!” teriak Wiro. Hanya dalam dua jurus saja Setan Darah Pertama dibikin tak berdaya di makan totokan Wiro. Mula-mula manusia ini tak mau menerangkan di mana kawannya yang lain berada tapi setelah dipaksa akhirnya Wiro mengetahui juga dan mendapatkan Setan Darah Ketiga di kamar sebelah, juga tengah merusak kehormatan dua orang perempuan muda!

Nasib Setan Darah Ketiga tidak beda dengan kawannya yang terdahulu. Satu jurus bertempur manusia ini segera kena ditotok oleh Wiro dan sekligus keduanya dibawa oleh Wiro ke gedung tua tempat kediaman Tiga Setan Darah. Kedatangannya di sana disambut oleh suasana yang tak terduga pula! Sekar dan Prana dilihatnya saling bertengkar sedang Setan Darah Pertama dalam keadaan telanjang bulat siap-siap hendak melarikan diri!

Untuk beberapa lamanya muka Setan Darah Pertama masih memucat dan kedua lututnya goyah menyaksikan kematian dua orang koleganya itu di muka hidungnya sendiri. Putus asa karena mengetahui tak ada jalan untuk lari serta kalap melihat kematian kawan-kawannya, maka Tiga Setan Darah Pertama kiblatkan pedang Ekasakti dan mengamuk menerabas Sekar serta Pranajaya! Maka pertempuran seru segera terjadi.

“Sekar sebaiknya kau mundur saja!” Wiro berseru dari atas genteng.

“Tidak bisa Wiro. Bangsat ini hampir saja merusak kehormatanku!” jawab Sekar seraya putar senjatanya dengan sebat.

“Aku mengerti. Tapi kau telah diselamatkan oleh Prana sedang Prana mempunyai dendam kesumat belasan tahun terhadap bangsat itu! Ayahnya dibunuh oleh Setan Darah Pertama itu!” Akhirnya Sekar mengalah juga dan ke luar dari kalangan pertempuran. Keputusasaan, kekalapan dan nyali yang telah melumer itulah yang bersarang di diri Setan Darah Pertama.

Laksana banteng terluka manusia berjubah merah ini mengamuk hebat dan ganas sekali. Serangan-serangannya berbahaya dan penuh tipu-tipu licik. Namun itu semua tiada arti bagi Pranajaya yang menghadapi musuhnya itu dengan hati panas pula tapi kepala dingin penuh ketenangan ! Sembilan belas jurus berlalu cepat. Wiro bersiul-siul seenaknya.

“Pertempuran hebat!” seru pemuda dari gunung Gede itu.

“Ayo Prana! Lawanmu sudah mulai kewalahan! Satu dua jurus di muka pasti senjata milik iblis yang ditanganmu itu akan merenggut nyawanya!” Apa yang dikatakan Pendekar 212 menjadi kenyataan.

Dalam jurus keduapuluh satu laksana seorang penari Pranajaya meliuk mengelakkan sambaran pedang Ekasakti yang dibabatkan Setan Darah Pertama kepinggangnya. Pedang itu membalik lagi dengan ganasnya. Prana geser kedua kaki dan tusukkan sekaligus kedua tombak yang dalam genggamannya ke muka Setan Darah Pertama. Iblis bermuka merah ini rundukkan kepala!

Tapi tusukan tadi cuma tipu belaka, karena begitu pedang lawan lewat dan tusukan tombaknya tersorong ke muka dengan serta merta Pranajaya gebukkan sepasang tombak itu ke kepala Setan Darah Pertama! Setan Darah Pertama melompat ke samping! Tapi betapapun cepatnya dia tetap terlambat. Meski bisa selamatkan kepala namun dia tak sanggup menghindarkan bahunya dari hantaman senjata miliknya sendiri itu!

“Kraak!”

Tulang bahu Setan Darah Pertama yang sebelah kanan hancur remuk! Setan Darah Pertama melolong macam anjing! Tubuhnya miring dan terjerongkang ke lantai.

Dalam keadaan seperti itu dia masih hendak menyapukan pedang di tangan kanannya ke kaki Prana, tapi senjata itu terlepas dari tangannya yang sudah tak ada daya kekuatan lagi! Empat mata tombak ditekankan oleh Pranajaya ke batang leher Setan Darah Pertama. Tenggorokan manusia muka merah ini kelihatan turun naik. Muka nya mengerenyit dan keringat membasahi sekujur tubuhnya.

“Setan Darah!” desis Pranajaya.

“Apa kau masih ingat saat-saat sewaktu kau membunuh ayahku dulu?! Apa kau masih ingat sewaktu tangan kiriku ini kau buntungkan dulu?!”

“Orang muda..,” ujar Setan Darah Pertama, “kasihani diriku yang buruk ini! Kalau kau ampunkan jiwaku, kelak aku akan berikan hadiah besar serta jabatan tinggi di Istana!” Prana tertawa. Wiro Sableng mengekeh.

“Jangan dengar mulut kentut iblis itu, Prana!” memperingatkan Wiro. Pranajaya mengangguk.

“Manusia macam dia siapa yang mau percaya!” menyahuti pemuda bertangan buntung itu. Prana lemparkan ke samping dua tombak milik Setan Darah Pertama dan membungkuk cepat mengambil pedangnya! Setan Darah Pertama gerakkan tubuhnya sedikit tapi ujung pedang kini menggantikan empat mata tombak yang menekan batang lehernya!

“Apa yang dulu kau lakukan terhadap bapakku, kini akan kau rasakan sendiri, Setan Darah!”

“Craas!”

Setan Darah Pertama meraung setinggi langit. Pedang Ekasakti membabat buntung mengerikan! Setan Darah Pertama melejanglejang! Dia berteriak, “Bunuh aku! Bunuh saja segera !”

“Rupanya kunyuk muka merah itu tidak takut mampus, Prana!” ejek Wiro dari atas genteng.

“Ya, karena dia akan ketemu dengan setan-setan yang jadi kambrat-kambratnya di neraka!” sahut Pranajaya. Kemudian dengan tak ampun lagi pemuda itu tusukkan ujung pedangnya ke batang leher Setan Darah Pertama. Manusia ini mengeluarkan suara seperti ayam disembelih. Tubuhnya masih melejang-lejang beberapa lama kemudian diam tak bergerak-gerak lagi tanda nyawanya sudah lepas meninggalkan tubuh!

“Sobat-sobat, urusan kita di sini sudah selesai. Mari segera tinggalkan tempat sialan ini!” seru Wiro Sableng. Sekar dan Prana saling berpandangan sebentar, kemudian si gadis melompat ke atas genteng disusul oleh Pranajaya. Namun baru saja ketiga orang itu sampai di halaman luar, terkejutlah mereka.

Kira-kira lima puluh orang prajurit Kerajaan telah mengurung tempat itu dan delapan manusia aneh berdiri memencar, memandang dengan pandangan yang menggidikkan ke arah mereka. Salah seorang dari yang delapan ini berteriak. Suaranya melengking macam perempuan.

“Tikus-tikus bermuka manusia! Jangan harap kalian bisa berlalu hidup-hidup dari sini!”

~ 12 ~

MANUSIA yang berteriak itu adalah seorang laki-laki berkepala sangat besar dan botak tapi berbadan kecil dan pendek. Namanya Gonggoseta. Pandangannya bengis dan membayangkan maut! Pranajaya, Sekar dan Wiro Sableng memandang berkeliling memperhatikan manusia-manusia itu satu demi satu.

“Celaka sobat,” bisik Pranajaya.

“Mereka pastilah tokohtokoh silat kelas satu, orang-orangnya Istana!”

“Kita memang lagi sialan,” gerendeng Pendekar 212. Sepasang matanya dengan tenang menyapu delapan sosok tubuh manusia-manusia aneh yang terpencar mengurung mereka.

Orang kedua sesudah Gonggoseta ialah seorang kakek-kakek yang hanya mengenakan cawat dan keseluruhan tubuhnya mulai, dari kaki sampai ke muka dicoreng moreng dengan sejenis cat berbagai warna. Tampangnya mengerikan untuk dipandang. Namanya Bagulpraksa tapi dia lebih dikenal dengan julukan Harimau Siluman.

Manusia ketiga bernama Sangaji, bertubuh tinggi langsing kurus dan berjanggut biru. Di dunia persilatan dia dikenal dengan gelar Si Janggut Biru.

Yang keempat, yang berdiri di ujung kanan sendirian agak terpisah dari lain-lainnya ialah seorang neneknenek tua keriput bertelinga lebar. Telinganya yang lebar ini membuyut ke bawah dan kelihatan jadi tambah lebar karena diganduli oleh anting-anting aneh yang besar luar biasa dan berbentuk arit. Dia bukan lain tokoh silat Istana yang dikenal dengan nama julukan Si Telinga Arit Sakti.

Wiro sapukan pandangannya pada tokoh silat lain yang berada di sebelah kiri ini berdiri memencar empat orang lainnya. Yang pertama seorang laki-laki berjubah hitam tapi yang mukanya dicat putih sehingga tampangnya cukup menggidikkan untuk dipandang! Jika tidak salah menduga, menurut keterangan yang pernah didengar Pendekar 212 maka manusia ini adalah Hantu Hitam Muka Putih tokoh silat golongan hitam yang berhati sejahat iblis!

Orang yang selanjutnya berdiri dengan tubuh terbungkukbungkuk. Sepuluh kuku-kuku jarinya panjang sekali dan berwarna hitam legam. Dialah Si Cakar Iblis tokoh silat yang merajai daerah selatan Jawa Timur!

Manusia ke tujuh adalah satu-satunya marusia yang dikenal oleh Pranajaya yaitu Cindur Rampe manusia yang muncul sewaktu dia hendak diseret oleh Tiga Setan Darah ke Kotaraja beberapa waktu yang lalu! Cindur Rampe seorang resi kejam yang juga memelihara janggut kambing berwarna putih.

Manusia terakhir ialah seorang laki-laki bermata picak dan berambut panjang macam perempuan, digulung di atas kepala! Namanya tidak satu orangpun yang tahu. Dia dikenal dengan julukan Si Picak Dari Utara. Jelaslah bahwa ke delapan orang itu bukan manusiamanusia sembarangan. Ini segera diketahui oleh Wiro dan kawan-kawan.

Bagi mereka yang delapan ini lebih berbahaya dari lima puluh prajurit-prajurit Kerajaan yang mengurung halaman gedung itu! Si kepala besar badan kecil. pendek Gonggoseta maju selangkah kehadapan kehadapan ketiga orang itu dan membuka mulut lagi, “Kalian semua musti mampus di sini! Kalian dengar tikus-tikus bermuka manusia?!”

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (13)